KEDIRI, JP Radar Kediri - Menjelang akhir semester genap seperti sekarang, para siswa sekolah menengah atas (SMA) dan yang sederajat akan sibu mempersiapkan diri. Mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi negeri (PTN) yang dikemas dalam seleksi nasional penerimaan mahasiswa baru (SNPMB).
Seperti tahun-tahun sebelumnya, cara masuk menjadi mahasiswa PTN itu dibuka dalam tiga jalur. Pertama, melalui seleksi nasional berdasarkan prestasi (SNBP). Kemudian, ada seleksi nasional berdasarkan tes (SNBT). Terakhir, ada seleksi mandiri bagi yang tidak lolos di dua jalur pertama.
Khusus untuk jalur SNBP, menjadi yang pertama dibuka. Kini, calon mahasiswa baru yang mendaftar jalur tersebut hanya menunggu pengumuman saja.
Nah, yang perlu diketahui oleh calon mahasiswa itu adalah, tidak ada lagi peluang untuk ‘coba-coba’. Sebab, ada perubahan yang signifikan dalam seleksi masuk PTN ini. Siswa yang sudah dinyatakan lolos dan diterima di satu jalur tidak bisa lagi mendaftar di jalur lain.
“Kalau dulu, misalnya, anak yang lolos jalur SNBP atau jalur prestasi tapi ternyata tidak cocok dengan jurusan atau perguruan tinggi yang dia pilih masih bisa ikut jalur mandiri. Sekarang tidak bisa lagi,” terang Ayu Febri Eka Putri, guru Bimbingan Konseling (BK) di salah satu SMA negeri di Kota Kediri.
Artinya, peluang siswa menjadi ‘kutu loncat’ dalam seleksi PTN tertutup. Mereka harus berhitung dengan cermat sebelum memutuskan memilih jurusan yang diambil. Terutama dalam jalur prestasi.
Sanksinya juga tak tanggung-tanggung. Siswa yang lolos namun tidak jadi mengambil jurusan tersebut akan di-blacklist dari jurusan lainnya. Nama siswa-siswa yang lolos dinyatakan terkunci di jalur tersebut.
“Untuk anak yang belum punya kesempatan masuk eligible atau belum lolos, dia punya kesempatan lebih besar. Karena temannya enggak akan ngambil lagi jatahnya dia di jalur mandiri atau UTBK,” sambung pengajar asal Kecamatan Grogol itu.
Sebagai tenaga pendidik, bagi Ayu, aturan baru itu merupakan bentuk kompromi yang baik untuk semua pihak. Di satu sisi, perguruan tinggi tidak akan direpotkan dengan kursi kosong yang ditinggalkan peserta didik. Di sisi lain, kesempatan untuk siswa lainnya juga lebih besar.
“Kalian sudah saya terima dengan jalur ini, peminatnya banyak, terus mbok tinggalkan dengan seenaknya, pasti tersinggung. Sehingga muncullah kebijakan itu,” sambungnya berargumen tentang urgensi penerapan aturan baru itu dari sudut pandang lembaga pendidikan.
Lebih dari itu, siswa juga dituntut bisa menentukan jurusan dan kampus incarannya dengan serius. Segala pertimbangan harus dipikirkan matang-matang. Termasuk mempertimbangkan peluang lolos dan prospek karir ke depannya.
“Anak-anak harus benar-benar menurunkan ego. Khususnya di jalur prestasi, lebih penting yang dilihat itu peluangnya dibandingkan minatnya. Apalagi bagus-bagusan kampus atau jurusan,” tandasnya.
Ia mencontohkan, pola pikir siswa dan wali siswa seharusnya lebih terbuka terhadap perguruan tinggi dan bidang keilmuannya. Bahwa masih banyak jurusan—selain jurusan favorit—yang peluang karirnya terbuka lebar. Bahkan, dengan persaingan yang tidak terlalu ketat.
“Kami dulu lama sosialisasinya. Menanamkan pemahaman ini ke anak-anak juga kita mulai jauh-jauh hari. Bahkan dari kelas 11. Dan itu kami intensifkan setiap jam pelajaran BK,” tekannya.
Terbukti, hingga mendekati masa penutupan pendaftaran SNBP, masih banyak siswa yang belum memantapkan pilihannya. Maksimal dua pilihan program studi di jalur SNBP masih membuat siswa kelimpungan.
“Ada yang bilangnya, tapi saya juga ingin di sini, Bu. Karena bingung pilihannya ada tiga. Ada juga yang pilihannya nggak sesuai sama keinginan orang tua,” urainya sembari menyebut, berbagai kasus klise itu harus diselesaikan dengan komunikasi antara siswa, guru, dan wali siswa.
