Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Melihat Destinasi Wisata Penyangga di Gunung Kelud yang Dulu Pernah Hits, Ibaratnya Hidup Segan Mati pun Enggan

Emilia Susanti • Selasa, 16 Desember 2025 | 09:00 WIB
Wisata alam Gunung Kelud.
Wisata alam Gunung Kelud.

KEDIRI, JP Radar Kediri - Tempat-tempat seperti Taman Agro Margomulyo, Kampung Anggrek, dan Kampung Indian adalah wisata di kaki Gunung Kelud yang tersohor. Selalu dipadati pengunjung, terutama saat weekend. Tapi itu dulu, bertolak  belakang dengan saat ini yang justru sangat memprihatinkan.

Pandemi covid-19 membawa dampak besar bagi sektor wisata di Bumi Panjalu, Kabupaten Kediri. Terutama wisata alam Gunung Kelud. Pengunjung ikon tourism Kediri itu menurun drastis.

Imbasnya sangat dahsyat. Hingga membuat beberapa destinasi wisata di kaki Gunung Kelud pun mati. Baik yang dikelola swasta maupun badan usaha milik daerah (BUMD).

Sebenarnya, lima tahun sudah masa pandemi itu berlalu. Sayangnya, pengunjung yang dating untuk berwisata ke Gunung Kelud masih jauh dari harapan. Tak heran jika beberapa destinasi wisata di sekitar Gunung Kelud memilih tutup.

Salah satunya adalah Taman Agro Margomulyo. Tempat wisata ini milik PD Perkebunan Margomulya, BUMD milik Kabupaten Kediri. Saat ini kondisinya tak seperti taman lagi. Tak ada bunga-bunga bermekaran seperti dulu. Spot foto yang dulunya viral pun dibiarkan mangkrak. Tiang-tiang gazebo juga sudah berlumut. Rumput liar tumbuh subur.

Di sisi lain, sudah tidak ada lagi loket masuk. Petugas yang berjaga juga tidak ada. Apalagi pengunjung. Tentu saja nihil.

"Dampak covid itu pulihnya kan juga luar biasa untuk sektor pariwisata. Sebut saja untuk menghidupkan wisata di sekeliling kawasan Kelud ini semua relatif tidak jalan hari ini," kata Direktur Produksi PD Perkebunan Margomulyo Suroso.

Kondisi terkini Taman Agro Margomulyo.
Kondisi terkini Taman Agro Margomulyo.

Kunjungan wisatawan menurun drastis saat pandemi Covid-19 2020 silam. Praktis, pemasukan pun turut turun. Padahal ada biaya operasional yang harus dikeluarkan secara rutin untuk pemeliharaan taman. Salah satunya untuk penyiraman tanaman. Wajar bila wajah Taman Agro Margomulyo menjadi seperti sekarang ini. Tidak terawat.

Menurutnya nasib tempat wisata pendukung masih bergantung dengan kunjungan wisatawan ke destinasi utama. Tidak lain adalah Gunung Kelud. Ketika kunjungan masyarakat ke Gunung Kelud turun maka tempat wisata penyangga turut mendapat imbasnya. Meskipun, daya pikat wisata Gunung Kelud juga akan turun bila tempat wisata pendukungnya tak hidup.

"Ini berkaitan. Jadi mungkin Kelud bisa hidup karena dukungan dan dukungan bisa hidup karena wisata inti, intinya sini Gunung Kelud. Saling mendukung," jelasnya.

Terlepas dari sepinya pengunjung, Suroso mengatakan pihaknya tidak tinggal diam atas kondisi Taman Agro Margomulyo. Saat ini dia mengklaim tengah berupaya menghidupkan lagi taman tersebut. Hanya saja dengan konsep baru. Tidak lagi mengandalkan tanaman bunga sebagai daya tariknya.

"Kami tetap agro ya, tetap taman. Ini nanti arahnya kepada tanaman hias yang jenis tanaman tahunan. Jadi untuk mengurangi cost pengeluaran air untuk siram. Kalau dulu kan bunga-bunga yang tiga bulanan sudah selesai. Ini nanti arahnya ke Bugenvil, arahnya ke sana," bebernya sembari menyebut pasokan air saat musim kemarau terbilang sulit.

Selanjutnya, pihaknya juga akan menanan tanaman buah. Mulai dari jambu, blimbing, dan lainnya. Rencana itu pun perlahan diwujudkan. Kini, pihaknya mulai melakukan pembersihan di area taman.

Selanjutnya, dia menyebut penataan pagar hidup juga sudah mulai dilakukan. Dalam hal ini, Suroso menekankan bahwa upaya menghidupkan taman ini membutuhkan proses yang panjang. Tak bisa instan.

"Karena untuk membuat suatu konsep yang istilahnya totalitas itu kan, ya, satu, waktu. Waktu dan biaya. Core bisnis kami kan di perkebunan, itu (taman, Red) sebagai usaha tambahan aja," tandasnya.

Kondisi Kampung Anggrek pasca pandemi Covid-19.
Kondisi Kampung Anggrek pasca pandemi Covid-19.

Tempat wisata pendukung lainnya mengalami nasib yang tak jauh berbeda dengan Taman Agro Margomulyo. Seperti wisata Kampung Aggrek. Salah satu destinasi yang dulunya juga sempat viral namun ambruk karena pandemi Covid-19.

"Kunjungan sangat jauh menurun. Saat ini jumlah kunjungannya tidak ada 10 persen dari sebelum covid. Dulu pada waktu 2017, 2018, 2019 awal, ketika Lebaran itu per hari delapan sampai sembilan ribu pengunjung. Di weekend, rata-ratanya dua sampai tiga ribu pengunjung," ungkap pengelola Taman Anggrek M. Iqbal.

Tak heran jika akhirnya dia menutup tempat wisata Kampung Anggrek tersebut. Per Juli 2025 lalu, pihaknya tidak lagi mengenakan tiket masuk. Ya karena pengunjungnya sangat sepi. Saat weekend saja, mungkin hanya lima sampai sepuluh pengunjung saja.

"Kampung Anggrek ini kan dulu ada kayak ada taman-taman supaya orang bisa jalan-jalan, ada kuliner. Setelah kondisi seperti ini udah ndak mampu membiayai untuk merawat agrowisatanya. Akhirnya kami tutup. Untuk ticketing wisata sudah kami tutup per Juli 2025. Ya kami (selama ini) bertahan tapi hanya di weekend saja, dan akhirnya per Juli kemarin kami tutup," jelasnya.

Bisa dibilang, Iqbal tidak menyerah pasca dihantam pandemi Covid-19. Selama ini, dia mengaku tetap melakukan promosi untuk meramaikan lagi tempat wisata Kampung Anggrek. Bahkan dirinya juga mendapatkan dukungan dari dinas terkait. Walau begitu, upaya yang dilakukan tetap belum bisa mengembalikan situasi sebelum pandemi.

"Ada event-event seperti Inu Kirana itu kan dibawa ke sini. Tetapi tetap nggak bisa. Karena euforianya sudah tidak sama dengan pada waktu kami bangun Kampung Anggrek. Dulu kan misinya sebagai wisata penyangga, kalau kami berdiri sendiri apalagi kalau posisinya di sini, orang mau ke sini kan butuh effort, mau ngapain?" dalihnya.

Namun demikian, aktivitas di Kampung Anggrek tidak sepenuhnya mati. Usaha intinya adalah budidaya anggrek. Sehingga aktivitas di laboratorium masih berjalan seperti biasanya.

Selain itu tanaman anggrek yang siap jual pun tersedia. Hanya saja, kondisi tamannya memang sangat mengenaskan. Tak ada lagi bunga-bunga di taman. Bahkan sebagian tanahnya terlihat gersang.

"Sekarang pengunjung boleh masuk, free, silakan kalau mau beli anggrek atau mau lihat-lihat free," tandasnya.

Serupa tapi tak sama, tempat wisaya Kampung Indian juga telah tutup. Di sana, tidak lagi penjualan tiket masuk. Siapapun boleh berkunjung. Namun demikian, masyarakat mungkin enggan untuk berfoto di tempat wisata ini. Bagaimana tidak. Pasalnya, kondisinya sudah tidak terawat. Fakta menariknya, telah dibangun dapur makan bergizi gratis (MBG) di tempat ini.

Lalu, bagaimana nasib destinasi utama di kawasan wisata Gunung Kelud? Memang, masih tetap beroperasi. Namun, jumlah wisatawan yang datang sangat jauh menurun dibanding sebelum pandemi.

Bukti paling sahih adalah yang dirasakan para pengojek. Penumpang mereka menurun drastis seiring menurunnya animo turis, baik lokal maupun domestik.

“Ramainya biasanya kalau hari libur, seperti Minggu. Itupun pengunjung banyak yang pilih jalan kaki (menuju kawah),” aku Saidi, tukang ojek di kawasan wisata Gunung Kelud.

Bagi pengunjung, tempat pemberhentian terakhir mereka adalah tempat parkir mobil. Jaraknya sekitar 6 kilometer dari gerbang masuk. Dari sini, bila ingin melihat eksotismenya kawah Gunung Kelud, pengunjung bisa menumpang ojek. Tarifnya 40 ribu per orang, pulang pergi.

Namun, seiring mulai dibangunnya jalan menuju kawah, berupa cor beton, banyak pengunjung memilih jalan kaki. Terutama mereka yang berusia muda.

Saidi, pengojek 65 tahun itu, mengatakan, di Minggu biasa dia paling mendapatkan lima orang penumpang. Seperti Minggu lalu itu. Beda ketika libur panjang seperti Natal dan Tahun Baru (Nataru), dia bisa mendapat penumpang lebih banyak.

Alasan sepinya pengunjung itu yang membuat Saidi memilih ngojek hanya di Minggu atau hari libur nasional. Sikap yang juga diambil pengojek lain.

“Kalau momen hari besar bisa 100 lebih (tukang ojek). Sekarang (Minggu, Red) paling cuma sekitar 50-an (tukang) ojek,” ungkap pria yang sehari-sehari bekerja di ladang ini.

Sepinya pengunjung juga diakui petugas wisata Gunung Kelud Purwanto. Rata-rata kunjungan wisatawan hanya tinggi selama momen libur panjang atau saat akhir pekan. Itupun, sejak pandemi Covid-19, tidak signifikan.

“Kunjungan sekarang memang tidak ramai seperti dulu. Dulu sebelum pandemi. Karena trennya memang agak menurun,” akunya ketika ditemui di lokasi wisata Gunung Kelud.

Rata-rata kunjungan di akhir pekan berkisar 800-an orang. Selama libur panjang seperti Nataru, terjadi peningkatan. Bisa mencapai seribu wisatawan. Namun, kondisinya tetap fluktuatif. Terlebih dengan kondisi cuaca yang tidak menentu seperti sekarang.

“Puncak kunjungan biasanya di tanggal 1 Januari. Malam sebelumnya biasanya kami ada pesta kembang api di malam pergantian tahun,” ucapnya, menyebut salah satu upaya menggaet wisatawan. (emilia susanti/ayu isma/fud)

Editor : rekian
#radar kediri #kabupaten kediri ##pandemi covid-19 #gunung kelud #tempat wisata di kediri ##gunung berapi ##pariwisata ##kabupaten kediri ##Tempat Wisata #kelud