JP Radar Kediri - Seperti apa layanan pemeriksaan kesehatan gratis (PKG) bagi masyarakat yang berulang tahun?
Jangan dibayangkan kado dari Presiden Prabowo Subianto mulai Senin (10/2) lusa itu berwujud general check up.
Melainkan, berupa skrining kesehatan diikuti pemeriksaan lanjutan di puskesmas.
Jarum jam menunjukkan pukul 10.00, Rabu (5/2) lalu. Namun, Puskesmas Mrican masih saja dibanjiri pasien. Mereka terus berdatangan untuk memeriksakan kesehatannya.
Jika di hari-hari biasa puskesmas 24 jam di wilayah barat Kota Kediri itu tak pernah sepi dari pasien, mulai Senin (10/2) lusa hampir dipastikan jumlah warga yang berobat ke sana akan bertambah lagi.
Selain pasien regular, mereka juga harus melayani pemeriksaan kesehatan gratis (PKG) untuk masyarakat yang berulang tahun sebagaimana program Presiden Prabowo Subianto.
“Kami sudah menggelar simulasi (layanan PKG, Red) hari ini (5/2). Memang ada kendala pada mekanisme alur pemeriksaan yang masih abu-abu,” aku Kepala Puskesmas Mrican drg Suprih Winarni.
Puskesmas, diakui perempuan yang akrab disapa Win itu masih dilematis. Yakni, apakah akan menyiapkan alur tersendiri untuk PKG atau mencampurnya dengan pasien umum.
Di satu sisi, jika dicampur dengan pasien umum akan memakan waktu lama bagi pasien regular atau mereka yang sakit. Namun, jika alur dibuat terpisah, akan butuh tenaga kesehatan tambahan. “Sedangkan tenaga kami kan terbatas,” lanjutnya.
Belum lagi, ketersediaan sarana dan prasarana (sarpras) juga jadi pekerjaan rumah (PR) tersendiri. Selain harus menyiapkan ruang tersendiri, mereka juga membutuhkan tenaga tambahan. Sebab, PKG akan melibatkan beberapa unit di puskesmas.
“Kalau ditinggal melayani yang PKG dan butuh waktu lama, kan pasiennya saja (reguler, Red) juga sudah banyak,” tandasnya sembari menyebut penyatuan layanan PKG dan regular berpotensi menimbulkan penumpukan pasien.
Bagaimana cara masyarakat agar bisa mengakses PKG? Win menyebut, mereka bisa mengajukan layanan hingga 30 hari setelah ulang tahun. Dengan begitu, sangat dimungkinkan muncul banyak permintaan di satu hari yang sama.
“Kalau sehari yang PKG enam (orang, Red) saja, itu sudah menyita waktu. Bagaimana dengan pasien yang sakit?” sambungnya.
Sesuai hasil simulasi Rabu (5/2) lalu, PKG untuk satu orang dewasa bisa memakan waktu 2-3 jam. Hal itu jika pemeriksaan dilakukan secara lengkap mulai gigi, gizi, dan laboratorium.
Dia mencontohkan, untuk kategori usia 18 tahun hingga lansia, ada lebih dari 21 kategori pemeriksaan yang harus dilakukan. Namun, pemeriksaan menyesuaikan indikasi dari masing-masing orang berdasar hasil skrining.
“Misalnya cek gula darah itu untuk yang mungkin neneknya atau ibunya diabetes dan berat badannya berlebih, itu akan dicek. Tapi kalau langsing dan tidak ada keturunan diabetes, artinya tidak ada gejala klinis, ya tidak ada indikasi untuk diperiksa gula darah,” bebernya.
Dari beberapa jenis pemeriksaan, menurut Win pemeriksaan laboratorium membutuhkan waktu paling lama. Minimal butuh waktu sekitar 50 menit. Belum lagi jika harus ditambah pemeriksaan jantung atau pemeriksaan elektrokardiogram (EKG).
Untuk bisa melaksanakan pelayanan itu dengan maksimal, pihaknya pun sudah mengajukan kebutuhan berdasar hasil simulasi. Termasuk tambahan tenaga untuk melaksanakan PKG. “Kalau mau ideal sekitar delapan (tenaga medis tambahan, Red) lah,” tandasnya.
Terpisah, Kepala UPT Puskesmas Kota Wilayah Utara dr Susana Dewi mengatakan, pihaknya juga sudah melakukan simulasi beberapa hari lalu.
Dari sana, puskesmas di Kelurahan Setonopande, Kecamatan Kota itu masih terkendala mekanisme pendaftaran dan pemanggilan. Sebab, teknisnya dipusatkan melalui aplikasi Satu Sehat.
Baca Juga: Gara-Gara Gejolak Politik dan Banjir, Banyak Warga Pecinan Angkat Kaki dari Kota Lama di Kediri
“Pada waktu simulasi harusnya mendaftar sebelumnya. Terus nanti dapat notif untuk tanggal kontrol. Itu juga belum bisa,” tuturnya.
Seharusnya, pemberitahuan melalui aplikasi itu bisa didapat masyarakat pada H-7 ulang tahun.
Namun, berdasar simulasi untuk masyarakat yang berulang tahun di 11 Februari ini, hingga kemarin belum ada yang mendapat notifikasi undangan pemeriksaan.
Integrasi dengan aplikasi menurut Susana juga terkait pelaksanaan skrining mandiri yang bisa dilakukan masyarakat. Dengan begitu, bisa mempersingkat waktu karena skrining bisa dilakukan sebelum menuju fasilitas kesehatan.
“Kalau sudah bisa dapat notifikasi, skriningnya bisa mandiri. Jadi sampai di sini tinggal pemeriksaan,” tandasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah