Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ketika Malaikat Kecil Tak Berdosa Jadi Korban

Hilda Nurmala Risani • Senin, 1 Juni 2026 | 21:03 WIB
Ilustrasi bayi yang dibuang.
Ilustrasi bayi yang dibuang.

 

“Beberapa hari yang lalu warga Dusun Baba'an, Desa Tugurejo, Kecamatan Ngasem mendadak geger. Itu karena ada sesosok bayi perempuan yang diduga kuat baru dilahirkan ditemukan telantar di area pinggir jalan persawahan setempat dalam kondisi hidup dan memprihatinkan.”

KEDIRI, JP Radar Kediri - Sebenarnya penemuan bayi di wilayah Kediri bukan sekali dua kali. Sudah ada beberapa kasus pembuangan bayi. Mereka yang membuang pun pasti banyak alasan pemicu untuk melakukan perbuatannya. 

Ya, pembuangan bayi yang terus ada ini mencerminkan persoalan sosial yang kompleks. Mulai dari tekanan ekonomi, stigma sosial, hingga ketidaktahuan tentang kesehatan reproduksi.

 Baca Juga: Bayi Perempuan yang Dibuang di Sawah Ngasem Alami Sunburn karena Diletakkan di Rerumputan Tanpa Baju: RSUD SLG Lakukan Perawatan Intensif

Pertama, kondisi ekonomi yang sulit. Banyak ibu muda, terutama mereka yang berasal dari keluarga miskin atau hidup dalam keterbatasan finansial merasa tidak mampu membesarkan anak yang baru lahir.

Seringkali mereka terkendala biaya persalinan, perawatan bayi hingga kebutuhan sehari-hari. Ini bisa menjadi beban yang berat terutama bagi mereka yang tidak memiliki dukungan keluarga atau pasangan. Tak heran, dalam situasi yang terjepit beberapa dari mereka memilih jalan tragis dengan menelantarkan bayi. Meskipun dalam kondisi yang membahayakan nyawa sang bayi.

Kedua, tekanan sosial dan stigma masyarakat. Faktor ini berperan besar dalam kasus pembuangan bayi. Kehamilan di luar nikah masih dianggap sebagai aib di banyak lingkungan, terutama di komunitas yang menjunjung tinggi nilai-nilai konservatif.

 Baca Juga: Bayi Perempuan yang Dibuang di Sawah Ngasem Alami Sunburn karena Diletakkan di Rerumputan Tanpa Baju: RSUD SLG Lakukan Perawatan Intensif

Perempuan yang mengalami kehamilan tidak direncanakan, terutama yang masih remaja atau belum menikah seringkali harus menghadapi tekanan berat dari keluarga dan masyarakat.

Rasa takut terhadap penghakiman sosial serta kekhawatiran akan masa depan membuat mereka putus asa dan memilih untuk menyembunyikan kehamilannya. Yang pada akhirnya berujung pada keputusan ekstrem seperti membuang bayi.

Mirisnya lagi, mereka melahirkan secara diam-diam tanpa bantuan medis yang memadai. Tentu ini tidak hanya membahayakan bayi, tetapi juga mengancam keselamatan ibu itu sendiri.

 Baca Juga: Geger! Penemuan Bayi Perempuan Masih Bertali Pusar di Pinggir Sawah Tugurejo Ngasem Kediri

Ketiga, kurangnya edukasi mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas. Banyak remaja dan perempuan muda yang tidak memiliki pemahaman yang cukup tentang kontrasepsi, kehamilan, dan tanggung jawab menjadi orang tua. 

Minimnya akses terhadap informasi yang benar menyebabkan mereka tidak menyadari risiko dari hubungan seksual yang tidak terlindungi. Apalagi, ketika seseorang tidak memiliki akses untuk konsultasi medis atau fasilitas kesehatan,  membuatnya cenderung mengambil keputusan yang berisiko terhadap bayi mereka.

Keempat, faktor psikologis juga tidak bisa dilupakan.  Ketika seorang ibu menghadapi tekanan berat dari segi ekonomi, sosial maupun mental mereka bisa mengalami stres yang luar biasa. Bahkan, depresi pasca persalinan.

Baca Juga: Tega! Bayi Perempuan Dibuang di Dapur Warga Kandat Kabupaten Kediri

Dalam kondisi psikologis yang tidak stabil ini beberapa ibu mungkin kehilangan kemampuan berpikir jernih. Sehingga terpaksa melakukan tindakan yang tidak sepantasnya.

Tentu sikap pembuangan bayi yang ramai jadi perbincangan beberapa hari lalu bukanlah sekadar merampas hak kemanusiaan dengan tindakan yang tidak manusiawi. Tetapi juga memiliki dampak yang signifikan. 

Adapun dampak negatifnya yaitu bagi pelaku, pembiaran perilaku ini dapat memperburuk kondisi psikologis mereka. Rasa bersalah, penyesalan, dan tekanan batin yang mungkin muncul dapat membekas dalam jangka waktu panjang. Yang tentu akan memengaruhi kesehatan mental dan emosional pelaku.

 Baca Juga: Nahas! Kramat Nganjuk Gempar, Bayi Perempuan Tewas di Tas Belanja

Sedangkan bagi anak bisa berisiko mengalami traumatis. Yang dapat memengaruhi perkembangan psikologis dan emosional mereka. Keberlanjutan hidup yang tidak pasti, kurangnya perawatan medis, dan ketidakstabilan dalam lingkungan baru dapat merugikan kesejahteraan anak tersebut. 

Tak hanya itu, kesempatan untuk tumbuh dan berkembang dengan penuh potensi juga terancam. Itu karena mereka sering kali harus menghadapi tantangan hidup yang tidak adil sejak awal dilahirkan ke dunia. 

Oleh karenanya kasus ini perlu penanganan serius dari semua stakeholder. Utamanya aparat penegak hukum (APH). Polisi dalam hal ini harus menindak tegas pelaku pembuang bayi.

 Baca Juga: Detik-Detik Penangkapan Ibu Pembuang Bayi di Pabrik Jepara, Terungkap Lewat Kartu Garansi Rice Cooker

Di samping itu, petugas terkait juga harus tetap memberikan layanan konseling dan pendampingan psikologis bagi pelaku serta bayi yang dibuang. 

Pada akhirnya pencegahan kasus pembuangan bayi ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau individu semata. Tetapi tanggung jawab kolektif masyarakat. 

Kepedulian sosial harus ditingkatkan, bukan hanya dengan mengutuk pelaku, tetapi juga dengan mencari solusi untuk mencegah kasus serupa tidak terulang di masa depan.

 

Karena pada dasarnya setiap bayi berhak untuk hidup dan mendapatkan kasih sayang. Tugas kita memastikan hal itu bisa terwujud. (Penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

 

 

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#malaikat kecil #tak berdosa #kabupaten kediri #pembuang bayi #kriminal