Sementara itu, Kasi SMA PK-PLK Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kediri Chairul Effendi mengatakan, kebijakan baru itu tidak hanya mendorong siswa lebih bertanggung jawab dengan pilihannya. Melainkan juga memberi kemudahan bagi sekolah.
“Biasanya kalau ada sekolah atau siswa yang diterima perguruan tinggi lewat SNBP dan tidak dimasuki, adik kelasnya rugi. Karena biasanya sekolah diberi catatan khusus sampai di-blacklist (oleh perguruan tinggi),” ujarnya.
Mengantisipasi hal tersebut, tim khusus bahkan dibentuk untuk mempersiapkan siswa sebaik mungkin. Baik di cabang dinas pendidikan maupun di tiap lembaga pendidikan menengah atas di Kediri Raya.
“SNBP kan peluang anak untuk bisa diterima di perguruan tinggi tanpa tes. Jadi tim ini dibentuk sebagai upaya meningkatkan kuantitas dan kualitas. Yang diterima di SNBP banyak, dan perguruan tingginya juga yang berkualitas,” tandasnya sembari menyebut, tim di setiap sekolah diwajibkan mengarahkan siswa memilih peluang terbaik dalam seleksi perguruan tinggi.
Mana yang Lebih Penting, Minat atau Peluang?
“Awalnya ingin program studi hokum. Tapi orang tua nggak setuju,” ujar Dewanti Belinda. Gadis ini adalah salah satu pendaftar SNBP dari Kota Kediri.
Siswa kelas XII itu harus berpikir ulang tentang pilihan program studinya. Jalur prestasi itu memang dikenal sebagai jalur ‘taruhan’. Siswa bertaruh dengan nasib. Jika beruntung, bisa dengan mudah lolos seleksi perguruan tinggi tanpa tes. Tentunya, dengan mempertimbangkan di mana peluang paling besar berada.
Akhirnya, siswa MAN 2 Kota Kediri itu harus mengubur minatnya kuliah di jurusan hukum. “Jadinya memilih yang sebelas-dua belas dengan hukum. Dan lebih disetujui di situ juga sama orang tua. Kebetulan ranking atas dan bawah nggak ada yang ambil itu. Jadi insya Allah peluangnya lebih besar,” ujar Belinda, yang akhirnya menjatuhkan pilihan di Program Studi Ilmu Politik Universitas Brawijaya.
Meski begitu, pelajar 18 tahun itu antusias menceritakan impiannya melanjutkan pendidikan di kampus yang diincarnya. Walau sempat goyah dengan pilihannya di menit-menit terakhir.
“Kemarin nyari-nyari sendiri informasi kuliah. Orang tua hanya mengarahkan dan bilang, Kamu di situ berani ambil risiko nggak?” ucapnya menirukan pesan orang tua.
Karena aturan seleksi yang ketat tahun ini, ia pun dituntut untuk mempertimbangkan pilihan dengan matang. Termasuk, bertanggung jawab dengan pilihannya jika dinyatakan lolos. Jauh sebelum mendaftarkan diri, ia harus serius dan mantap dengan pilihannya.
“Karena ingin punya karir di ranah politik. Dan orang-orang politik juga terkadang kritis dan analitik. Jadi bisa mengasah pikiran kritis aku lebih jauh,” tandas pelajar yang aktif di berbagai kegiatan sosial dan organisasi itu.
Berbeda dengan Belinda yang melepaskan minatnya untuk peluang yang lebih besar, Raisa Aliya Lestari justru sebaliknya. Pelajar SMA Negeri 2 Kota Kediri itu lebih memprioritaskan minatnya.
Pelajar yang akrab disapa Raisa itu memilih memaksimalkan pilihan di jalur prestasi. Program Studi Kedokteran di Universitas Gajah Mada menjadi pilihan satu-satunya. Keputusannya bulat meski sekolah sempat memberikan pertimbangan lain dengan peluang yang lebih besar.
“Nggak semua orang bisa masuk lewat jalur SNBP. Hanya yang diberi kesempatan. Dari pada menyesal, pilih yang tinggi sekalian. Jadi kalau nggak keterima, masih bisa ikut jalur lainnya,” ujar siswa kelas XII itu.
Praktis, Raisa harus bersiap dengan rencana B. Itu jika keberuntungan lolos di jalur tanpa tes belum berpihak padanya. Masih ada jalur seleksi nasional berdasarkan tes (SNBT)—atau dikenal dengan UTBK—yang bisa jadi gerbang masuknya menuju perguruan tinggi.
“Memang sudah tahu risikonya, kalau persaingannya bakal berat. Tapi yang namanya cita-cita harus tetap diperjuangkan,” tandasnya yang sudah mempersiapkan diri untuk ujian masuk perguruan tinggi sejak di bangku kelas X.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah