Hatiku senang bukan kepalang; apa yang aku cita-citakan sejak dulu, sesaat lagi akan terwujud. Tadi pagi, selepas membuka kedua mata, kuraih gawai dan ternyata ada pesan baru di dalamnya. Yayasan penyalur tenaga kerja telah mengirimiku email balasan yang berisi bahwa aku telah memenuhi syarat untuk bekerja di negeri tetangga, yaitu Indonesia. Terbayang di benakku penghasilan yang besar akan segera kudapatkan dan setiap bulan bisa mengirim uang yang sangat banyak untuk ibu dan adik-adikku tercinta.
Indonesia adalah negeri impian bagiku dan jutaan penduduk Republik Brusut lainnya. Negeri yang hukumnya ditegakkan tanpa pandang bulu; kaya ataupun miskin, semua diperlakukan sama di mata hukum Indonesia. Sangat jauh berbeda dengan negeriku; di sini hukuman untuk koruptor sangat ringan sekali, paling-paling hukumannya hanya 2 tahun, dan selnya pun sudah seperti hotel berbintang. Segala kemewahan dapat para koruptor nikmati, bahkan sampai jalan-jalan ke luar negeri. Aneh memang penjara di Republik Brusut, penjara yang sejatinya tempat untuk memberikan efek jera bagi para pelaku tindak pidana, malah memberikan nikmat surga untuk mereka yang punya banyak harta dan kuasa.
Sore pukul 16.00 Waktu Republik Brusut, aku ingin keluar rumah, berpamitan dengan kawan-kawanku, tak lupa meminta izin kepada ibuku dahulu.
"Ibu, aku izin keluar rumah dulu ya. Mau pamitan kepada kawan-kawan," ucapku kepada Ibu.
"Wah, wah, wah... Ibso, semangat sekali kamu, Nak. Katanya kamu seminggu lagi mau berangkat ke Indonesia?" tanya ibu.
"Hehehe, iya Bu. Kan kawan-kawanku banyak, jadi aku ingin menemui mereka semua."
"Yang dekat-dekat saja ya, Nak. Kalau kawanmu yang jauh tempat tinggalnya cukup kamu beritahu lewat pesan WhatsApp saja ya, Ibso."
"Baik Bu. Ngomong-ngomong adik-adikku ke mana?”
“Adikmu sedang bermain. Ya sudah, kamu berangkat saja. Hari sudah sore, biar kamu tidak pulang kemalaman,” ucap ibuku dengan penuh perhatian.
Sepeda motor kunyalakan. Tujuan pertama adalah menemui kawan-kawanku yang berada di Kampung Blangsak. Jaraknya sekitar 10 kilometer dari rumahku. Jalan-jalan di perkampungan negeriku sangat buruk; apabila musim hujan becek, dan saat ini, karena sedang musim kemarau maka debu beterbangan tak karuan. Laju sepeda motorku selalu terganggu karena jalan aspal di sini memiliki sejuta lubang yang entah sampai kapan akan diperbaiki. Ingin rasanya kutancap gas, namun bisa-bisa aku sampai ke rumah sakit, bukan ke Kampung Blangsak.
Setelah melalui jalan sejuta lubang dan selaksa debu, sampailah aku di Kampung Blangsak. Kawan-kawanku di kampung ini biasa menghabiskan waktu di sebuah warung kopi. Sebagian dari mereka tidak bekerja, sebagian lainnya bekerja serabutan. Lapangan pekerjaan di Republik Brusut ini sangat sulit, sistem koneksi orang dalam dan suap-menyuap masih sangat kental hingga pekerjaan sangat sulit didapatkan. Orang-orang yang ingin bekerja untuk mendapatkan uang, malah tak jarang banyak yang diperas mengeluarkan uang. Berbeda dengan negeri impianku, Indonesia, lapangan pekerjaan sangat terbuka lebar di sana, para pelamar kerja benar-benar diseleksi berdasarkan kemampuan yang mereka miliki.
Sepeda motor kuparkir di depan warung kopi dan kuucapkan salam kepada mereka.
"Selamat sore kawan-kawan..."
"Sore. Oh, Ibso, kau rupanya," sahut kawanku yang bernama Timlo.
"Hei, Ibso, lama tak bertemu," sapa kawanku satu lagi yang bernama Alto.
"Ke mana yang lain? Tumben kalian hanya berdua?" tanyaku.
"Belum pada datang, So. Ada yang sedang mencari uang, ada pula yang tidur sore-sore. Maklum pengangguran, So," jawab Alto.
"Hahahaha." Kami bertiga bersatu dalam tawa.
Tanpa harus berlama-lama, aku mengutarakan maksud kedatanganku kepada mereka. Mengingat perjalanan pulang ke rumahku banyak rintangan, jalanan yang penuh lubang, lampu penerangan jalan yang jarang hidup, belum lagi kudengar akhir-akhir ini marak kasus pembegalan.
"Begini, kawan-kawan, aku datang ke sini untuk memberi tahu sekaligus memohon doa restu.”
"Wah, kamu mau menikah, So?” tanya Alto.
"Kerja saja belum, bagaimana mau menikah? Minggu depan aku mau bekerja di Indonesia."
"Hah.... Hebat sekali kamu, So, bekerja ke negeri Impian," sahut Timlo seraya terpukau.
"Bakal sukses kamu, So, kerja di sana," ujar Alto.
"Ya, doakan semoga kita semua sukses bersama, tapi maaf kawan, aku tidak bisa berlama-lama di sini, hari akan segera gelap."
"Satu lagu dulu, So, sudah lama kita tidak bernyanyi bersama. Aku ambil gitar dulu ya ke dalam warung kopi,” ucap Timlo.
“Selamat jalan kawan ke negeri impian. Tempat segala asa bertaburan.”
Sebuah lagu berjudul Negeri Impian dalam nada dasar G mayor dari penyanyi nasional Republik Brusut telah kami nyanyikan bersama. Aku pun berpamitan kepada Alto dan Timlo, kemudian menancap gas sepeda motorku, menuju rumah sederhanaku di Kampung Sue, tempat ibu dan adik-adikku menetap dan bertahan hidup. Penerangan lampu jalan tidak berfungsi dengan baik, aku hanya mengandalkan lampu sepeda motorku yang remang, karena sistem kelistrikannya masih 6 volt. Sesekali lampu kendaraan lainnya yang berpapasan atau yang seiring dengan perjalananku terasa sangat membantu. Hampir seantero Republik Brusut tidak memiliki infrastruktur yang baik, padahal negeriku sudah 70 tahun lebih merdeka dari penjajahan beberapa bangsa Eropa dan Asia. Keamanan menjadi hal yang sangat diidam-idamkan bagiku serta jutaan penduduk Republik Brusut lainnya. Berkendara sepeda motor di malam hari dihantui rasa takut terhadap begal, naik angkutan umum banyak copet bergentayangan. Oh, rasanya aku ingin segera bekerja ke Indonesia saja.
Roda kuda besiku terus melaju. Beberapa menit lagi aku akan sampai kampungku, tetapi aku harus melewati jalan yang sangat sepi. Entah ini mimpi atau bukan, lampu sepeda motorku yang remang menyorot seorang lelaki yang tengah merangkak dengan tubuh bersimbah darah. Aku pun segera menghentikan laju sepeda motorku dan menghampirinya.
"Hei Bung, apa yang terjadi padamu?" tanyaku.
"To-Tolong, a-aku dibegal," jawabnya dengan napas yang hampir habis.
"Tunggu di sini sebentar, aku akan meminta bantuan para warga kampung."
Aku kemudian menunggangi sepeda motorku, menarik gas sekencang-kencangnya sambil berteriak, "Tolong... tolong..., ada orang dibegal!" Sampai ke pemukiman penduduk Kampung Sue. Satu per satu warga keluar dari rumahnya. Aku menceritakan kejadian yang kualami kepada mereka. Kepala Kampung Sue segera menelepon pihak kepolisian Republik Brusut terdekat.
Akhirnya, setengah jam berlalu, datang 4 orang polisi. Korban begal nyawanya tak terselamatkan. Salah seorang polisi bertanya kepada kepala kampung.
"Siapa orang yang bisa menjadi saksi untuk kejadian ini, Pak Kepkam?"
"Pemuda bernama Ibso, ini, Pak," jawab Pak Kepkam. Kepkam adalah kependekan dari kepala kampung. Sebutan untuk seseorang yang menjadi seorang pemimpin kampung di negeriku
"Iya Pak Polisi, saya yang pertama melihatnya dan meminta bantuan warga, Pak,” ucapku.
"Baik, Saudara Ibso. Kami butuh keterangan dari Anda untuk menangani kasus ini."
Aku pun dibawa ke kantor polisi yang berada di kota, jaraknya sekitar 15 kilometer dari kampungku. Sesampainya di kantor polisi, aku mulai dimintai keterangan.
“Dari mana Anda dan bagaimana bisa bertemu dengan si korban?” tanya seorang polisi.
“Dari Kampung Blangsak, Pak. Ketika saya ingin pulang ke rumah saya di Kampung Sue, saya melihat orang itu merangkak dengan tubuh bersimbah darah.”
"Lalu, apa yang Anda lakukan ketika melihat tubuhnya bersimbah darah?" tanya polisi itu dengan tegas.
"Saya bertanya kepadanya, apa yang terjadi terhadapnya, lalu ia menjawab bahwa ia adalah korban begal. Kemudian saya meminta tolong kepada para warga."
"Dari mana Anda sebelum bertemu dengan korban pembegalan?"
"Saya dari Kampung Blangsak, Pak.”
"Apa yang Anda lakukan di Kampung Blangsak?"
"Menemui kawan-kawan saya dan berpamitan kepada mereka karena saya ingin bekerja di luar negeri.”
Pertanyaan demi pertanyaan berlanjut, dengan pola yang hampir sama. Jam di dinding tempat aku dimintai keterangan sudah menunjukkan pukul 23.00 waktu Republik Brusut, akan tetapi aku belum juga dipersilahkan untuk pulang. Gawaiku disita sehingga aku tidak bisa memberi kabar kepada ibuku. Keresahan dalam hatiku mulai muncul, dengan sedikit keberanian aku bertanya kepada seorang polisi. "Pak, apa aku sudah boleh pulang?"
"Tunggu, kami masih membutuhkan banyak informasi dari Anda,” jaawabnya dengan suara yang meninggi.
Aku semakin risau, tak sabar rasanya ingin merebahkan tubuhku yang sudah mulai pegal ini. Tiba-tiba tiga orang polisi masuk ke ruangan tempat aku dimintai keterangan. Aku dibawa oleh mereka ke sebuah ruangan yang gelap.
Salah seorang polisi menendang bokongku dari belakang, hingga membuatku jatuh tersungkur. Sontak perbuatannya membuatku sangat kaget.
"Pak, apa salahku? Mengapa aku ditendang?" tanyaku dengan penuh ketakutan.
"Kau yang membunuh orang itu. Mengaku saja kau!" Ia berkata dengan setengah berteriak.
Aku mencoba membalikkan badan dan ingin segera berdiri, tetapi perutku diinjak. Sakitnya bukan main dan membuatku sulit untuk bernapas. "Pak, aku bukan pembunuh. Aku malah ingin menolongnya," ucapku dengan kesakitan.
Tiba-tiba aku tersengat aliran listrik, mereka menyetrumku dengan sebuah alat berbentuk tongkat. Apa salahku sehingga dengan sadisnya mereka menyiksaku. Kalimat "Mengaku saja kau, kalau tidak kami akan terus menyiksamu," berulang kali keluar dari mulut mereka, sementara kata "ampun" sudah tak terhitung keluar dari mulutku. Kekejaman berhenti setelah mereka menyiramkan air comberan ke tubuhku. Dingin yang hebat yang belum pernah kurasakan seumur hidupku membuatku tak sadarkan diri.
Sengatan listrik membangunkan tidurku. Mengapa aku tidak terus tertidur saja? Aku sudah tak kuat menahan siksaan mereka.
"Segera makan nasi yang ada di lantai itu, kalau kau ingin kami bebaskan."
Rasa lapar yang melilit perutku sudah tak tertahankan. Terpaksa aku makan nasi yang berhamburan di lantai. Seperti binatang mereka memperlakukanku. Sebobrok inikah kinerja aparatur negara Republik Brusut? Aku sering menyaksikan berita di media-media sosial tentang korban salah tangkap, serta penyiksaan yang mereka alami. Tak disangka hal ini terjadi padaku.
Nasi yang berhamburan di lantai telah kuhabiskan. Mereka memborgol tanganku dan menuntunku ke sebuah ruangan sempit dan pengap, kemudian mereka menyuruhku duduk.
"Sampai kapan kau tidak mau mengakui perbuatanmu?"
"Pak, tolong, bukan saya yang membunuh orang itu."
Seorang polisi mengangkat sisi meja dan meletakkan kaki meja di atas jempol kakiku, kemudian jempol kakiku digencet olehnya.
"Aaaaa...!" Aku berteriak sekeras-kerasnya.
Satu orang polisi yang tak memakai seragam loncat dan menendang kepalaku. Tubuhku terjatuh miring. Sengatan listrik kembali membuat tubuhku kejang. Semua terasa gelap. Ketika aku tersadar, aku merasa heran mengapa tubuhku bersayap dan mampu menembus dinding.
Aku kemudian pulang dengan mengepakkan kedua sayapku ke Kampung Sue. Kutemui ibu dan adik-adikku, kuajak mereka bicara namun tak ada yang mendengar suaraku. Ibu, maafkan aku belum sempat membahagiakanmu. Adik-adikku semoga kalian tak senasib denganku. Cita-citaku pupu Indonesia, negeri impianku dan jutaan penduduk Republik Brusut lainnya. Negeri yang menegakkan keadilan tanpa pandang bulu, negeri yang rakyatnya tidak terlilit hutang kepada lintah darat, negeri yang tidak ada orang memberikan uang sogokan untuk menjadi aparatur negara. Semoga adik-adikku bisa datang padamu, duhai Indonesia. Tuhanku, yang selama aku hidup jarang kutemui, kabulkanlah doaku. (*)
Bio Singkat
- Abu Bakar tinggal di Kampung Tanah Tinggi, Kota Tangerang. Sehari-hari bekerja sebagai karyawan musik dengan melatih ekstrakurikuler biola di sekolah, dan juga pemain biola mandiri. Instagram : @aboe.bakr