JP Radar Kediri - Hingga Agustus, sudah ratusan orang kehilangan pekerjaan. Bahkan, ada satu perusahaan yang gulung tikar. Tanda bahwa ekonomi di Bumi Panjalu sedang tidak baik-baik saja.
Indra Kusuma berdiri di tokonya yang berada di Jalan Dhoho. Toko fashion, yang menjual aneka baju itu, terasa sepi. Tak banyak pengunjung yang datang. Apalagi yang bertransaksi.
Sang pengusaha tersebut mengakui bila penjualan di tokonya mengalami penurunan sejak beberapa bulan terakhir. Utamanya sejak Lebaran, yaitu mulai Mei hingga September.
"Penurunan sampai 25 persen ada. Relatif ya itu, tergantung apa yang dijual. Mungkin (pengusaha) yang lain ada yang lebih dari itu," jelasnya.
Demi menyelamatkan usahanya, Indra pun harus memutar otaknya. Langkah yang diambil yaitu membuat diskon besar-besaran.
Terutama Agustus lalu. Menurutnya, cara tersebut berhasil untuk menjaga penjualan di tokonya.
"Bulan delapan itu agak mending (penjualan) dengan mengorbankan keuntungan. Daripada berprinsip ambil keuntungan tapi tidak ada pembeli, tidak dapat omzet. Ya akhirnya kami buang keuntungan supaya setidak-tidaknya itu menarik minat untuk datang," bebernya.
Menurutnya, adanya diskon itu juga belum bisa mengerek penjualan secara signifikan. Indra pun mengungkapkan antusias masyarakat untuk membeli di saat diskon tidak terlalu besar.
"Dulu itu traffict-nya orang yang ketarik itu kelihatan, berbondong-bondong datang terutama pada malam hari. Ini kelihatannya dateng tapi hanya sedikit," ungkapnya.
Sebagai pelaku usaha, Indra mengaku sudah jenuh dengan kondisi perekonomian saat ini. Masalahnya, usahanya sudah terguncang pada saat pandemi Covid-19 lalu. Meski pandemi berakhir, nyatanya situasi ekonomi belum pulih hingga saat ini.
"Sepertinya dulu diramalkan setelah covid selesai ini trennya akan naik meskipun pelan. Ternyata ndak naik malah turun. Jadi sudah cukup capek pengusaha.
Lima tahun kalau seperti gini ya yang kuat yang masih bisa menahan. Kalau nggak kuat ya pasti rontok. Semoga pemerintah yang baru bisa memberikan insentif supaya bisa gerak ekonominya," tandasnya.
Situasi sulit tak hanya dirasakan Indra. Banyak pengusaha lain pun mengalami. Terbukti, gelombang pemutusan hubungan kerja dan perusahaan gulung tikar mewarnai geliat ekonomi di Bumi Panjalu.
Lebih-lebih, selaras dengan kondisi ekonomi negara, laju inflasi di Kota Kediri juga mengalami minus alias deflasi. Juga lima bulan berturut-turut. Yang menandakan bahwa kondisi ekonomi sedang tidak baik-baik saja.
Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Kediri Ibnu Imad mengatakan hingga Agustus tahun ini sudah terjadi PHK kepada 289 orang. Tertinggi ada di Agustus.
Yang disumbang sektor perdagangan, jasa, dan investasi, sebanyak 153 orang. Kemudian sektor industri dan industri dasar kimia sebanyak 31 orang.
"Sampai saat ini kalau terkait dengan PHK, ini karena sedang terjadi kontraksi jadi lumayan banyak," kata pria yang akrab disapa Ibnu ini.
Ditemui di ruang kerjanya, Ibnu menjelaskan bahwa selama ini perusahaan yang sudah dalam keadaan goyah akan berkonsultasi dengan disnaker.
Utamanya kaitannya dengan PHK yang terjadi. Sepanjang 2024 ini, ada satu perusahaan tutup lantaran merugi.
"Kami akan selalu mendorong (perusahaan yang tengah goyah) agar tidak sampai PHK.
Mungkin pengurangan jam lembur. Intinya yang paling minim (terjadi PHK). Itu upaya kami. Manakala sudah terjadi (PHK), otomatis kami dorong agar bisa memanfaatkan JKP (jaminan kehilangan pekerjaan, Red)," jelasnya.
Gelombang PHK tak hanya terjadi di kabupaten, juga di Kota Kediri. Berdasarkan data dari Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Tenaga Kerja (DInkop UMTK), PHK terjadi kepada 233 orang dengan berbagai alasan.
Mulai dari kontrak kerja yang habis, pengunduran diri, dan sebagainya. Jumlah PHK ini pun berbeda jauh dengan kondisi pada 2023, yang mana hanya tercatat 41 orang.
Apakah ini berkaitan dengan deflasi yang terjadi? Memang, sederhananya, deflasi bisa terjadi lantaran melimpahnya ketersediaan barang. Sehingga, membuat harga-harga menjadi turun.
Namun, melihat fenomena PHK yang terjadi, serta keluhan para pengusaha, yang terjadi saat ini membuktikan bahwa masalah yang dihadapi bukan sekadar melimpahnya stok.
Melainkan pada menurunnya permintaan masyarakat lantaran daya beli yang melemah. Inilah yang harus menjadi perhatian besar, terutama pemerintah dan pemangku kebijakan.
*Deflasi Beruntun Perburuk Kondisi Ekonomi*
Deflasi yang terjadi saat ini bisa memburuk kondisi ekonomi. Apalagi, sudah berlangsung selama lima bulan beruturut-turut. Karena itu, pemerintah harus memberikan stimulus untuk membantu para pelaku ekonomi.
Hal itu ditekankan oleh penngamat ekonomi Subagyo. Yang juga menyebut ada lima faktor penyebab deflasi saat ini.
Pertama, Subagyo berpendapat bahwa perekonomian saat ini belum benar-benar pulih pasca-pandemi Covid-19.
Mantan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri itu melihat bahwa masyarakat yang terkena pandemi saat PHK belum semuanya mendapatkan pekerjaan.
"Yang kedua, jumlah masyarakat berpenghasilan menengah turun," jelasnya.
Padahal, keberadaan kelas menengah menurutnya memiliki peran penting sebagai penggerak konsumsi. Mengingat daya beli kelompok ini relatif tinggi.
Lalu, ketiga, adaya penurunan dalam permintaan. Akibatnya, produksi menjadi turun. Bila terjadi terus menerus, imbasnya akan terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK). Lalu, angka pengangguran pun meningkat.
Keempat, Subagyo melihat ada kebijakan pemerintah yang mengakibatkan turunnya daya beli masyarakat.
"Seperti penyesuaian tarif listrik, peningkatan PPN (pajak pertambahan nilai, Red), penghapusan dan pengurangan subsidi harga BBM, dan naikknya iuran," lanjutnya.
Terakhir, deflasi memang bisa terjadi lantaran melimpahnya stok. Seperti meningkatknya ketersediaan cabai, tomat, telur, dan daging ayam. Umumnya, stok yang melimpah ini karena masuk musim panen.
"Kecuali faktor kelima, semua berdampak pada menurunnya daya beli," tekannya.
Lebih lanjut, melemahnya daya beli masyarakat ini akan menimbulkan masalah ekonomi yang baru.
Persoalannya, masyarakat akan mengurangi konsumsinya terhadap barang-barang non-esensial. Padahal, produk domestik regional bruto (PDRB) bergantung pada pengeluaran rumah tangga.
BI : Masyarakat Optimistis, Deflasi akibat Stok Melimpah
Ketika masyarakat dan pengusaha merasakan penurunan daya beli, hal yang berbeda dilihat oleh Bank Indonesia. Menurut bank sentral ini, beberapa indicator terkait daya beli masyarakat masih baik-baik saja.
Berdasarkan data BI Kediri, indeks keyakinan konsumen (IKK) masih di atas angka 100. Artinya, konsumen masih dalam optimisme terhadap kondisi perekonomian saat ini.
Kepala Perwakilan (KPw) BI Kediri Yayat Cadarajat menerangkan bahwa deflasi yang terjadi saat ini disumbang besar oleh bahan pangan. Meliputi cabai, bawang merah, daging dan telur ayam, tomat, hingga beras.
Penurunan harga-harga pada komoditas itu dilatarbelakangi oleh masuknya musim panen. Membuat ketersediaan barang yang berlimpah.
"Itu karena pasokan ya dan secara nasional itu bagus. Jadi memang ketika panennya bareng ya, barangnya berlimpah. Otomatis harga turun. Kan kalau konsumsi segitu-gitu aja, kecuali Lebaran," kilahnya.
Lebih jauh, pria yang akrab disapa Yayat ini menengarai belum ada indikasi daya beli yang melemah. Berdasarkan survei konsumen, daya beli masyarakat masih tergolong optimistis. Alias masih aman. Agustus lalu IKK tercatat di angka 126.
"Masih jauh ke 100, meskipun ada penurunan dari 128 (Juli 2024) ke 126. Turun dua poin, menurut saya nggak kuat untuk indikasi penurunan daya beli," dalihnya lagi.
Namun demikian, Yayat juga mewaspadai bila IKK ini terus menurun di bulan-bulan selanjutnya.
Pasalnya, kondisi tersebut menandakan optimisme masyarakat yang menurun. Sementara, faktor dari IKK yang turun ini bisa disebabkan oleh dua hal. Yaitu pendapatan dan lapangan kerja.
Terlepas dari itu, BI sudah merespon situasi perekonomian saat ini. Langkah yang diambil yaitu menurunkan suku bunga menjadi 6 persen. Harapannya, kebijakan ini akan mendorong penurunan suku bunga kredit.
Mengingat non-performing loan (NPL) usaha mikro kecil menengan (UMKM) di lembaga keuangan yang meningkat. Imbas restrukturisasi kredit yang berakhir pada akhir Maret lalu.
"Otomatis kalau kreditnya meningkat lagi kan pertumbuhan ekonominya semakin meningkat," jelasnya.
Terpisah, Direktur Utama BPR Artha Samudra Indonesia Arif Widyatmoko menyatakan berakhirnya restrukturisasi kredit memang membuat lembaga keuangan lebih berhati-hati dalam penyaluran kreditnya. Masalahnya, NPL secara nasional meningkat drastis dan melampaui angka idealnya, yaitu lima persen.
"Dampaknya langsung itu di triwulan kedua, BPR aja rata-rata nasional itu NPL sebelas persen lebih," jelasnya.
Namun demikian, permintaan kredit masyarakat menurutnya masih tinggi. Hanya saja, lembaga keuangan tidak selalu bisa memenuhi permintaan kredit untuk menjaga kualitas kredit. "Permintaan kredit sebenarny stabil tetapi closing-nya akhirnya rendah," tandasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah