Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Profil Stadion Brawijaya, Stadion Kebanggaan Warga Kediri dan Persikmania yang 20 Tahun Minim Perbaikan

Emilia Susanti • Senin, 17 Februari 2025 | 16:28 WIB

 

Stadion Brawijaya yang kali terakhir direnovasi tahun 2000 silam belum tersentuh rehabilitasi selama puluhan tahun hingga kerusakan merata di sana.
Stadion Brawijaya yang kali terakhir direnovasi tahun 2000 silam belum tersentuh rehabilitasi selama puluhan tahun hingga kerusakan merata di sana.

JP RADAR KEDIRI- Lapangan tergenang ketika hujan, lampu mati saat pertandingan berjalan, dan entah apa lagi kejadian yang bikin pecinta sepak bola mengelus dada. Padahal, stadion ini menjadi salah satu ikon Kota Kediri. Yang mencuat seiring moncernya prestasi Persik beberapa dekade lalu.

Bagi warga kota yang menjadi saksi kebangkitan Persik Kediri pada awal 2000-an, pasti akan ingat dengan transformasi Stadion Brawijaya.

Dari yang hanya bertribun tanah dan bertembok rendah, menjadi tribun semen semua serta tembok luarnya dibuat  lebih tinggi.

Kemudian, juga dipasang lampu penerangan yang membuat stadion ini bisa menggelar pertandingan malam hari.

Tapi, itu lebih 20 tahun silam. Tepatnya setelah Persik memastikan promosi ke divisi utama, era itu. Yaitu pada 2002. Sebelum mereka juara setahun kemudian.

Nah, wajah stadion 20 tahun silam tersebut masih sama saat ini. Tentu dengan kerusakannya di sana-sini. Maklum, selama itu pula Stadion Brawijaya sangat sedikit mengalami sentuhan renovasi atau perbaikan.

“Pagar ini sejak 2001,” tunjuk Ketua Panpel Persik Tri Widodo, ke arah pagar besi yang membatasi area lapangan dengan tribun penonton.

Tentu saja pagar itu sudah jelek kondisinya. Berkarat, dan banyak sambungannya yang putus. Padahal, ini adalah benteng terakhir yang mencegah penonton masuk ke area lapangan.

Pemkot Kediri, sebagai pemilik, pernah melakukan pengukuran ulang. Tapi, setelah itu taka da tindak lanjutnya. Kalaupun ada perbaikan, menurut Widodo, hanya tambal sulam.

"Pernah ada yang diganti. Sekitar 40 meter di tribun sisi utara. Itu pada 2019," terang Widodo. Pergantian itu dilakukan karena bagian itu sudah rusak parah.

Itu yang kondisi pagar pembatas, fasilitas lain pun sebelas dua belas. Toilet untuk penonton misalnya, sangat sedikit.

Itupun kondisinya gelap dan kotor. Bila ada pertandingan panpel terpaksa menyewa toilet portable milik pemkot.

Baca Juga: Panpel Persik Bakal Antisipasi Lampu Mati di Stadion Brawijaya Kota Kediri, Ini Caranya

Kemudian, ada papan skor yang juga mengenaskan. Banner-nya sobek sejak awwal musim. Padahal, bagian ini yang paling sering disorot kamera televisi ketika siaran langsung maupun ulang.

"Banner itu sudah tiga kali (diperbaiki). Tahun 2019, 2020, dan 2022," jelas Widodo sembari menyebut perbaikan itu dilakukan oleh pihak Persik.

Jika merinci kerusakan lain, masih banyak. Tribun penonton misalnya. Tak hanya perlu pengecatan ulang karena warnya yang kusam dan banyak mengelupas di sana-sini.

Juga, betonnya banyak yang mrotoli. Pecahan semen itu bisa berbahaya karena digunakan bahan lempar oknum yang tidak bertanggung jawab.

Widodo mengakui, pemkot sempat memperbaiki Stadion Brawijaya. Selain pagar di sisi tribun utara, juga atap tribun VIP. Semuanya pada 2019.

Selain itu, pembersihan drainase juga dilakukan pemkot baru-baru ini. Menyusul  insiden lapangan tergenang ketika pertandingana berjalan.

Perbaikan drainase sebelum ini terjadi pada 2020. Saat itu, pasir yang berhasil diangkat mencapai puluhan truk!

"Itu kan pasir-pasir dari letusan Gunung Kelud," jelas pria berkumis ini. Mengindikasikan bahwa enam tahun sudah drainase itu tidak pernah dibersihkan.

Masih ada lagi bagian yang juga ‘kritis’. Seperti  bench pemain. Kursi-kursinya sudah pada sobek. Warnanya juga memudar.

Kemudian, lampu penerangan juga riskan. Ada empat bohlam, dari 96, yang mati. Membuat pertandingan malam jadi tidak maksimal.

Lalu, berapa kebutuhan biaya seandainya bagian-bagian yang rusak itu diperbaiki? Widodo mengatakan, tentu saja sangat besar.

Dia mengambil contoh pagar yang berjenis BRC-sebutan untuk pagar kawat berbahan galvanis-harga paling murah Rp 150 ribu per meter hingga Rp 200 ribu per meter.

Misalnya yang diperbaiki sepanjang 100 meter dan tingginya tetap seperti sekarang, dua meter, bisa membutuhkan anggaran antara Rp 30 juta hingga Rp 40 juta. Tapi, itu belum termasuk biaya pengiriman dan ongkos pekerja.

Lalu, ada pula biaya besar yang dibutuhkan untuk penggantian bench pemain hingga perbaikan di toilet.

Belum lagi untuk pengecatan secara menyeluruh serta perbaikan papan skor. Bila ditotal, bisa mencapai Rp 100 juta lebih!

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.   

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #pecinta sepak bola #Profil Stadion Brawijaya #stadion brawijaya kediri #jawapos #persikkediri #persikmania