Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Liputan Khusus: Menelisik Menjamurnya Toko Madura 24 Jam di Kota Kediri

Ayu Ismawati • Senin, 3 Juni 2024 | 18:26 WIB
24 JAM NONSTOP: Pemilik toko Madura di Jl Urip Sumoharjo Kota Kediri melayani pembeli sekitar pukul 21.30 (24/5). Toko dengan konsep serupa menjamur di Kediri Raya.
24 JAM NONSTOP: Pemilik toko Madura di Jl Urip Sumoharjo Kota Kediri melayani pembeli sekitar pukul 21.30 (24/5). Toko dengan konsep serupa menjamur di Kediri Raya.

JP Radar Kediri - Wanita itu merapikan barang yang ditata berderet, di toko kelontongnya yang berlokasi di Jalan Urip Sumoharjo Kota Kediri. Tempat usaha itu memang tak terlalu luas. Tapi berisi barang-barang yang relatif lengkap. Mulai jajanan kemasan, minuman dingin, sembako, es krim, hingga bensin eceran. Sebagian, terutama jajanan dalam kemasan kecil, tergantung di pintu masuk.

“Cari apa dek?” tanya wanita bernama Khasiatun, yang juga pemilik toko. 

Logatnya kental aksen Madura. Perempuan 38 tahun itu memang pendatang dari Pulau Garam itu. Ia dan suaminya memilih membuka toko kelontong 24 jam di pinggir jalan nasional ini. 

“Tokonya masih baru. Saya saja baru sebulan ngontrak di sini,” cerita wanita yang meninggalkan kedua anaknya di Madura, bersama sang nenek ini. 

Mengapa migrasi dan memilih buka toko di Kediri? “Nyoba-nyoba, dek. Dulu saya di rumah (Madura, Red) juga berdagang. Tapi dagang makanan, bikin pentol ikan. Lumayan sampai banyak pelanggan yang beli untuk dijual lagi,” jawab wanita asal Sumenep ini.

Wasi memang harus nekat mengais rupiah di kota orang. Anak sulungnya akan masuk bangku kuliah dalam waktu dekat. Sedangkan si bungsu berusia tiga tahun. Artinya, kebutuhan pendidikan dan biaya hidupnya masih panjang. Dan seperti banyak warga di tempat asalnya, dia memilih bermigrasi ke kota yang dianggap lebih ramai.

“Ada yang jualan makanan, ada juga yang buka toko,” lanjutnya. 

Dia memilih membuka toko kelontong 24 jam. Uniknya, fenomena toko yang beroperasi nonstop ini justru tidak ada di tempat asalnya di Madura. Konsep ini berkembang di tempat tujuan migrasi warga Madura. Terutama di kota-kota besar seperti Surabaya, Malang, dan Kediri. 

Mengapa memilih berdagang hingga 24 jam lamanya? Jawabannya sederhana. Wasi mengaku bakal merugi bila hanya buka toko setengah hari. 

“Kalau malam kan tetap ramai. Biasanya lebih banyak yang cari rokok atau air minum. Kalau siang aja ya rugi. Gimana cara bayar kontrakannya?” kilahnya. 

Apalagi, di Kota Kediri, malam hari masih banyak pembeli. Apalagi rata-rata lokasinya di dekat jalan utama.

“Kalau malam minggu biasanya lebih ramai,” ucap Siti. Wanita 43 tahun ini adalah pemilik toko Madura yang ada di Jalan Saharjo.

Siti tidak asal bicara. Dalam pantauan Jawa Pos Radar Kediri, selama satu jam pembeli bisa mencapai 20 orang. Kebanyakan pria yang membeli rokok maupun jajan. bila dalam sekali beli menghabiskan Rp 20 ribu, artinya omset selama sejam bisa mencapai Rp 400 ribu. Padahal, semakin malam pembeli bisa semakin banyak.

Tak hanya buka nonstop, ketika hari libur Siti dan suaminya memilih tetap membuka toko. “Kalau tutup rugi dong,” ucapnya sambil berseloroh bahwa slogan toko Madura itu hanya tutup bila kiamat.

Siti baru membuka toko kelontong ini delapan bulan lalu. Tempatnya mengontrak, yang nilainya Rp 8 juta per tahun.

Selain toko kelontong kecil, model toko Madura seperti ini juga ada yang berskala besar. Seperti Madura Mart yang ada di Jalan Panglima Sudirman. 

Toko Madura Mart tempatnya lebih luas dibanding toko Madura lainnya. Tempat ini juga melayani pembelian grosir. Meskipun lebih besar, ciri khas jual bensin eceran menggunakan mesin digital buatan sendiri masih dipertahankan.

“Madura Mart ini buka sejak enam bulan lalu. Selama itu belum pernah tutup,” terang Nia, seorang penjaga toko.

Bagaimana tanggapan pihak Pemkot Kediri terkait fenomena toko ‘yang hanya tutup saat kiamat’ ini? “Tidak ada yang melarang toko beroperasi selama 24 jam,” aku Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Kediri Edi Darmasto.

Apalagi, pihak Kementerian Perdagangan juga tak menerbitkan larangan. Meskipun, dia mengakui sempat ada permasalahan di kota-kota lain yang menjadikan toko Madura jadi polemik.

“Pantauan kami selama ini berjalan baik juga di Kota Kediri. Kami belum menemukan potensi konflik. Kalau ada, pasti akan kami komunikasikan dengan berbagai pihak,” bebernya.

Di sisi lain, Edi justru menyebut kemunculan toko Madura 24 memberi dampak yang positif. Salah satunya memberi kemudahan bagi masyarakat sekitar. 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram"Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. 

 

 

 
Editor : Anwar Bahar Basalamah
#24 jam #warung 24 jam #Toko Madura #pemilik toko #kota kediri