JP Radar Kediri - Seringnya bencana banjir di barat sungai tak lepas dari banyaknya pepohonan yang hilang dampak dari alih fungsi hutan.
Sedikitnya ada sekitar 300 hektare lahan yang mayoritas berupa hutan kini berubah menjadi kompleks Bandara Dhoho.
Pengamat Lingkungan Endang Pertiwi mengatakan, banjir yang sering terjadi di barat sungai terjadi karena beberapa sebab. Di antaranya curah hujan tinggi selama cuaca ekstrem, hingga minimnya daerah resapan air.
“(Minimnya resapan air, Red) itu di antaranya karena dampak pembangunan bandara, pembangunan tol, dan proyek besar lainnya,” kata ketua Yayasan Hijau Daun Mandiri itu.
Perempuan asal Kelurahan Bujel, Mojoroto itu mengungkapkan, sejumlah proyek strategis nasional (PSN) itu membuat banyak lahan yang dipenuhi pepohonan itu kini berubah fungsi.
Karenanya, banjir tidak terelakkan. Sebab, pohon berperan penting dalam menampung air hujan.
Tajuk pohon, tutur Endang, bisa berperan menahan air hujan. Sehingga, tidak langsung jatuh ke tanah dan merusak strukturnya.
“Akar pohon juga bisa menyerap dan menyimpan air agar tidak langsung hanyut atau mengalir begitu saja,” lanjut Endang tentang fungsi pepohonan.
Dengan banyaknya alih fungsi lahan, peran pohon itu hilang. Karenanya, untuk mencegah banjir tidak cukup dilakukan dengan membangun infrastruktur terkait saja. Melainkan juga harus membuat vegetasi baru di lokasi yang tepat.
“Itu (vegetasi baru, Red) bisa jadi pengganti pepohonan yang hilang,” terang Endang sembari meminta pihak terkait memperbanyak ruang terbuka hijau yang berfungsi sebagai lahan resapan.
Selebihnya, Endang juga mendukung upaya normalisasi sungai yang dilakukan Pemkab Kediri. Adapun jalan terakhir dengan membuat embung atau bendungan besar untuk menampung air dari hulu juga disebut sebagai salah satu solusi. “Agar (air hujan, Red) tidak meluber menjadi banjir,” paparnya.
Tak hanya Kabupaten Kediri, menurut Endang Kota Kediri juga harus mengambil langkah serupa. Jika tidak memungkinkan membuat vegetasi baru, di Kota Kediri yang padat penduduk bisa dibuat sumur resapan dan biopori.
“Ini (biopori, Red) bisa dibuat di halaman rumah warga sehingga air hujan tidak sempat meluber dan menjadi banjir,” jelasnya.
Lebih jauh Endang menyebut, banjir menjadi problem bersama. Karenanya, harus dirumuskan solusi secara pentahelik.
Melibatkan akademisi, masyarakat, komunitas, dan pemangku kebijakan.
Masyarakat juga harus dilibatkan langsung. Kesadaran bisa ditumbuhkan dengan memampang kondisi sungai yang kotor atau daerah yang kritis.
Dengan mengetahui permasalahan pemicu banjir, diyakini Endang masyarakat akan mau untuk ikut aktif mencegah banjir. “Dan ikut bertanggung jawab terhadap lingkungannya,” tandas Endang.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah