Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Cerpen : Surat Ratu Wihelmina

Afrizal Saiful M • Selasa, 6 Januari 2026 | 22:12 WIB
Photo
Photo

 

 

 

 

Karya: Joni Hendri

Di tepi sungai, udara berwarna perak mengalir saat senja, Sultan duduk memandangi air yang beriak pelan itu. Menghanyutkan segala sesuatu yang gudah juga luka-luka. Di tangannya, sebuah surat bersegel merah dengan lambang singa Belanda, surat itu dari Ratu Wilhelmina, sahabatnya yang jauh di Eropa. Ia membuka dengan hati bergetar. Tinta biru itu masih harum baunya, dan sejuk seperti musim dingin di Belanda.

Yang mulia Sultan, atas nama pemerintah Belanda, saya menyampaikan bahwa wilayah Sultan, akan sepenuhnya berada di bawah perlindungan dan administrasi negeri kami. Semoga Sultan memahami bahwa keputusan ini diambil demi kesetabilan dan perdamaian. Keputusan ini juga hasil dari persetujuan dari sebagaian persahabatan kita.

Sultan menatap tajam surat itu, membacanya sangat lama. Di balik kalimat itu membuat cedera, menyimpan rasa yang mendalam, seolah-olah sahabatnya itu sedang mencabik-cabik harga dirinya. Membut ia terjejas parah. Terasa didustakan segala perjanjian persahabatannya. Gemuruh darah dalam dada berguncang hebat. Artinya kekuasaannya telah kehilangan kedaulatan. Ia memejamkan mata, mengingat masa ketika surat-surat Ratu dulu penuh dengan kata “sahabat”, bukan “perintah”. Tiba-tiba berubah begitu cepat. Seakan-akan pesan itu menampilkan bahwa Ratu Wilhelmina selama ini mempermaikannya sebagai sahabat.

Beberapa tahun sebelumnya, ketika hubungan mereka baru terjalin, surat-surat itu membawa harapan. Sultan menulis dengan tangan yang ikhlas penuh dengan kejujuran layaknya sahabat. Setiap paragraf sarat dengan kalimat yang bernafas panjang, yang ditata rapi layaknya syair Melayu.

 "Aku tahu Belanda memiliki kekuasaan yang luas. Seluas samudra yang menghempaskan gelombang. Dan aku ingin kita bersahabat sebagai manusia, seumpama ikan dan laut. Bukan penguasa yang menjajah wilayah kekuasaan sahabatnya sendiri. Kemudian meninggalkan luka-luka yang penuh nanah sebagai respons dari efeksi keakraban kita."

Ratu Wilhelmina membalas surat Sultan dengan kehangatan. Sambil menikmat musim dingin yang sedang tiba. Ia mencoba menenangkan Sultan melalui surat yang ia kirimkan. Sambil meyakinkan semua suarat-surat yang pernah dikirm itu menjadi sesuatu yang tidak berbelit-belit. Tidak ada maksud lain dari persahabatan tersebut. Seolah-olah dunia politik di Eropa bisa dikendali.

 "Kau memang sangat berbeda Sultan. Hatimu jernih, dan aku ingin dunia tahu bahwa persahabatan kita bukan karena tunduk pada senjata. Persahabatan kita barangkali sedekat suasana pagi dan bunyi burung. Tidak mudah termakan politik. Tidak mudah menerima apa-apa yang diadukan oleh rakyat. Sehingga tidak terjadi adu domba di antara kita."

***

Waktu telah mengubah keadaan, dan tiba-tiba hidup semuanya. Kesunyian persahabatan di bawah langit selalu sementara. Di Eropa, politik menekan sang Ratu agar menegaskan kendali atas Hindia Timur. Rakyat mulai berbisik-bisik bahwa Sultan telah “terlalu lembut pada penjajah”. Persahabatan mereka menjadi duri bagi kedua belah pihak.

Rakyat mulai gelisah melihat sikap Sultan. Padahal Sultan sudah punya rencana-rencana yang tidak diketahui oleh rakyat. Memang persahabatan antara Ratu dan Sultan menimbulkan dugaan-dugaan yang luas. Tafsir yang begitu bebas, menyungkup segala sesuatu perbuatan, menjadi perbincangan yang miring dan hangat.

Suatu malam, Sultan duduk di ruang tahtanya, diterangi lampu yang sedikit redup. Bunyi binatang-binatang malam mendekat. Seakan-akan menguping segala apa yang ada dalam pikiran Sultan. Sesekali binatang-binatang malam itu berterbangan memasuki ruangannya. Kemudian nyalakan lampu yang mencapai sekeliling ruangan itu. Sesekali Sultan merasa takut dan gentar, sesekali takjub hingga menimbul ngeri.

 "Ayah, Belanda sudah menempatkan residen di istana kita. Mereka bukan tamu lagi! Mereka penguasa bisa dikatakan penjajah. Ratu salah satu pelakunya. bukankah Ratu Wilhelmina sahabat Ayah? Berhati-hatilah dengan surat-surat yang dikirim itu, jangan terpukau dengan kata-kata indahnya. Sebab itu membuat kita terluka. Bukan hanya luka tapi menderita. Orang Belanda itu, sudah terkutuk menjadi penjajah.”

Sultan menatap anaknya lekat-lekat. Ada rasa tidak percaya apa yang sudah diucapkan oleh anaknya yang baru beranjak dewasa. Sultan meyakini Ratu sebagai sahabat yang sudah berjanji dengan tulus. Dan tidak mungkin terjadi perjanjian yang diucapkan melalui surat-surat yang dikirim beberapa waktu lalu.

 “Jangan menilai sahabat Ayah hanya dari seragam yang dikenakannya, atau asal tempat ia bermukim ananda. Atau dari perbedaan suku, tempat tinggal atau agama. Memang manusia sering terjebak dalam sistem yang kejam. Disebabkan dari penilaian-penilain yang luar, artinya tidak terlalu mengetahui isi hati seseorang.” Sanggah Sultan kepada anaknya dengan suara yang lembut. Selembut angin malam yang datang pada tubuh mereka.

***

Tiba-tiba utusan Belanda datang dengan membawa perintah baru, seperti suasana istana yang mengejutkan. Sultan seperti menahan tangis yang dalam. menyimpan kekesalan yang menyiksa dada dan hati. Pikirannya menjadi buntu, sesuatu yang diucapkan Ratu dulu, menjadi hal yang menyakitkan. Kata-kata indah dalam surat masih teringat di kepala Sultan.

Utusan Belanda memaksa agar semua simbol kerajaan harus di bawah pengawasan kolonial. Namun Sultan menolak menandatangani dokumen itu. Utusan pun kembali pulang ke Belanda. Sikap itu dilakukan Sultan sebagai balasan kepada sahabatnya yang berdusta tersebut. Meskipun bantuan dan perdagangan dihentikan. Istana mulai sepi, perbendaharaan melemah, rakyat kelaparan.

Sultan masih menulis surat kepada Ratu Wilhelmina sebagai surat terakhirnya. Ia sudah melihat kejanggalan-kejanggalan. Di hati Sultan sudah menyimpan banyak pertanyaan yang akan ia tuangkan ke dalam surat. Tapi surut terkhir ini hanya sekedar mengingat Ratu agar memikirkan kembali atas apa yang sudah diperintahkan kepada utusan yang ia kirim. Namun kejanggalan-kejanggalan hanya disimpan Sultan dalam hati. Seumpama menyimpan bara api.

 "Wahai Ratu yang mulai, apakah kamu tahu menceritakan rakyatku? Aku tak membuatmu marah, hanya kecewa pada jarak yang menciptakan kekuasaan. Jika kamu masih manusia, balaslah surat ini—bukan sebagai ratu, tapi sebagai teman lama. Berusahalah mengingat surat-surat yang kamu kirim dulu. Perjanjian yang sudah dirakit sehingga aku percaya kepada Ratu."

Namun surat itu tak dibalas lagi. Tahun 1915, Sultan wafat dalam kesunyian. Ketika jenazahnya dimandikan, di saku jubahnya ditemukan sepucuk surat Ratu Wilhelmina yang sudah lusuh, dengan kalimat yang dulu sangat ia yakini.

 “Sahabat Sejati tidak mengenal jarak.”

Di luar, bendera Belanda berkibar di atas istana, bukan lagi tanda persahabatan, tapi tanda penaklukan. Rakyat menangis, langit pun terlihat muram. Hujan pun turun, seolah-olah ingin menghapus segala masa lalu. Juga menghapus air mata yang mengalir di pipi para pelayat.

Rakyat merasa bawah hujan itu sebuah tanda kesedihan alam. Cintanya alam kepada seorang Sultan, hubungan alam dan manusia memang tak dapat dipisahkan. Entah karena alasan apa rakyat-rakyat tersebut menduga hubungan alam dan Sultan. Semakin banyak mayakini, samakin menjadi kepercayaan yang terus tumbuh secara turun temurun. Tanpa terbantahkan. Bahkan seluruh rakyat saling memberi tanggapan terhadap cuaca yang sedang terjadi pada hari itu.

Ada juga sebagian rakyat-rakyat yang tidak mau hadir pada hari wafatnya Sultan. Mereka sengaja tidak datang pada hari kesedihan itu, mereka mengira bahwa Sultan terlalu banyak meninggalkan janji yang belum tertunaikan untuk mereka. Tentang kebijakan yang terlalu otoriter, tentang kekuasaan yang memperjual-belikan kewenangan, tentang kemanusiaan yang tidak terlalu jelas. Banyak sekali anggapan-anggapan buruk mereka kepada Sultan.

***

Di Eropa

Seorang perwira Belanda muda menemukan surat terakhir Sultan di arsip kerajaan. Surat tersebut terlihat kusam dengan bahasa-bahasa yang indah. Surat tersebut telihat milik Sultan. Lalu ia menyerahkannya kepada Ratu Wilhelmina yang kini telah menua. Ratu membaca dengan tangan gemetar, entah apa penyebabnya, sehingga tangannya gemetar pada akhir bacaannya ia meneteskan air mata. Seperti ada penyesalan yang tak selesai. terlihat pada wajahnya yang tua itu.

 “Aku kehilangan sahabat karena dirasuk tahta,” bisiknya pelan. Memandang jauh ke arah pohon-pohon oleander serta bunga-bunga merah yang sedang gugur di depannya. Seperti sebuah tanda yang mendekatinya.

Surat itu disimpan dalam kotak kayu, Ratu tidak mau menjadi arsip. Juga terlihat foto seorang lelaki bermata putih dengan teduhnya Sultan dari Timur. Hingga kini Ratu menyimpan kekesalan yang sudah menjadi sesuatu yang tak berguna dalam kehidupan.

“Masa lalu selalu begitu. Ia bisa menjadi jahat, bisa juga menjadi sesuatu yang indah. Entahlah!” Bisik Ratu Wilhelmina kepada angin yang sedang membawa bunga jatuh di hadapannya.

Gading Marpoyan, 2025

 Biodata Penulis: 

Joni Hendri kelahiran Teluk Dalam, Agustus 1993. Pelalawan. Alumni Jurusan Teater AKMR. Dan juga alumnus Jurusan Sastra Indonesia UNILAK. Karya-karya berupa naskah Drama, Esai, Cerpen, dan Puisi. Telah dimuat di beberapa antologi dan media seperti: Jawa Pos, Riau pos, basabasi.co, kompas.id. Terpilih 10 Emerging Writers 2024 katagori puisi. Kini bergiat di Rumah Kreatif Suku Seni Riau.

 

Editor : rekian
#cerita pendek #puisi #sastra #cerpen #radar kediri aaward 2023