Pengamat ekonomi Subagyo menjelaskan, ada alasan kenapa negara melakukan impor. Salah satunya karena ketersediaan di dalam negeri belum mencukupi.
Sehingga, impor dilakukan dengan tujuan sebagai pengendalian harga.
“Hanya saja harus ada pengawasan ketat untuk memenuhi kebutuhan domestik. Jangan sampai impor melebihi kebutuhan. Kalau melebihi dari kebutuhan ya industri dalam negeri akan mati,” tekan Subagyo.
Baca Juga: Krisis Ganda di Sekolah Pegunungan Kediri, Murid Sedikit, Guru Pun Langka! Begini Kondisinya
Kendati demikian, pemenuhan kebutuhan dengan cara impor membuat harga bergantung pada nilai tukar.
Dan situasi itulah yang terjadi pada harga kedelai saat ini. Jika dolar AS menguat, maka harga kedelai juga akan naik. Begitupun jika harga kedelai global naik, otomatis harga di dalam negeri ikut terkerek.
“Kan bayarnya pakai dolar (saat impor, Red),” kata Subagyo.
Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa impor kedelai yang dilakukan Indonesia saat ini bisa ditekan dengan meningkatkan produktivitas dalam negeri.
Baca Juga: Sepi Peminat, Sekolah di Pegunungan di Kediri Diusulkan Merger tapi Justru Ditolak Warga
Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah pun harus turut andil. Salah satunya dengan memberikan insentif kepada para petani kedelai. Seperti memberikan bantuan benih unggul ataupun pupuk.
Namun demikian, intervensi jangka pendek ketika terjadi lonjakan harga adalah dengan memberikan subsidi. Di samping melakukan pengawasan ketat terhadap impor.
“Jangka menengah ya memberikan bibit unggul. Kalau jangka panjangnya ya area lahan diperluas,” tandasnya.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Kediri M. Ridwan menerangkan bahwa harga kedelai saat ini dalam status aman.
Artinya, adanya kenaikan harga yang sempat terjadi belum memerlukan intervensi dari pemerintah. Sebabnya, harga acuan pembelian (HAP) yang ditentukan adalah sebesar Rp 12 ribu.
“Ada kenaikan tetapi nggak signifikan. Taraf wajar, belum perlu intervensi,” katanya.
Dia menjelaskan bahwa intervensi akan dilakukan bila kenaikannya mencapai 20 persen dari HAP. Dan saat ini, harga kedelai masih di bawah HAP. Hanya saja, pihaknya tetap melakukan pemantauan harga secara rutin. (emilia susanti/fud)
Produksi Kedelai di Kota Kediri
2020: 10,5 ton
2021: 7,5 ton
2022: 14 ton
2023: 14 ton
Sumber: Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Kediri
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira