Sekolah ini setingkat menengah pertama. Lokasinya di Dusun Joho, salah satu dusun di Desa Sumberejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri. Merujuk yang tertulis di papan nama, sekolah ini bernama SMP Negeri 2 Ngasem.
Usia sekolah ini belumlah tua. Baru berdiri pada 2023 lalu. Tujuan pendiriannya agar anak-anak di sekitar lokasi bisa mendapat akses pendidikan.
Sebab, selama ini area tersebut ibaratnya blank zonasi. Tidak ada sekolah, yang bisa menampung anak-anak warga pada sistem zonasi-atau yang sekarang diganti domisili.
Padahal, Kecamatan Ngasem adalah wilayah padat penduduk. Sementara, SMP negeri hanya ada satu. Tak mampu menampung semua lulusan sekolah dasar.
“Karena (penduduknya) memang padat. Banyak orang yang ngontrak-ngontrak. Anak-anak di sini juga tidak sedikit yang orang tuanya ngontrak. Ada yang karena jualan di area Simpang Lima Gumul (SLG),” jelas Kepala SMPN 2 Ngasem Sulistyo Wulandari.
“Sementara sekolahan di sekitar sini, seperti SMPN 1 Ngasem, SMPN 1 Gurah, itu ada batas maksimalnya. Jadi banyak yang tidak diterima. Makanya SMPN 2 ini dibangun untuk meng-cover itu,” imbuh perempuan yang akrab disapa Sulis itu.
Karena situasi itu, Bupati Dhito langsung menginstruksikan untuk membangun SMPN 2 Ngasem. Dalam waktu dua bulan sebelum PPDB 2023, akhirnya berdiri empat bangunan kelas yang saat itu lokasinya masih satu kompleks dengan SDN Sumberejo 2 Ngasem — saat ini SDN Sumberejo 2 sudah dimerger karena tidak ada peminat.
Tahun pertama, dibuka empat kelas, kuota langsung terpenuhi. Namun tidak genap 32 anak per kelas. Sehingga pelaksanaannya sementara dibuat tiga kelas. Satu lagi untuk ruang guru, kepala sekolah, dan tata usaha (TU).
Tahun kedua, peminatnya lebih banyak. Dibuka empat kelas, siswa yang mendaftar melebihi kuota. Pihak sekolah membuat kelas gemuk, melebihi standar jumlah maksimal per kelas. Setiap kelas berisi 40 anak.
“Karena ada banyak yang tidak diterima, setelah konsultasi dengan Dinas Pendidikan akhirnya kami membuka rekrutmen khusus. Pendaftaran secara offline. Agar siswa yang tertolak tetap bisa bersekolah,” terang perempuan yang sehari-hari memakai kacamata itu.
Saat itu siswa SDN Sumberejo 2 sudah dimerger. Otomatis kelasnya digunakan oleh anak kelas VIII. Sementara untuk guru dan TU sudah dibangunkan ruangan baru.
Tahun ketiga, kembali dilakukan hal yang sama. Harus menerima siswa yang tidak diterima di SMP negeri sekitar. Sehingga harus membuat kelas gemuk lagi.
Saat ini total ada 431 siswa, terdiri dari kelas VII, VIII, dan IX. Karena jumlahnya yang banyak namun jumlah kelas belum sebanding, otomatis Sulis bersama guru lain harus mencari akal. Yakni dengan membuat empat kelas menjadi tiga kelas. Otomatis, jumlah siswa per kelas sekitar 52–53 anak.
Dengan kondisi demikian, otomatis jika bangku ditata seperti umumnya — satu meja dua kursi — maka kelas tidak muat. Maka tempat duduk dikonsep, meja ditata memanjang, sementara kursinya ditata berhadap-hadapan.
“Karena kalau ditata seperti kursi bus (menghadap ke depan semua) tidak akan cukup. Jadi harus ditata meja memanjang. Dibuat dua kelompok. Di situ kursinya hadap-hadapan,” jelasnya sembari menunjukkan satu per satu kelas yang bangkunya ditata memanjang serta kelas yang harus lesehan.
Selain itu, ada juga kelas yang harus lesehan, yakni kelas VII. Karena sebagian bangku dan kursi dipakai kelas lain. Otomatis, jika memakai bangku, ada anak yang tidak akan dapat bagian.
“Dulu juga ketika rehab atapnya, harus nunut di SMPN 1 Ngasem. Dibuat kelas sore. Jadi kalau anak SMPN 2 ada yang sedikit mengubah sesuatu di kelas SMPN 1, besoknya pasti surat-suratan. Diprotes pemilik kelas aslinya,” kenang Sulis.
Sulis mengatakan, sebenarnya bisa dibuat kelas pagi dan sore. Namun, gurunya nanti harus bekerja sangat ekstra. Masuk pagi sampai maghrib.
“Guru sini juga hanya 16. ASN 8, GTT 8. Jumlah itu juga kurang dari ideal,” akunya.
Namun, kondisi kegiatan belajar mengajar yang harus demikian itu agaknya akan berakhir awal tahun depan. Pasalnya, Disdik telah membangunkan ruang kelas baru. Totalnya ada empat ruang. Tiga sudah jadi, sementara satu masih proses pembangunan.
Harapannya, dengan adanya empat ruang kelas baru itu, kegiatan belajar mengajar (KBM) SMPN 2 Ngasem bisa normal seperti sekolah lainnya.
“Ini kursi dan bangku juga sedang dipesankan,” jelasnya sembari menyebut Januari nanti siswa kelas VIII sudah bisa menempati ruang kelas baru.
Dengan kondisi kelas yang seperti itu, tidak heran jika ada siswa yang mengeluh. Sevila Nuru Zackya mengaku kondisi seperti itu membuat kelas jadi sempit. Otomatis, ruang kelas jadi panas.
“Walau nggak terlalu terganggu, tapi jadi sumuk,” aku siswa asal Kwadungan, Ngasem itu.
Walau demikian, dia bersyukur dengan kondisi itu. Menurutnya, karena empat kelas yang digabung jadi tiga kelas, membuatnya jadi tambah banyak teman.
“Karena semua jadi seperti satu bangku, otomatis juga jadi lebih dekat dengan teman-teman,” aku bocah 15 tahun itu.
Jika di SMPN 2 Ngasem ruang kelasnya harus berdesak-desakan, berbeda dengan SMPN 3 Mojo. Sekolah ini dibangun pada 2024 lalu dan mulai dibuka pendaftaran tahun ini.
“Ini baru angkatan pertama,” jelas Kepala SMPN 3 Mojo, Joko Suminto.
Sama dengan SMPN 2 Ngasem, sekolah di lereng Wilis ini dibangun untuk mengatasi blank zonasi.
“Seperti Pamongan dan Belimbing itu kan nggak ada SMPN-nya. Jadi kalau mau cari SMPN harus jauh. Selain itu lulusan SD banyak. SMPN 1 dan 2 Mojo tidak bisa menampung semuanya,” jelasnya.
Sekolah yang terletak di Desa Kedawung ini fasilitasnya berupa tiga ruang kelas dan satu kamar mandi. Dalam SPMB perdana, hanya ada 52 siswa yang masuk. Sehingga yang terpakai hanya dua kelas saja. Satu sisi itu juga menguntungkan, karena kepala sekolah, guru, dan tim administrasi jadi bisa menumpang di kelas yang belum terpakai.
“Sementara guru dan admin masih menumpang di kelas,” jelas laki-laki kelahiran 1971 itu.
Adapun 2025 ini, Pemkab membangun tiga ruang kelas dan satu ruang TU serta guru. Sehingga akhir tahun ini para guru sudah tidak menumpang lagi di ruang kelas.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian