Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kebutuhan Telur dan Ayam untuk MBG Ikut Mengerek Harga

Emilia Susanti • Selasa, 16 Desember 2025 | 11:00 WIB
Ilustrasi harga daging ayam dan telur ayam yang terkerek naik imbas program makan bergizi gratis (MBG).
Ilustrasi harga daging ayam dan telur ayam yang terkerek naik imbas program makan bergizi gratis (MBG).

KEDIRI, JP Radar Kediri - Pelaksanaan program makan bergizi gratis (MBG) yang kian masif di Kediri Raya, membuat komoditas yang dibutuhkan untuk membuat menu makanan bagi pelajar itu terdampak. Tak terkecuali daging ayam dan telur yang harganya terkerek naik.  

Hingga akhir November ini, sedikitnya ada 57 satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) di Kabupaten Kediri dan 28 SPPG di Kota Kediri yang beroperasi. Dengan asumsi tiap SPPG hanya tiga ribu paket makanan, sedikitnya dibutuhkan 8.500 ekor ayam untuk kabupaten dan 5.250 ekor ayam untuk Kota Kediri per harinya.

Jika diasumsikan SPPG melakukan 15 kali order saja setiap bulannya, dibutuhkan 87.250 ekor ayam hanya untuk MBG. Jumlah tersebut jika satu ekor ayam dipotong menjadi 16 bagian atau ukuran kecil. Jika satu ekor ayam dipotong ukuran sedang atau hanya 12 bagian, berarti jumlah ayam yang dibutuhkan lebih banyak lagi.

Demikian pula jika menggunakan lauk telur. Dalam sehari sedikitnya dibutuhkan 6.800 kilogram telur di Kabupaten Kediri. Sedangkan di Kota Kediri 4.200 kilogram. Asumsinya, satu kilogram telur berisi 20 butir atau ukuran sedang.

Lonjakan permintaan komoditas daging ayam dan telur itulah yang membuat harga terkerek naik pascapenerapan MBG. Apalagi, mayoritas lauk menggunakan bahan telur dan daging ayam. Jika biasanya harga telur di kisaran Rp 25 ribu, kini menjadi Rp 28 ribu per kilogram. “Kenaikan ini (telur ayam) karena dipicu MBG,” ungkap Joko Windoko, 62, pedagang di Pasar Setonobetek.

Tengara kenaikan harga telur akibat MBG ini menurut Joko berkaca pada pelaksanaan Program Keluarga Harapan (PKH) tahun lalu. Kala itu, Pemerintah membagikan telur dan sembako hingga harganya ikut melonjak hingga Rp 32 ribu per kilogram.

“Daging ayam malah sudah Rp 37 ribu per kilogram,” aku Taufik Taufan Akbar, pedagang daging ayam di Setonobetek. Sebelum masif pembagian MBG, harga ayam potong paling tinggi hanya menyentuh Rp 31 ribu per kilogram. Meski harga tinggi, dia mengaku bersyukur karena tidak sampai membuat pedagang kesulitan mencari daging ayam.

Tak hanya pedagang ayam potong dan telur saja yang pusing. Shendy Septiana juga ikut serbasalah dengan kenaikan harga dua komoditas itu. Pedagang makanan ini terpaksa menaikkan harga nasi lauk ayam di warungnya.

“Untuk lauk ayam naik seribu rupiah karena harga ayam potong sudah mahal,” tuturnya sembari menyebut harga daging ayam terkerek naik akibat tingginya permintaan untuk MBG.

Di sisi lain, tingginya permintaan ayam juga membuat harga day old chick (DOC) kian mahal. Apalagi, sejak awal Oktober lalu juga ada pembatasan. Sandi Bangun Purwanto, salah satu karyawan perusahaan ayam di Kediri menyebut, pembatasan dilakukan untuk jumlah penetasannya maupun distribusinya.

Pembatasan itu membuat harga DOC ikut terkerek. Jika normalnya hanya Rp 6 ribu per ekor, menjadi Rp 8 ribu per ekor. “Jadi nggak semua mitra bisa isi kandang. Muncul domino efek. Kalau cash flow-nya nggak tebal dia (peternak) membatasi. Nggak isi kandangnya banyak-banyak. Akhirnya produksinya turun,” papar Sandi mencoba mengurai problem tingginya harga ayam.

Kenaikan harga ayam potong juga dipicu naiknya harga pakan. Terutama jagung. “Jadi banyak yang menjadi pemicu kenaikan harga ayam potong,” lanjut Sandi.

Terpisah, Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Kediri Tutik Purwaningsih melalui Pengawas Bibit Ternak Ahli Muda Inata Ditya mengakui jika permintaan untuk MBG jadi salah satu faktor yang mengerek harga daging ayam.

“Ada serapan untuk MBG itu. Terkait jumlah permintaan untuk MBG kami tidak ada datanya. Memang dari informasi lapangan, dari peternak juga, banyak permintaan untuk memenuhi kebutuhan MBG seperti itu. Cuma untuk datanya kami tidak ada untuk data itu,” urainya.

Senada dengan Sandi, Inata juga mengakui jika kenaikan harga pakan dan DOC juga turut memicu harga. “Ditambah lagi momen hajatan di akhir tahun. Jadi banyak faktornya,” beber Inata tentang tingginya permintaan di tengah stok yang tetap itu. 

 

Data Stok Ayam di Kediri:

Populasi ayam ras pedaging

Januari – September 2025 : 15.362.799 ekor

Produksi ayam ras pedaging

Januari – September 2025 : 11.913.187 kilogram

 

Data Populasi ayam ras petelur

Januari – September 2025 : 6.639.944 ekor

Produksi ayam ras petelur

Januari – September 2025 : 50.480.325 kilogram

Editor : rekian
#Mbg #radar kediri #telur ayam ##daging ayam ##Inflasi #daging ayam ##harga komoditas #inflasi ##telur ayam ras