Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ketika Mantan Pengedar Narkoba Tahu Bila Perbuatannya Itu Salah

Hilda Nurmala Risani • Jumat, 27 Juni 2025 | 00:00 WIB
Ilustrasi Hari Anti Narkoba
Ilustrasi Hari Anti Narkoba

 Penggunaan narkotika jenis sabu-sabu tampaknya sedang marak. Tidak hanya di kota-kota besar, di daerah yang notabene memiliki luas wilayah yang terbatas-, seperti Kediri Raya- juga menunjukkan tren tersebut.

Korbannya pun tidak memandang usia. Dari yang muda hingga dewasa juga tergoda untuk menggunakannya bahkan mengedarkannya.

Itu didukung dengan kondisi perekonomian yang sedang tidak baik-baik saja. Banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan. Di sisi lain, harga kebutuhan pokok terus mengalami peningkatan. Ditambah pendidikan yang terbatas membuat mereka mencari jalan pintas. Yaitu dengan mengedarkan barang terlarang.

Aku ngerti iki salah. Tapi jenenge butuh duwit dan eneke tawaran iki terima wae (Saya tahu ini salah tapi namanya butuh uang dan adanya tawaran ini ya diterima saja, Red),” terang Dha, salah satu warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus narkoba.

Menurutnya, peredaran sabu-sabu ini sering kali melibatkan kaum menengah ke bawah. Itu karena mereka lebih mudah dimanfaatkan untuk mengedarkan dengan upah tertentu. Meskipun ancamannya lebih besar daripada upah yang diberikan.

Namun demikian, ancaman tersebut terkadang tidak menjadi efek jera bagi para narapidana. Sebab tidak ada pilihan lain yang dapat mereka lakukan setelah berada pada lingkaran setan itu.

Sekaline gabung susah arep ucul (sekalinya bergabung sulit untuk lepas, Red),” akunya.

Lelaki yang sedang menjalani kasus persidangan narkotika ini mengaku awalnya hanya membantu mengedarkan sabu-sabu milik temannya. Lama-lama dia penasaran dan tertarik untuk menggunakannya. Nahasnya belum ada hitungan tahun dia sudah tertangkap oleh pihak kepolisian.

Lalu bagaimana keberadaannya bisa diketahui polisi? Dha bercerita jika penangkapan pasti dilakukan di jaringan paling bawah terlebih dahulu. Itu karena lebih mudah di-track dibandingkan jaringan penggedar kelas kakap. Yang pasti sudah memiliki relasi lebih luas dalam segi pengamanannya.

Seperti kasus terakhir terkait peredaran narkotika jenis sabu-sabu yang dilakukan oleh residivis. Dia diamankan dengan ratusan gram sabu-sabu. Sedangkan orang yang menyuruhnya untuk mengedarkan masih dalam tahap pencarian. 

Patrah angel memberantas narkoba (memang sulit memberantas narkoba, Red). Mereka yang residivis pun kalau ada kesempatan pasti berulah lagi,” ujarnya.

Hal serupa juga dirasakan oleh Ra. Di usianya yang masih sangat muda dia harus menjalani masa hukuman di dalam penjara. Terlibat dalam penjualan sabu-sabu dan pil double LL.

Lebih jauh dia menjelaskan, pertemanan sangat mempengaruhi kehidupannya. Sebelumnya dia memiliki hidup yang sewajarnya sebagai anak muda. Namun setelah mengenal salah satu temannya dia seperti masuk dalam jurang iblis. Menggunakan hingga mengedarkan barang terlarang.

“Upahnya lumayan untuk anak sekolah,” dalihnya, ketika ditanya wartawan Jawa Pos Radar Kediri.

Menurutnya, sekalinya masuk dalam lingkaran narkoba akan sulit untuk melepaskan diri. Sebab jika satu tertangkap, masih ada orang lain yang berhasil membebaskan diri. Nantinya mereka yang sudah selesai menjalani hukuman pun akan mendapatkan tawaran untuk bergabung kembali.

Akhire sing ketangkep kuwi maneh (akhirnya yang tertangkap itu lagi, Red). Siklusnya berputar di situ saja,” ujarnya.

Ra sangat menyesali hukumannya ini. Dia berjanji tidak akan mengulangi perbuatan yang salah. Seharusnya dia bisa memanfaatkan masa mudanya untuk kegiatan positif tetapi kini harus hidup di balik jeruji besi.

Wes kapok gak pingin baleni (sudah jera tidak ingin mengulanginya, Red). Cari kegiatan positif agar tidak salah pergaulan lagi,” pungkasnya dengan nada penuh penyesalan. (*)

Editor : Mahfud
#pengedar narkoba dibekuk #narkoba #pemakai