Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mengubah Stigma Penyintas Lupus Tak Bisa Kerja di Bawah Terik Matahari

Emilia Susanti • Jumat, 10 Mei 2024 | 18:56 WIB
Photo
Photo

KEDIRI, JP Radar Kediri - Febri didiagnosa menderita penyakit lupus sekitar tiga tahun yang lalu. Saat mendengar vonis itu, pemuda 27 tahun ini memilih tetap tenang. Mencoba mempercayai dokter yang meyakinkan bahwa penyakit ini tak menghalanginya beraktivitas seperti orang pada umumnya. Tetapi dengan catatan harus menjalani perawatan rutin.

“Harus kontrol setiap satu bulan sekali,” kata pemuda asal Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri ini.

Selain kontrol, Febri juga harus mengonsumsi obat setiap hari. Ada dua jenis obat yang diminum. Satu di pagi hari dan satu lagi sore hari. Harus rutin, bila tak ingin penyakit lupusnya kambuh.

“Terus setiap tiga bulan sekali ada cek darah,” tambah pemuda lajang ini.

Semua instruksi ini dilakoni dengan baik oleh Febri. Membuat penyakit yang menyerangnya itu mampu terkontrol. Lupus yang dia idap tak pernah kambuh.

Bahkan, dia melakukan satu hal yang sedikit menentang pantangan oleh dokter. Dengan berani dia melakukan pekerjaan yang seharusnya dihindari oleh penderita lupus. Bekerja di luar ruangan, di bawah terik matahari.

“Saya fotografer yang kerjanya banyak di lapangan,” ujar pria yang bekerja di salah satu perusahaan besar di Kediri Raya ini.

Tentu saja, mulanya ada kekhawatiran tersendiri mengambil pekerjaan tersebut. Dia bahkan harus berkonsultasi terlebih dulu dengan dokternya di RSUD Moewardi Solo. Dan tentu saja, sarannya adalah untuk bekerja di tempat yang terhindar dari paparan sinar matahari.

“Tapi saya sukanya motret. Dan itu otomatis banyak di lapangan. Nah di situ dokter akhirnya sekalian menantang untuk nyoba dua atau tiga bulan. Bisa apa enggak,” jelasnya.

Akhirnya, Febri pun berhasil membuktikan bahwa stigma penderita lupus tak bisa bekerja di bawah terik matahari bisa dia ubah. Dia berhasil menjalani pekerjaannya di bidang fotografi selama kurang lebih tiga tahun.  Meskipun ada hal-hal yang harus dilakukannya agar penyakit lupus itu tidak kambuh.

“Kalau saya pakai lengan panjang terus pakai sarung tangan. Nggak harus pakai baju panjang, bisa pakai tabir surya. Kalau saran dokter ya kalau bisa pakai payung, tapi nggak harus sebegitunya juga,” urainya.

Selain hal-hal tersebut, menurutnya, juga penting untuk mengetahui kapan saatnya bekerja dan istirahat. Sehingga, penting baginya untuk mengenali diri sendiri. Lalu, yang tak kalah penting adalah mengindari stres.

“Ya pinter-pintere mengelola stres. Ya walaupun ga cuman lupus yang bisa kambuh gara-gara stres,” candanya.

Hingga akhirnya, dengan mengetahui lupus membuat Febri lebih peduli dengan kondisi tubuhnya. Lebih bisa menerapkan pola hidup yang lebih sehat. Pasalnya, dia tak ingin lagi merasakan nyeri sendi yang membuatnya susah berjalan.

“Itu benar-benar sakit sampai ga bisa dibuat jalan. Kalau sekarang sudah tahu karena penyakit lupus, jadi ya gimana caranya biar nggak kambuh,” tandasnya.

 

Wanita Banyak Terkena, Susah Kenali Gejala Awal

 

Penyakit lupus tidaklah mudah dikenali. Gejalanya bisa berbeda-beda pada setiap orang. Ada yang ruam-ruam di kulit, ada juga yang mengalami nyeri sendi. Lebih parahnya, ada yang tergganggu organ dalamnya. Mulai dari ginjal, paru-paru, hingga jantung.

Dokter Badrul Munir menjelaskan bahwa penyakit ini banyak diderita oleh orang di kelompok usia muda. Mulai dari usia 19 – 44 tahun. Dari rentang usia itu, yang paling dominan adalah kaum hawa.

“Perbandingannya satu banding sepuluh,” jelas pria yang juga ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Kediri ini.

Menurutnya, tidak mudah bagi dokter memastikan apakah penyakit yang diderita oleh pasien tersebut tergolong lupus atau bukan. Pasalnya, gejala penyakit lupus tak jauh berbeda dengan penyakit lainnya. Oleh karenanya, untuk benar-benar memastikan apakah benar lupus harus dilakukan tes.

“Ada tes ANA (antinuclear antibodies test, Red). Ada juga ANA Profile, itu lebih rinci lagi,” jelasnya sembari menyebut tes itu dilakukan dengan mengambil sampel darah.

Kemudian, pria yang akrab disapa Badrul itu menambahkan bahwa sangat penting juga bagi dokter memberikan analisa awal. Apakah gejala itu mengarah ke lupus atau penyakit lainnya. Mengingat hal ini berkaitan dengan penanganan penyakit.

“Dulu ada pasien dikiranya TBC perut. Ternyata setelah dilakukan pemeriksaan ternyata lupus. Setelah itu, penanganannya diubah dan bisa tertangani,” terangnya.

Baca Juga: Lipsus Imlek: Warga Tionghoa Kediri, dari Bisnis, Mereka Ada yang Berpindah ke Bidang Politik dan Budaya

Selanjutnya, dia menekankan bahwa penderita lupus memang sebaiknya menghindari sinar matahari. Pasalnya, sinar matahari bisa mengaktifkan sistem imun. Yang membuat penyakit lupus bisa kambuh.

“Kalau bisa memakai payung atau pakaian yang longgar dan ringan,” tandasnya.

Di sisi lain, Badrul juga berpesan agar para penderita lupus untuk selalu rajin melakukan kontrol serta meminum obat. Menurutnya, mereka juga harus bersyukur lantaran bisa mengetahui penyakit yang mengganggu adalah lupus. Dengan begitu, penanganan yang diberikan oleh dokter akan tepat.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #kediri #hari lupus sedunia #perawatan penderita lupus #lupus #jawa pos