Lebih Ber-cuan, Penyewanya Pakai untuk ‘Pacaran’
Rumah kos dengan durasi sewa per jam banyak ditemui di Kediri Raya. Lebih menjanjikan cuan dibanding konsep rumah kos sewa bulanan atau tahunan. Pemiliknya tak peduli meskipun kamar-kamar itu disewa untuk aktivitas mesum.
------------------------------
Bangunan besar itu terlihat mentereng dibanding rumah-rumah di sekitarnya. Berdiri di dalam salah satu gang di Kelurahan Bandarkidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Memiliki tiga lantai. Setiap lantainya terdapat kamar-kamar yang berjejer.
Jumlah kamar di setiap lantai tidak sama. Ada yang delapan ada pula yang sepuluh kamar. Kamar-kamar inilah yang disewakan. Tapi, durasinya bisa sangat singkat, jam-jaman.
Hari itu kamar-kamar di tempat kos ini nyaris habis disewa. Hanya tersisa satu kamar. Kamar inilah yang disewa oleh tim Jawa Pos Radar Kediri. Berada di lantai dua.
Saat didatangi, pintu kamar itu terbuka lebar. Berbeda dengan kamar-kamar lain yang tertutup rapat. Ada tong sampah di depan kamar. Sama seperti di kamar-kamar lainnya. Tong itu juga penuh dengan tisu bercampur botol minuman. Nyaris penuh.
Kamar berukuran 3x4 meter itu memang tidak seperti hotel. Meski ber-AC, tapi tetap kumuh. Baunya menyengat. Menusuk indra penciuman. Dari aroma alkohol, keringat, hingga bau pesing kamar mandi menjadi satu. Pengharum ruangan pun tak mampu mengeluarkan wewangiannya dengan maksimal.
Kondisi itu diperparah dengan dinding kamar yang sudah berjamur. Ditambah dengan ventilasi yang tertutup dan lampu penerangan yang sangat minimalis. Meski begitu, penyewanya selalu ramai. Nyaris tidak ada kamar yang tak digunakan.
Itu juga dibuktikan dengan banyak kendaraan terparkir di halaman. Namun suasana rumah kos ini sangat hening. Padahal, saat itu siang hari. Berbeda dengan kos yang biasa diisi pelajar, mahasiswa, atau pekerja yang suasananya pasti ramai dan berisik.
Rumah kos itu memang berbeda dengan tempat kos lain. Sewanya tidak per bulan atau per tahun. Melainkan hanya dihitung per jam saja.
Siapa penyewanya? Bila ditelisik dari percakapan dengan orang yang suka menginap, tempat ini hanya digunakan untuk ‘berpacaran’. Tentu saja pacaran yang dengan aktivitas plus-plus alias berhubungan badan.
“Jujur aja sih, kebanyakan ke sini (kos jam-jaman, Red) buat pacaran (berhubungan badan, Red). Daripada harus ke hotel, mahal,” ujar Ang, warga Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri yang sudah berkali-kali memanfaatkan kos jam-jaman itu.
Alasan pemuda 20 tahun itu memilih kos jam-jaman karena tidak ribet, harga murah, dan prosesnya cepat.
“Bisa lebih hemat,” akunya.
Tempat kos yang dipilih pun selalu berpindah-pindah. Tidak pernah satu tempat.
Tarifnya? Bervariasi, meskipun tetap tergolong murah. Menurut Ang, biaya sewa tergantung durasi dan fasilitas. Sebab, ada kamar yang sudah ber-AC. Sebagian lagi hanya mengandalkan kipas angin. Bahkan, ada yang tidak ada sama sekali.
“Yang pasti tidak senyaman di hotel. Kadang pengap, ada juga bau alkohol. Yang penting tempatnya bisa dipakai sebentar. Sudah cukup,” ucapnya.
Kos model seperti ini banyak di Kediri. Tak hanya di kota saja, juga di Kabupaten Kediri. Selain yang disebutkan di atas, ada juga kos sejenis di wilayah Ngronggo, Kota Kediri. Sewa per kamarnya rata-rata Rp 50 ribu untuk dua jam pertama. Jika ingin ambil paket ada yang 12 jam seharga Rp 120 ribu.
Bila kamarnya ada AC-nya sewanya lebih mahal. Dua jam seharga Rp 70 ribu. Sedangkan per tiga jam menjadi Rp 80 ribu. Jika dipakai empat jam biayanya Rp 160 ribu. Lebih lama, 5 sampai 12 jam dikenakan biaya Rp 260 ribu. Harga itu sudah komplet dengan fasilitas dasarnya. Mulai dari kasur, kipas angin, hingga kamar mandi dalam.
Di dalam kamar, pengelola kosan juga sudah menyediakan tisu. Wajar saja, saat kamar itu disewa, masih ada bekas tisu dan puntung rokok di dalam kresek yang belum sempat dibersihkan.
Salah satu penyewa kosan di Kelurahan Ngronggo, adalah pasangan Rif dan Ani. Keduanya berasal dari Kota Kediri. Pasangan ini merupakan pelanggan tetap di kosan tersebut.
Menurut Ani, penyewa kosan jam-jaman ini ramai saat malam hari. “Sejauh ini aman tidak ada yang ganggu,” ucap Ani.
Pengunjung kos-kosan itu lebih suka yang jam-jaman karena tidak ribet dan aman dari razia. Selain itu, tarifnya juga murah. Lebih ringan dari hotel. Dan yang paling penting adalah prosesnya tidak memakan waktu lama. Alasan itulah yang membuat mereka memilih untuk menyewa kosan dalam waktu singkat.
Dan bagi pemiliknya, kos-kosan model begini lebih mendatangkan cuan. Dalam sehari bisa meraup uang jutaan rupiah. Seperti yang diakui oleh pemilik kos-kosan di daerah Ngasem, Kabupaten Kediri ini.
“Sehari minimal Rp 500 ribu. Bisa tembus Rp 1,3 juta bila ramai,” aku, sebut saja, Adoy, ini.(*)
Editor : Mahfud