Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ingin Wisata Gunung Kelud di Kediri Hidup lagi

Emilia Susanti • Selasa, 16 Desember 2025 | 08:00 WIB
Wisata alam Gunung Kelud.
Wisata alam Gunung Kelud.

KEDIRI, JP Radar Kediri - Dinamika destinasi wisata alam Gunung Kelud, memang, tidak bisa dipisahkan dari wisata penyangga. Dulu, wisatawan sering ‘ambil paket sekali jalan’. Mendatangi Gunung Kelud sekaligus ke Kampung Anggrek, Kampung Indian, atau Taman Agro Margomulyo. Meredupnya destinasi-destinasi itu juga berdampak pada menurunnya animo mengunjungi Gunung Kelud.

“Memang dengan penurunan orang naik ke Kelud juga pasti berdampak kepada kunjungan orang-orang ke tempat wisata lainnya yang dikelola swasta itu,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata dan Kabudayaan Kabupaten Kediri Mustika Prayitno Adi.

Tapi, Mustika menegaskan, Pemkab Kediri tak tinggal diam. Mereka berusaha mendongkrak tingkat kunjungan. Salah satunya  memperbaiki sarana dan prasarana.

Masih  menurut Mustika, banyak fasilitas yang rusak akibat erupsi terakhir. Seperti jalan dan rambu-rambunya, atau juga guardrail pembatas jurang. Selain itu, untuk alasan keamanan, akses ke kawah langsung dibatasi bagi kendaraan  pribadi. Hal ini juga menjadi pemicu penurunan pengunjung.

Strategi untuk menaikkan jumlah pengunjung adalah membangun aksesibilitas. Dimulai dengan memperbaiki jalan sepanjang 240 meter ke arah kawah. Proyek pembangunan jalan beton ini selesai Juni lalu. Sedangkan pengujung tahun ini akan mulai membangun tempat parkir motor di dekat kawah.

“Ke depan, dengan adanya fasilitas seperti jalan sudah diperbaiki, ada tempat parkir, ada toilet. Mungkin itu akan menambah kedatangan wisatawan lagi,” harap Mustika.

Pemkab juga tengah menggodok konsep dan aturan lanjutan setelah fasilitas itu ada. Termasuk regulasi kunjungan dan aturan yang memastikan keamanan wisatawan. Kajian itu akan disusun dengan melibatkan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.

“Masih perlu kajian yang akan kami bahas dengan pihak terkait seperti dishub terkait keamanan jalannya, kurangnya apa, memenuhi syarat tidak untuk wisatawan sampai naik (mendekati kawah). Karena faktor keselamatan pasti kami utamakan,” tandasnya.

Sementara itu, pengamat ekonomi Subagyo melihat fenomena sepinya pengunjung wisata-wisata Gunung Kelud dipicu beberapa hal. Di antaranya adalah kurangnya inovasi dan promosi. Baik wisata Gunung Kelud itu sendiri maupun wisata penyangganya.

"Mereka kurang berinovasi. Spotnya hanya foto-foto statis tanpa ada pembaharuan. Itu membuat orang jenuh," nilainya.

Sebenarnya banyak inovasi yang bisa dilakukan. Langkah pertama adalah mengenal siapa dulu sasaran pengunjungnya. Apakah anak-anak atau orang dewasa, laki-laki atau perempuan, dan sebagainya. Selanjutnya, pengelola wisata harus bisa melihat apa yang menjadi selera pengunjung. Sederhananya, mereka perlu memahami apa yang dibutuhkan dan disukai oleh pengunjung.

"Kalau pengunjungnya sasarannya adalah wisatawan muda, mereka kan lebih suka yang spot foto estetik, yang unik, yang bisa dibuat konten Instagram, Tiktok. Kemudian wahana yang berkonsep visual seperti jembatan kaca, nah semacam itu," jelasnya.

"Pesaing sekarang ini juga sudah banyak. Muncul wahana-wahana wisata baru yang mungkin lebih inovatif, yang lebih sesuai dengan apa yang dimaui pengunjung, masyarakat. Jika tidak mau berbenah ya akan kalah," lanjutnya.

Inovasi itu juga bisa dilakukan dalam hal promosi. Bisa dengan membuat konten di media sosial, menggandeng influencer, serta membuat event bersama komunitas. Tak kalah penting, pengelola wisata juga perlu bekerjasama dengan agen travel. Dalam hal promosi, Subagyo menekankan pengelola wisata harus agresif.

"Di samping itu, promosi juga harus dilakukan secara terpadu. Promosi terpadu itu mungkin dalam satu event itu bisa dimunculkan beberapa tempat wisata. Nah itu bisa difasilitasi oleh pemerintah juga," tambahnya.

Sementara itu, mengenai sepinya kunjungan wisata Gunung Kelud, Subagyo mengatakan pemerintah daerah harus memiliki master plan. Pemerintah tidak boleh hanya menawarkan wisata "Gunung Kelud" saja. Melainkan harus melengkapinya dengan penawaran menariknya. Misalnya menambahkan aspek edukasi tentang kawah, lalu melengkapinya dengan wisata kuliner.

"Apalagi di Kelud itu terkenal dengan nanasnya itukan? Jadi mungkin di situ ada nanas segar, terus olahan nanas juga. Jadi ada paket wisata terintegrasi ya. Terintegrasi itu ya artinya tidak hanya Kelud saja, jadi penopangnya juga ikut di dalamnya," terangnya.

Selanjutnya, dia menilai pemerintah juga harus rutin menggelar event di kawasan Gunung Kelud. Baik itu event tahunan atau bulanan. Mulai dari event musik, olahraga, budaya, dan sebagainya. Dengan kata lain, harus ada kolaborasi dengan berbagai pihak. Pasalnya, keberadaan event akan mendongkrak kunjungan wisatawan.

"Tentu ini juga akan menjadi branding-nya," tambahnya.

Tak kalah penting, adaya infrastruktur dan fasilitas penunjang juga menjadi pertimbangan pengunjung untuk mendatangi sebuah tempat wisata. Artinya, wisata Gunung Kelud harus memiliki tempat parkir yang memadai, toilet yang layak, tempat istirahat, dan sebagainya.

"Jadi harus ada revitalisasi," tekannya.

Untuk mendapatkan berita-  berita terkini   Jawa Pos   Radar Kediri  , silakan bergabung di saluran WhatsApp "  Radar Kediri  ". Caranya klik link join  saluran WhatsApp Radar Kediri.  Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : rekian
##wisata ##kabupaten kediri ##Tempat Wisata ##inovasi