Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Di Puhsarang Semen Kediri, Jemaat Lesehan saat Misa

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Senin, 23 Desember 2024 | 16:42 WIB
Photo
Photo

JP RADAR KEDIRI- Gereja Puhsarang terkenal dengan nilai sejarahnya. Gereja Katolik Roma di Desa Puhsarang, Kecamatan Semen, ini dibangun pada 1936. Arsitekturnya pun kental dengan nuansa Jawa.

Hasil karya arsitek populer era Hindia Belanda, Henri Maclaine Pont, itu bahkan belum lama ini dinobatkan sebagai cagar budaya nasional.

 Sebagai salah satu gereja tua di Jawa Timur, akulturasi dengan budaya Jawa sudah terjadi sejak awal dibangun.

Termasuk tradisi umat yang banyak mengadopsi kearifan lokal. Salah satu yang masih dipertahankan hingga saat ini adalah duduk bersila di lantai atau lesehan di depan altar saat misa.

“Ketinggian altar kan hampir sama, tidak terlalu tinggi (dibandingkan lantai). Maka kalau berdiri kan terlalu sejajar. Jadi rasa menghargai atau hormat itu kurang,” kata Ketua Stasi Santa Maria Puhsarang, Suwito.

Hal ini mirip dengan paseban di keraton. Tempat untuk para raja cenderung lebih tinggi. Jemaah pun harus duduk di lantai sebagai bentuk penghormatan.

“Inkulturasinya juga seperti dengan menggunakan gamelan. Tapi kalau soal pakaian, kami biasanya bebas. Pokoknya nuansanya orang Jawa,” bebernya.

Menurutnya, tidak banyak gereja yang masih menerapkan tradisi duduk bersila di lantai. Hal itu pula yang menurutnya selalu dirindukan ratusan umat yang rutin mengikuti misa Natal di gereja ini.

Tentang prosesi doa, tetap pada liturgi. Namun, misa di hari-hari besar, seperti Natal, menggunakan bahasa Jawa.

Namun, pria 62 tahun tersebut menekankan bahwa makna dari bahasa tersebut tetap sama.

 “Dari Vatikan, pusat gereja Katolik, sampai ke bawah urut-urutan doanya itu sama. Cuma kan di bahasa beda-beda. Misalkan Bapa kami, kalau di Jawa itu Kanjeng Romo. Jadi sama,” urai pria yang akrab disapa Wito itu.

Uniknya, imam misa atau Romo di sana juga harus menyesuaikan dengan tradisi tersebut.

Pernah beberapa kali, Romo yang ditugaskan dari Keuskupan Surabaya untuk memimpin ibadah di Gereja Puhsarang bukan orang yang menguasai bahasa Jawa. Sehingga, harus belajar bahasa Jawa.

“Khotbahnya bahasa Indonesia. Tapi bacaannya semua bukunya di sini kan bahasa Jawa. Jadi mereka belajar (bahasa Jawa, Red),” ungkap Suwito.

Di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Segaran, Wates, menggelar Perjamuan Kudus Advent pada 1 Desember. Dengan melakukan  puji-pujian dan doa.

Juga pemberian roti tak beragi dan anggur perjamuan yang dihidangkan di gelas khusus.

Setelah itu berlangsung Natal Katagorial. Mulai Natal lansia, Natal ibu-ibu, Natal pemuda, dan Natal anak-anak. Semuanya dilakukan di waktu yang berbeda-beda.

Selain serangkaian ibadah itu, jemaah GKJW Segaran juga punya tradisi Cinta Kasih Natal.

Ini merupakan kegiatan amal jelang natal. Bentuknya pemberian bantuan sosial kepada orang-orang yang membutuhkan.

"Sebenarnya kami tidak hanya saat momen Natal saja melakukan pemberian bantuan. Namun setiap bulan kami memberikan beras. Bedanya kalau saat ditambah gula dan uang dan sebagainya. Ada tambahannya," terangnya. 

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #misa #puhsarang #jemaat #jawapos #lesehan