Ada kembar mayang, ada pula iring-iringan persis rombongan pengantin betulan. Dianggap sebagai pertautan antara panen tebu dan mulainya penggilingan gula. Dipercaya pula sebagai cara untuk menolak bala, mencegah bencana.
“Meh sak wulan (hampir satu bulan, Red) ada pasar malam,” kata Suyut. Pria tua ini rumahnya di Desa Jambean, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri. Dekat dengan lokasi Pabrik Gula (PG) Ngadirejo. Pasar malam yang dia maksud lokasinya juga di halaman pabrik gula tersebut. Yang biasa berlangsung di awal musim giling tebu.
“Bar kuwi (setelah itu, Red) ada manten tebu,” lanjut pria yang sudah berumur 70 tahun ini.
“Enek tebu lanang karo tebu wadon. Mengko diarak mubeng pabrik banjur digiling (ada tebu pria dan tebu wanita. Diarak keliling pabrik kemudian dimasukkan penggilingan, Red),” sambung Suyut,
Manten tebu yang disebut Suyut tersebut adalah ritual mengarak tebu yang biasa dilakukan setiap awal musim giling. Disebut manten tebu karena memang mirip dengan ritual arak-arakan pernikahan.
Prosesi manten tebu, dan rangkaian acara menjelang buka giling, memang paling ditunggu masyarakat sekitar pabrik gula. Suyut bahkan sangat paham kesenian apa saja yang akan ditampilkan.
“Ana wayang, jaranan, lan rebana. Pokoke sing ada kaitane gending-gending Jawa,” terang kakek dari delapan bocah ini.
Tak hanya orang tua seperti Suyut yang suka dengan kegiatan buka giling tersebut. Dwi, yang masih berusia 24 tahun pun penasaran. Apalagi setelah dia menyaksikan film berjudul ‘Pabrik Gula’ yang memang lagi diputar di berbagai bioskop.
“Sebelumnya tidak begitu tahu tradisi buka giling. Tahunya paling pasar malam, terus ada wayang, pengajian, dan jalan sehat,” aku gadis asli Desa Jambean ini.
Karena itu, ketika tahu pabrik gula di dekat rumahnya ternyata menggelar manten tebu dia pun jadi penasaran. Kemudian melihat prosesi itu. Mulai awal hingga selesai.
Lalu, apa sebenarnya manten tebu? General Manager (GM) PG Ngadirejo Wayan Mei Purwono, melalui Asisten Manajer Tebang Muat Angkut (Asmen TMA) Suhadi, mengatakan tradisi ini sudah berlangsung sejak lama. Pihak PG tetap melakukan sebagai upaya pelestarian.
“PG Ngadirejo dibangun 1912 dan tradisi itu sudah ada,” terangnya.
Dia tak memungkiri bahwa ada anggapan ritual ini sebagai tolak bala. Seperti yang dipercaya warga sekitar pabrik maupun karyawan yang mayoritas juga masyarakat sekitar. Meskipun tujuan utama mereka adalah melestarikan budaya agar tidak punah.
“Ini bukan kegiatan yang syirik, bukan. Mana yang pas kami ambil, yang tidak pas ya dibuang. Soal kepercayaan, ya kembali ke masing-masing orang,” tandasnya, ketika ditemui di ruang kerjanya, Jumat (9/5).
Memang, banyak yang beda antara manten tebu dulu dan sekarang. Soal jarak misalnya, saat ini jauh lebih pendek rutenya.
Kemudian, boneka manten. Yang terbuat dari tepung terigu, gula merah, dan santan kelapa. Saat ini boneka tersebut digantikan oleh manusia. Meskipun di beberapa pabrik gula tetap menggunakan boneka seperti itu.
“Memang, di beberapa pabrik seperti PG Modjo Panggoong (Tulungagung) masih berjalan. Tapi di sini tidak,” jelas pria yang menjabat sejak 2022 ini.
Yang pasti, Suhadi menegaskan, manten tebu memiliki filosofi mendalam. Berkaitan dengan kepemilikan tebu. Ritual ini ditafsirkan sebagai penyatuan antara pabrik gula dengan petani. Sebab, tebu yang digiling tak hanya milik pabrik saja, juga panenan warga.
“Bahasanya, kalau budaya Jawa, ayolah kumpul rukun. Terus tebu ini digiling bareng. Makanya dijadikan tebu manten. Dinikahkan antara tebunya pabrik dengan tebunya petani. Digandengkan kemudian digiling bareng,” terangnya.
Selain kirab manten tebu, ritual lain yang juga tak ditinggalkan adalah ruwatan. Yang masih dipercaya oleh warga sekitar agar kegiatan giling berjalan lancar. Bila di PG Ngadirejo ada dua, ruwatan jaranan dan wayang ruwat.
Suhadi bercerita, pada 2022 sempat tidak menggelar ruwat jaranan. Ternyata, mesin ketelnya sering bermasalah.
“Kepercayaan warga di sini itu sesepuhnya PG ada di cerobong. Makanya ketel itu perlu diruwat. Dan ketika tidak diruwat, yang terjadi ya begitu. Entah itu kebetulan atau seperti apa, tergantung yang meyakini,” terangnya.
Untuk wayang ruwat, tidak sama dengan pertunjukan wayang biasa. Selain lakonnya Murwakala, juga tidak boleh dipertontonkan. Yang boleh ditonton adalah pagelaran wayang di malam harinya.
Kepala Bidang Sejarah dan Purbakala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri Eko Priatno mengatakan, tradisi manten tebu sudah berkembang sejak awal adanya pabrik gula.
Menurutnya, secara metafisika, jika rangkaian upacara itu ada yang tidak dilakukan, dipercaya bisa memakan korban. Entah manusia atau peralatannya.
“Itu kalau bicara soal spiritual yang dipercayai masyarakat. Tapi ini masih berita yang sifatnya tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Ini secara kepercayaan orang dahulu,” jelasnya.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira