Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Lipsus Imlek: Merangkai Puzzle Sejarah Kapan Awal Mula Warga Tionghoa Datang ke Kediri?

Ayu Ismawati • Sabtu, 10 Februari 2024 | 16:11 WIB
MEMBELAH KEDIRI: Sungai Brantas menjadi jalur transportasi penting di masa lalu.
MEMBELAH KEDIRI: Sungai Brantas menjadi jalur transportasi penting di masa lalu.

KEDIRI, JP Radar Kediri - Sejarah dan kebudayaan Kediri tak pernah lepas dari keberadaan warga keturunan Tionghoa. Mereka menjadi entitas yang berpengaruh pada perkembangan masyarakat secara umum.

Pertanyaannya adalah, kapan warga Tionghoa ini pertama kali datang ke Kediri?

“Warga Tionghoa sudah ada di Kediri sejak ratusan tahun yang lalu.” Kalimat itu diucapkan oleh seorang budayawan asal Kota Kediri Yap Swie Lay. Tentu, ini bukan sekadar omongan tanpa dasar. Karena sang budayawan punya beberapa bukti.

Pertama, melihat usia klenteng yang berdiri di Kelurahan Pakelan, Kecamatan Kota. Tempat ibadah Tridharma bernama Tjoe Hwie Kiong itu dibangun pada 1817. Artinya, usianya sudah 207 tahun.

Namun, pria yang bernama Indonesia Sunaryo ini menegaskan bahwa warga Tionghoa sudah menetap di Kediri jauh lebih lama dari usia klenteng itu. Menyitir dari beberapa catatan sejarah, arus migrasi warga Tiongkok paling besar terjadi di era Dinasti Ming. Yaitu mulai 1368 hingga 1644 Masehi.

Ada beberapa alasan warga Tiongkok keluar dari negaranya. Salah satunya adalah berdagang. Rute yang dilewati bisa melalui Jalur sutra. Mulai dari Vietnam, Kamboja, hingga berakhir di Selat Malaka.

Dari Selat Malaka, tutur pria kelahiran 1945 ini, mereka menyebar ke beberapa wilayah di sekitarnya. Termasuk ke Pulau Jawa. Apalagi, masa-masa itu, denyut perekonomian di pulau ini sangat berkembang pesat. 

Di Pulau Jawa, warga Tionghoa ini menyebar ke berbagai wilayah. Tapi, yang paling banyak adalah di pesisir pantai utara. Memanjang dari Semarang hingga Surabaya. Kemudian menyebar lagi ke daerah-daerah yang lebih dalam, ke wilayah daratan seperti Kediri.

Menariknya, pergerakan mereka dari pesisir ke wilayah daratan tak hanya melalui jalur darat. Juga melalui air, yaitu Sungai Brantas. Satu hal yang bisa dimaklumi karena Sungai Brantas ini dulu merupakan jalur transportasi dengan perahu besar. Karena dalam dan lebarnya ukuran sungai.

"Dulu di Kediri ada pelabuhan. Tempatnya di selatan Jembatan Lama Kota Kediri saat ini. Jadi tempat aktivitas menurunkan penumpang maupun barang dagangan," terang Sunaryo.

"(Pelabuhan) itu sudah ada sebelum masa penjajahan," sambungnya.

Jalur Sungai Brantas ini juga tetap digunakan hingga beratus-ratus tahun kemudian.  

Yap Swie Lay menjadi saksi sejarah peristiwa itu. Adalah sang ayah, Yap Boen Shiong- warga Tiongkok asli- merantau ke Kediri menggunakan jalur sungai. Tepatnya pada 1930. 

Ayahnya akhirnya menetap di Kota Kediri. Alasannya sudah banyak warga Tionghoa-nya.

“Papah saya warga Tiongkok asli. Merantau ke sini hanya dengan satu temannya,” tambahnya.

Sayang, jalur sungai ini tak digunakan terus. Setelah Indonesia merdeka arus warga Tiongkok ke Kediri macet. Penyebabnya adalah kondisi politik yang memanas. Apalagi, Belanda datang lagi dengan melakukan beberapa kali agresi militer.

“Setelah itu, hanya warga Tionghoa keturunan yang ada di Kota Kediri,” tuturnya. 

Potongan puzle sejarah yang disampaikan Yap Swie Lay itu selaras dengan paparan yang disuguhkan pegiat sejarah Kediri Ahmad Zainal Facris. 

Meskipun, dia menyebut sangat sulit untuk memastikan waktu yang pas kapan pertama kali warga etnis Tionghoa menginjakkan kakinya di Kediri.

"Sungai Brantas erat kaitannya dengan kehadiran warga Tionghoa di Kediri," tegas pengajar sejarah di MAN 2 Kediri ini.

Salah satu peristiwa paling dikenang dalam sejarah adalah kronfontasi antara Kerajaan Kadiri, yang saat itu dipimpin Jayakatwang, dengan pasukan Tiongkok dari Dinasti Yuan. Saat itu Kekaisaran Tiongkok dikuasai oleh Bangas Mongolia yang dipimpin Kubilai Khan.  

Jayakatwang memang kalah karena tipu daya tipu daya Raden Wijaya yang bersekutu dengan Pasukan Tartar dari Mongol itu. Namun, peristiwa itu menghasilkan istilah Jongbiru yang kini jadi nama wilayah.

"Itu dari kata Jung Biru. Jung itu artinya kapal. Dulu Sungai Brantas memang jalur transportasi menuju Pantai Utara," terang Facris.

Kisah pertempuran itu hanyalah satu dari sekian versi masuknya etnis Tionghoa ke Kediri. Karena arus migrasi yang lebih besar sulit diidentifikasi kepastiannya. Termasuk asal muasal etnis yang juga bermacam-macam. 

“Karena marganya pun macam-macam. Rata-rata dari China (Tiongkok, Red) Selatan,” imbuhnya. 

Facris adalah satu dari sekian pegiat sejarah yang meyakini komunitas etnis Tionghoa sudah ada di Kediri jauh sebelum peristiwa besar itu terjadi. Argumentasi itu tak terlepas dari arti penting Sungai Brantas yang menjadi urat nadi perdagangan.

  Baca Juga: Upacara dan Atraksi Silat Warnai Peringatan Hari Santri di Ponpes Lirboyo

“Saya membaca naskah kitab Gatutkaca Sraya yang dikarang pada zaman Kadiri, itu sudah dikenal berbagai macam kata serapan dari Bahasa Arab. Artinya dulu pedagang asing di sini sudah banyak. Terutama lewat jalur Brantas,” urainya. 

Melalui penelitiannya di awal 2000-an, banyak ditemukan mata uang berbentuk koin atau gobok dari aktivitas penambangan pasir liar. Diperkirakan mata uang itu dari era kerajaan Tiongkok berabad-abad silam.

Seiring perjalanan waktu, komunitas warga Tionghoa menyatu dan berbaur dengan warga pribumi. Mereka kemudian juga berperan penting saat era kolonial. 

Karena Pemerintahan Kolonial Belanda membagi wilayah berdasarkan etnis. Warga Tionghoa dikumpulkan di Pecinan yang dipimpin pejabat yang berlabel Kapitan China.

“Rumahnya dulu yang sekarang menjadi tempat restoran cepat saji itu, di Jalan Brawijaya," bebernya.

Di masa kolonial ini, etnis Tionghoa punya pengaruh besar bagi kehidupan masyarakat secara umum. Karena Belanda menerapkan politik etnis. Loyalitas warga etnis Tionghoa dijadikan kepanjangan tangan pemerintah kolonial waktu itu. 

“Belanda tidak mau langsung berhubungan dengan pribumi, tapi lewatnya orang China. Karena mereka tahu, mereka sudah lama bergaul dengan pribumi,” terang alumnus Universitas Negeri Malang ini. 

Yang tidak berubah, menurut Facris, sejak dulu hingga sekarang etnis Tionghoa dikenal dengan keunggulannya dalam berdagang. Mereka memilih Kediri karena tanahnya yang subur dan keberadaan Sungai Brantas sebagai akses transportasi perdagangan utama. Tak heran bila Kediri jadi rebutan pebisnis sejak masa kerajaan. 

“Sekarang jejak-jejak budaya itu masih lestari. Ada Klenteng, perayaan Imlek, Gie Kie (rumah duka Etnis Tionghoa, Red), termasuk masih punya tempat pemakaman khusus yang sekarang di Gunung Klotok,” pungkasnya.

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#kediri #sejarah #imlek