JP Radar Kediri - Begitu menginjakkan kaki di lantai dua Pasar Pahing, suasananya terasa kontras dengan situasi lantai di bawahnya. Kios-kios itu mulai bersolek.
Beberapa masih nampak tutup. Namun, beberapa lainnya mulai banyak orang yang merenovasi cat dan bagian bangunannya.
Di sisi lain, beberapa kios sudah berubah menjadi kedai kuliner yang ramai dikunjungi pembeli. Kebanyakan mereka merupakan anak muda.
Begitu makanan tiba, kamera ponsel di genggaman langsung diarahkan ke hidangan di depannya.
Dipotretnya hidangan itu, dengan latar belakang suasana lalu lalang pengunjung pasar di bawahnya.
“Penasaran saja pengen coba kulineran di pasar. Selama ini biasanya lebih sering ke mal,” ujar Kamila, 24, salah satu pengunjung kedai mie di sana.
Perempuan berjilbab itu duduk di salah satu kursi yang ditata di selasar pasar.
Sesekali dia memandang ke arah hiruk pikuk orang-orang di pasar—maupun kendaraan yang hilir mudik di Jl Hos Cokroaminoto—dari lantai dua itu.
Sebelum ada kedai kuliner di sana, lantai dua Pasar Tradisional itu terbengkalai.
Banyak penyewa—yang sebelumnya didominasi penjual peracangan, pakaian, hingga perabot rumah tangga—meninggalkan kios.
Alasannya, dagangan mereka sepi pembeli. Sebab, pengunjung enggan naik tangga ke lantai 2.
Namun, sejak penghujung tahun lalu, sentra kuliner mulai tumbuh di lantai dua pasar tradisional.
Salah satunya di Pasar Pahing yang beberapa kali viral karena adanya kedai-kedai makanan modern dan ‘kekinian’.
Para pelaku usaha ini seolah ingin mendobrak stigma bahwa berjualan di lantai dua pasar selalu berakhir sepi.
Peluang usaha baru di sektor kuliner yang merakyat itu mereka jajaki di era serbamodern saat ini.
Salah satunya Muhammad Khusnul Aulia Syafnur Rizal, pemilik usaha steak di lantai dua Pasar Pahing.
Untuk ukuran kedai pertama, dia cukup berani dengan langsung membuka usaha di lantai dua pasar tradisional.
“Awalnya saya mau buka usaha itu muter-muter cari tempat. Terus dengan Pasar Pahing lantai dua banyak ruko yang sudah kosong belasan tahun. Akhirnya saya coba ke sana survei tempat,” ungkap pria yang akrab disapa Rizal itu, terkait awal mulai dia nekat membuka usaha di sana.
Bagi pria asal Bojonegoro itu, ada peluang yang menarik di sana.
Makan-makan di lantai dua sembari menikmati suasana pasar menurutnya cukup seru untuk dilakukan. Nuansa itu juga masih jarang ditemui di tempat lain.
“Memang banyak pertimbangan di awal. Karena kondisi tempatnya udah lama terbengkalai. Terus aksesnya juga cukup menyulitkan apalagi waktu hujan. Tapi kembali lagi, niatnya juga mau menghidupkan pasar tradisional. Jadi modal Bismillah,” beber pria 28 tahun itu, sembari tertawa kecil.
Memulai usaha di sana tentu ada tantangan juga. Khususnya dari sisi marketing yang harus digenjot lewat media sosial (medsos).
Para pengguna medsos diakuinya jadi salah satu target pasar.
“Karena dari awal saya full marketing dari sosmed. Untuk offline marketing-nya malah belum jalan,” tandas pria yang kini berdomisili di Kelurahan Banaran, Pesantren itu.
Hal serupa diakui Nia Oktavia, pemilik kedai bebek Surabaya yang juga membuka usaha di lantai dua Pasar Pahing.
Sehari-hari, dia mengelola kedai itu bersama suaminya, Taufik Puji Agung.
Serupa dengan Rizal, kedai di pasar itu juga satu-satunya yang mereka kelola. Setelah sebelumnya lebih dulu berbisnis kuliner di Surabaya.
“Karena sewanya murah. Kalau dihitung-hitung setahun sama listrik sekitar Rp 3 jutaan. Di kios depan itu saja setahun Rp 50 juta. Padahal kecil,” ujar Nia yang membandingkan dengan harga sewa kios di tepi jalan.
Kendalanya, dia harus lebih gencar memasarkan produknya. Terutama lewat medsos yang dinilai efektif menarik pengunjung.
“TikTok biasanya. Kalau nggak lewat media sosial gitu ya jelas sulit, apalagi di sini. Kalau sudah ramai di medsos, mau tempatnya ndelik (tersembunyi, Red) pun bakal tetap didatangi orang,” tandas perempuan asal Gogorante, Ngasem itu.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah