Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ketika Model Pacaran Bocah di Bawah Umur di Kediri Kian Kebablasan! Perut Membuncit, Risiko Makin Rumit

Habibah Anisa M. • Senin, 5 Mei 2025 | 05:39 WIB
Photo
Photo

SF baru berumur 14 tahun. Tapi, sudah harus bersiap menjadi ibu dari bayi yang dia kandung. Mirisnya lagi, sang pacar yang juga masih remaja memilih tak bertanggung jawab.

Kasus seperti yang menimpa SF tidak sedikit. Di Kota Kediri, jumlah anak-anak yang berbadan dua karena gaya berpacaran kebablasan itu relatif banyak. Tahun ini saja, sudah ada 17 orang yang mengajukan konseling pernikahan anak. Padahal, hitungan bulan masuk masuk bulan kelima.

“Sembilan puluh persen karena yang ajukan konseling pernikahan anak karena sudah hamil,” terang Zaki Zamani, kepala bidang Perlindungan Perempuan dan Anak DP3AP2KB Kota Kediri

Pertanyaannya sekarang, bagaimana persoalan seperti ini bisa marak terjadi? Benarkah karena kesalahan si bocah seperti SF itu? Lalu, di mana peran orang tua, guru, keluarga, atau lingkungan paling dekat dengan pelaku?

Harus diakui, berdasarkan banyak fakta, situasi seperti SF tersebut akibat longgarnya pengawasan. Bisa jadi karena si anak tak memiliki orang tua. Ataupun sang orang tua lebih sibuk dengan urusannya sendiri.

Sehingga gagal memberikan pemahaman dan pengawasan terkait perilaku yang menjurus ke arah seksual.

Contoh nyata pada kasus SF tersebut. Dia merupakan anak yatim piatu. Hanya tinggal bersama ibu tirinya yang sudah berusia 51 tahun, ST. Sang ibu tiri itu adalah istri ketiga almarhum ayahnya.

Karena sudah ditinggal pergi kedua orang tuanya, pengawasan terhadap SF menjadi longgar. Bukan berarti tidak ada pengawasan. ST selalu cerewet menanyakan keberadaannya jika tidak di rumah. Itu salah satu cara ibu tiri mengawasinya.

“Dia sering keluar kalau malam, katanya ikut latihan pencak silat,” begitu ungkap ST tentang kegiatan putri tirinya itu. Karena kegiatan itu dianggap positif, bocah 14 tahun itu pun bisa melakukannya dengan bebas.

Pada saat itulah SF berkenalan dengan Ian Syah. Keduanya sama-sama aktif sebagai anggota di perguruan silat. Karena latihannya sering sampai larut malam, membuat kedua sejoli itu kebablasan.

Keduanya kerap melakukan perbuatan yang tak patut dicontoh. Mereka telah melakukan hubungan layaknya suami istri sejak 2023.

Akibat pergaulan yang kebablasan itu, SF merasa bosan bersekolah. Memilih berhenti sekolah ketika masih duduk di bangku kelas delapan.

Tidak bersekolah membuat pengawasan terhadap SF pun semakin berkurang. Tidak ada lagi guru yang mengawasi. Aktivitas sehari-harinya lebih banyak dihabiskan bersama Ian Syah, sang pacar. Ujung-ujungnya,  dia hamil.

Di awal-awal kehamilan, bocah 14 tahun itu sempat stres. Akibatnya, terjadi pendarahan. Ketika SF dirawat di rumah sakit, Ian Syah tak pernah mengunjunginya. Lelaki 18 tahun itu baru nongol karena takut dilaporkan ke polisi.

Pada saat mendatangi sang kekasihnya, Ian Syah berjanji akan bertanggung jawab, menikahi SF.

Tapi, ceritanya lain ketika kondisi SF pulih. Sang pacar menghilang bak ditelan bumi. Keluarga SF yang geram memilih jalur hukum. Melaporkan kasus itu ke Polres Kediri Kota. Kini, perkaranya ditangani Unit PPA Satreskrim Polres Kediri Kota.

Sayangnya, perut SF semakin membuncit. Dan seperti bocah lain yang mengalami kasus serupa, ada risiko yang semakin rumit harus ditanggungnya. Terutaa persoalan psikis.

“Harus diberi pemahaman kepada yang bersangkutan (SF, Red), ada janin di dalam tubuhnya,” ucap Psikolog Vivi Rosdiana.

Karena itu, dia meminta agar ada pendampingan serius kepada si calon ibu. Jangan sampai SF melakukan tindakan nekat menggugurkan kandungan. Remaja itu tidak boleh melakukan kesalahan baru.

Untuk mencegah tindakan konyol itu, perlu ada peran yang lebih besar dari semua orang di sekitarnya. Tujuannya untuk memperkuat mental SF. 

Usulan agar dilakukan pendampingan itu senada dengan yang disampaikan Sunarno, dosen Psikologi IAIN Kediri. Penulis buku Anak Merdeka itu mengatakan, bocah seusia SF pasti belum matang. Dia sedang masuk masa transisi. 

“Karena itulah, kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkannya (SF, Red),” terang lulusan S2 Psikologi UGM itu. Ditambah jika melihat latar belakang kehidupannya.

Dia juga menyebut SF sudah termasuk remaja yang rentan. Apalagi dia mudah sekali mengalami stres yang mengakibatkan dirinya kerap masuk rumah sakit karena pendarahan. Problem itulah yang membutuhkan peran besar dari pemerintah, lingkungan di sekitar rumah SF, hingga keluarga dekatnya.

Bagi Sunarno, SF butuh penguatan. Karena itu dia memerlukan pendamping profesional. Jika melihat kondisi keluarganya, maka peran pemerintah sangat penting untuk mendampinginya. Bahkan untuk waktu yang panjang.

Baca Juga: Tak Banyak Yang Tahu Perda Larangan Penahanan Ijazah di Kediri, Kurang Sosialisasi atau Perusahaan Tutup Mata?

Bukan saja dari pemerintah, penguatan mental pada SF juga perlu dukungan sosial. Masyarakat lingkungan di sekitarnya harus punya kesadaran kuat untuk ikut membantu SF bisa menjalani kehidupan pahit ini dengan tegar.

“Ini PR (pekerjaan rumah, Red) kita semua, hidup di masyarakat yang kolektivitasnya tinggi pasti akan kesulitan membedakan hal privat. Semuanya akan menjadi milik publik,” ucapnya. Hal tersebut bisa berdampak buruk bagi buah hati si SF.

Karena itulah perlu ada kesadaran bersama agar masyarakat dan keluarga dekat bisa ikut menguatkan mental SF. Sehingga selama menjadi ibu bisa tetap tegar meski nanti tanpa suami.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#kediri #hamil #anak hamil #kasus pernikahan dini #radar kediri terkini #psikologi #pacaran