Jeda Yang Menyelamatkan

Shinta Nurma Ababil • Dipublikasikan Minggu, 4 Oktober 2026 | 09:03 WIB
Ilustrasi tangan yang memegang pena bulu menulis di atas kertas kosong ditemani cahaya lilin.
Ilustrasi tangan yang memegang pena bulu menulis di atas kertas kosong ditemani cahaya lilin.

JP Radar Kediri - Kadang, berhenti sejenak bukan berarti menyerah, tetapi cara paling jujur untuk kembali kuat.

Pagi itu, langit masih diselimuti kabut tipis ketika Vina bersiap berangkat ke kampus. Seperti biasa, pikirannya sudah dipenuhi banyak hal. Tugas yang belum selesai, revisi proposal, jadwal organisasi, dan pesan-pesan yang belum sempat dibalas.

Ia merasa semakin sibuk, semakin produktif dirinya.

Namun, hari itu tubuhnya berkata lain.

Di tengah perkuliahan, kepalanya terasa berat. Pandangannya mulai berkunang-kunang. Ia mencoba bertahan, tetapi semakin dipaksakan, semakin sulit berkonsentrasi.

“Ah, mungkin cuma capek,” gumamnya.

Sepulang kuliah, Vina langsung merebahkan diri di kasur. Ponselnya penuh notifikasi, tetapi untuk pertama kalinya ia tidak buru-buru membukanya.

Ia hanya diam.

Beberapa menit kemudian, pikirannya mulai terasa lebih tenang.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Vina membiarkan dirinya tidak melakukan apa-apa. Tidak mengerjakan tugas. Tidak memikirkan deadline. Tidak mengecek media sosial.

Ia hanya duduk di dekat jendela sambil menikmati secangkir teh hangat.

Dari luar, terdengar suara burung dan kendaraan yang sesekali lewat. Cahaya sore masuk perlahan melalui celah tirai.

Ternyata, diam tidak semenakutkan yang ia bayangkan.

Malamnya, Vina membuka buku catatan kecil miliknya. Ia menulis:

"Selama ini aku lupa bahwa aku juga manusia. Aku bukan mesin yang harus selalu produktif. Istirahat bukan berarti malas. Mungkin aku hanya perlu memberi diriku sendiri sedikit ruang."

Keesokan harinya, Vina kembali ke kampus dengan perasaan yang berbeda. Masalahnya memang belum semuanya selesai. Tugas masih ada. Revisi masih menunggu. Jadwal organisasi juga tetap padat.

Tetapi kali ini ia tidak ingin menyelesaikan semuanya sekaligus.

Ia mulai belajar menentukan mana yang harus dikerjakan lebih dulu dan mana yang bisa menunggu.

 Baca Juga: Cerpen : Surat Ratu Wihelmina

Vina akhirnya mengerti, hidup bukan tentang seberapa banyak hal yang mampu kita selesaikan dalam sehari. Kadang, yang lebih penting adalah bagaimana kita menjaga diri agar tetap mampu melangkah pada hari berikutnya.

Sejak saat itu, ia tidak lagi merasa bersalah ketika membutuhkan waktu untuk berhenti.

Sebab ia tahu-

Kadang, yang paling berani bukanlah mereka yang terus berjalan, tetapi mereka yang tahu kapan harus berhenti untuk mengumpulkan tenaga.

Nama: Tahta Alvina

Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri

Editor : Shinta Nurma Ababil
mahasiswa cerpen