JP Radar Kediri - Terlepas dari masih adanya masyarakat yang menggemari undangan cetak, beralih ke undangan digital dianggap merupakan tuntutan zaman.
Tren tersebut juga selaras dengan era paperless yang kini sedang digalakkan oleh pemerintah.
Pengamat ekonomi Sri Luayyi mengingatkan, pengusaha juga harus bisa beradaptasi di era digital ini. Termasuk dunia usaha bidang percetakan.
“Masyarakat sekarang sudah mulai terbiasa dengan undangan online. Ini bagus,” kata Luayyi.
Tidak hanya praktis, menurut perempuan yang juga akademisi itu desain undangan digital lebih menarik.
Alasan itu pula yang membuat undangan model baru itu digemari.
“Mau tidak mau, pengusaha undangan cetak harus upgrade mengikuti zaman,” lanjutnya.
Baca Juga: Sentra Kuliner yang Mulai Tumbuh di Kota Kediri Bisa Jadi Opsi Penataan PKL
Digitalisasi menurut Luayyi sudah merambah banyak sektor dan bidang.
Dia mencontohkan fotografi yang dahulu masih analog kini juga sudah beralih ke digital secara penuh.
“Studio foto dulu masih sangat diminati di tahun 1990-an. Sekarang dengan banyaknya ponsel android, studio foto mulai meredup,” tuturnya.
Seperti halnya pengusaha percetakan undangan, pengusaha studio foto tidak memiliki pilihan selain menyesuaikan diri dengan tren.
“Kalau tidak ya pasti gulung tikar,” ingatnya lagi.
Luayyi lantas mencontohkan tren di perkantoran yang saat ini juga sudah mulai mengurangi penggunaan kertas atau paperless.
Semakin banyak file atau dokumen juga sering dibagikan melalui bentuk softfile.
“Lebih efektif dan efisien,” tekannya.
Meski demikian, dia tetap mengingatkan tentang tantangan yang dihadapi di era digital saat ini. Salah satunya tentang praktik penipuan yang kini kian marak.
Modusnya, mengirimkan link atau tautan undangan pernikahan. Saat link dibuka, data pemilik nomor ponsel itu langsung diambil.
Selanjutnya, data pribadi bocor hingga saldo uang di rekening bisa mendadak lenyap.
“Itu (mengantisipasi penipuan yang memanfaatkan file digital, Red) tugas pemerintah dalam mengedukasi. Terutama kepada generasi yang tua, karena mereka tidak terlalu banyak menggunakan handphone, sehingga berpotensi besar menjadi korban,” tandasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah