Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Lipsus Prostitusi Kota Kediri: Tiap Bulan Satu Orang Meninggal karena HIV

Anwar Bahar Basalamah • Jumat, 1 September 2023 | 17:33 WIB

Photo
Photo

Makin beragamnya tempat dan modus prostitusi, membuat penyakit yang sering menjadi penyertanya meningkat. Di semester pertama tahun 2023, setidaknya ada enam orang meninggal karena kasus human immunodeficiency virus (HIV). Jika dirata-rata, setiap bulan ada satu orang tumbang melawan penyakit yang menyerang daya tahan tubuh tersebut.

Data yang dihimpun koran ini menunjukkan, di semester pertama tahun ini (Januari-Juni), total ada 96 kasus baru HIV yang terdeteksi. Adapun data kumulatif orang dengan HIV dan Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) atau ODHA, hingga semester awal 2023 ini mencapai 696 orang.

Terkait banyaknya kasus HIV/AIDS di Kota Kediri, Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Kediri Hendik Suprianto melalui Subkoordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Roni Sabachtani menyebut kasus ini tak ubahnya fenomena gunung es. Yang terlihat di permukaan hanya sebagian kecil saja.

Hal tersebut menurut Roni karena kuatnya stigma dari masyarakat terhadap HIV/AIDS. Sehingga ODHA menutup diri. “Yang tidak terdata pasti jumlahnya lebih banyak lagi,” kata Roni.

Dari puluhan kasus di semester pertama tahun ini, menurut Roni sebanyak 69 di antaranya laki-laki. Kemudian, 27 sisanya perempuan. “Paling banyak memang dari kelompok LSL (lelaki seks dengan lelaki, Red),” lanjut Roni.

Yang memperihatinkan, temuan kasus paling banyak justru dari usia produktif. Hal itu tak lepas dengan mobilitas orang-orang di rentang usia 20-34 tahun yang cederung lebih tinggi. “Itu juga yang bikin sulit untuk tracing karena tersebar. Berbeda dengan penyakit endemis,” terangnya.

Ia juga tak menampik adanya kecenderungan kelompok risiko tinggi (risti) yang semakin menyebar setelah lokalisasi dibubarkan. Hal tersebut jadi tantangan bagi tenaga kesehatan untuk memetakan hotspot. Yaitu, lokasi-lokasi yang disinyalir jadi tempat penularan virus HIV. Termasuk di antaranya kos-kosan, tempat karaoke, dan kafe-kafe tertentu.

“Kalau penyakit endemis kita bisa menentukan trennya. Seperti di bulan yang sama tapi tahun yang berbeda, terkadang kita bisa membuat analisanya. Tapi kalau untuk HIV itu banyak sekali pengaruhnya. Salah satunya penutupan lokalisasi,” paparnya.

Jika dulu petugas kesehatan tinggal melacak di eks lokalisasi, sekarang pengambilan populasi berisiko lebih sulut lagi. Sebab, tidak terkumpul di satu tempat. “Kalau dulu dari lokalisasi kita bisa melacak konsumenmu mana saja. Tapi kalau sekarang otomatis kita harus cari,” imbuhnya sembari menyebut pembubaran lokalisasi bukan hal yang salah. Apalagi, kasus HIV/AIDS juga tidak bisa selesai hanya dengan melokalisasi populasi berisiko.

Petugas kesehatan, diakuinya harus mengambil terobosan agar bisa mengurai permasalahan tersebut. Termasuk Ketika saat ini banyak modus-modus prostitusi yang baru.

Seperti diketahui, prostitusi kini banyak beralih ke online. Kini marak promosi-promosi prostitusi di media sosial. Pelaku dan konsumennya bisa berasal dari mana saja. Tempat pertemuan yang dipilih juga bervariasi. “Istilahnya populasi berisiko yang tersamarkan. Seperti kos-kosan, kafe, tempat karaoke dan lainnya,” tandasnya.

Memastikan kasus HIV/AIDS terkendali, Roni menyebut pihaknya berusaha menjangkau populasi tersebut. Salah satunya lewat petugas lapangan hingga melibatkan lembaga swadaya masyarakat(LSM).

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#psk #prostitusi online #hiv #prostitusi