JP Radar Kediri - Kondisi serupa juga terjadi di beberapa tempat wisata yang dikelola perusahaan daerah dan pihak swasta. Bahkan, ada yang benar-benar sudah tutup. Seperti Taman Agro Margomulyo, yang dikelola oleh PD Perkebunan Margomulyo.
“Pasa-covid itu diikuti lemahnya industri wisata. Tidak hanya terjadi di kami saja, (juga) di Taman Anggrek, Kampung Indian, atau Kampung Korea,” dalih Direktur Produksi PD Perkebunan Margomulyo, memberi alasan.
Padahal, Taman Agro Argomulyo memiliki daya pikat yang besar saat itu. Berada di jalur menunju puncak Gunung Kelud, destinasi ini menawarkan banyak spot yang Instagramable.
Dengan aneka bunga dan tanaman hias yang indah bermekaran. Jadilah tempat ini justru jadi jujukan, terutama bagi muda-mudi.
Tapi, itu dulu. Sekarang semuanya tinggal cerita. Taman yang indah dan penuh bunga itu kini hanya berisi semak belukar dan rumput liar.
Tak ada lagi bunga yang bermekaran. Berganti dengan kesan angker.
Suroso mengurai penyebab tempat wisatanya itu menjadi mangkrak.
Pengunjung yang menurun membuat pendapatan sangat sedikit. Tak nyucuk untuk mencukupi biaya operasional.
Praktis tak ada lagi dana untuk perawatan taman. Membuat kondisinya seperti sekarang ini, telantar.
“Wisata agro itu identik dengan tanaman. Tanaman itu pemeliharaannya relatif mahal ya daripada wisata alam,” akunya.
Pilihannya kemudian adalah mengorbankan taman wisata tersebut. Sebab, sebagai perusahaan mereka dituntut profit. Karena itu fokus diarahkan untuk menjalankan bisnis lain yang lebih menguntungkan.
Toh, pihak Margomulyo masih berkeinginan menghidupkan lagi taman tersebut. Tentu saja dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi yang membaik pasca-covid.
“Dua bulan lalu kami berusaha menggiatkan kembali dengan langkah merekrut atau kerjasama dengan konsultan. Tujuannya memberikan masukan, setelah itu dikerjasamakan,” tandasnya sembari menyebut pihaknya membuka lebar investor yang ingin masuk untuk mengembangkan Taman Agro Margomulyo.
Beda lagi dengan pengelola Kota Mungil, Imron Kanafi. Tempat wisata yang berada di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar ini juga akan dihidupkan lagi. Tentu dengan beberapa pembenahan.
“Saya renovasi, ditambahi wahana,” ucap Imron, sambil menyebut wahana bomb-bomb car.
Pria ini mengakui tak bisa bertahan bila mempertahankan konsep lama. Yang hanya menjual spot-spot foto. Karena bagi yang sudah berkunjung, kecil kemungkinan untuk kembali.
Namanya nanti juga akan ganti," jelasnya sembari menyebut tempat wisatanya akan launching Desember nanti.
Memang, dulu Kampung Mungil pernah jadi perhatian. Jaraknya yang hanya dua kilometer dari pintu masuk wisata Gunung Kelud, membuatnya juga jadi ampiran. Pandemi-lah yang membuat kondisinya terpuruk.
Sama dengan wisata tematik Kampung Korea yang juga berlokasi di Gunung Kelud.
"Dulu Kampung Korea pernah tembus 20 ribu pengunjung di hari libur Tapi, sekarang mencari 200 pengunjung saja sulit," akunya.
Di sisi lain, Imron juga berharap pada kepedulian pemerintah daerah. Terutama memperlebar akses jalan. Ini agar memudahkan pengunjung yang akan mendatangi tempat-tempat wisata ini.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah