Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Banyak Cara Lebih Bijak, Malah Pilih Naikin Harga Pertamax?

A
Foto : Dok. SYAIKHU ALIYA RAHMAN
Foto : Dok. SYAIKHU ALIYA RAHMAN

Advertisement

Oleh: SYAIKHU ALIYA RAHMAN

JP Radar Kediri - Kebijakan ekonomi pemerintah belakangan ini kembali memicu perdebatan sengit di ruang publik. Keputusan untuk menaikkan harga Pertamax sebesar Rp3.950 per liter dan Pertamax Green sebesar Rp4.100 per liter dinilai banyak pihak sebagai langkah yang kurang sensitif terhadap kondisi riil masyarakat. Padahal, jika pemerintah mau sedikit bergeser dalam skala prioritas anggaran, beban berat ini tidak perlu dilemparkan ke pundak rakyat.

Mari kita bedah kalkulasi sederhananya. Kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green diproyeksikan mampu menghemat anggaran APBN sebesar Rp36,3 triliun. Angka yang besar, tentu saja. Namun, tahukah Anda bahwa angka penghematan yang sama—bahkan bisa mencapai Rp36 hingga Rp40 triliun sebenarnya bisa didapatkan hanya dengan memangkas sebagian kecil dari anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau program sejenis seperti Koperasi Desa (Kopdes)?

Dari sudut pandang efisiensi anggaran, kedua pilihan tersebut sama-sama menghasilkan angka penghematan yang serupa di atas kertas. Namun, dari sudut pandang dampak sosial dan ekonomi, efek domino yang ditimbulkan bak bumi dan langit.

Efek Domino Kenaikan BBM: Menghantam Kelas Menengah

Advertisement

Ketika pemerintah memilih opsi menaikkan harga BBM non-subsidi seperti Pertamax, efeknya tidak sesederhana "yang punya mobil bagus bayar lebih mahal." Fakta di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar pengguna Pertamax adalah kelompok masyarakat kelas menengah—motor penggerak utama konsumsi domestik.

Ketika harga Pertamax melambung tinggi, daya beli kelas menengah langsung tertekan. Efek berantainya sangat beracun bagi perekonomian:
 
Memicu Inflasi: Biaya transportasi dan logistik ikut merangkak naik.

Kenaikan Harga Barang: Harga kebutuhan pokok di pasar otomatis ikut terkerek.
 
Penurunan Konsumsi: Masyarakat terpaksa menahan belanja untuk hal-hal lain demi menutupi biaya energi.

Mengapa Memangkas MBG Lebih Minim Risiko?

Di sisi lain, jika pemerintah berani memangkas atau mengevaluasi ulang anggaran jumbo untuk program MBG dan Kopdes yang sifatnya masih seremonial atau baru berjalan, dampaknya justru akan menyasar ke lingkaran yang jauh lebih sempit.

Advertisement
Editor : Anwar Bahar Basalamah

Artikel Terkait

Kenapa Pertamax Naik? Ternyata Ini Alasan Pertamina Menaikkan Harga Hingga Rp16.250 per Liter

Kenapa Pertamax Naik? Ternyata Ini Alasan Pertamina Menaikkan Harga Hingga Rp16.250 per Liter

Alasan Pertamina Naikkan Harga Pertamax, keputusan ini merupakan bagian dari implementasi tata kelola energi nasional. Tujuannya adalah untuk menjaga keseimbangan

Harga BBM Terbaru per 10 Juni 2026: Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per liter, Ini Rinciannya

Harga BBM Terbaru per 10 Juni 2026: Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per liter, Ini Rinciannya

PT Pertamina Patra Niaga menaikan harga BBM nonsubsidi untuk produk Pertamax dan Pertamax Green per 10 Juni 2026

Dugaan Keracunan Massal Siswa SMPN 1 Dramaga usai Santap MBG, Menu Sate Picu Gejala

Dugaan Keracunan Massal Siswa SMPN 1 Dramaga usai Santap MBG, Menu Sate Picu Gejala

Ratusan siswa SMPN 1 Dramaga, Kabupaten Bogor, mengalami gejala keracunan massal usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Menyikapi insiden ini, Bupati Bogor

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer