Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Banyak Negatif tapi Masih Digandrungi

Hilda Nurmala Risani • Senin, 15 Desember 2025 | 00:45 WIB

Ilustrasi : Afrizal Syaiful M/JPRK
Ilustrasi : Afrizal Syaiful M/JPRK

Balap liar menjadi fenomena yang sulit terpisahkan dari remaja. Meskipun berulang kali diingatkan bahayanya balap liar, masih saja mereka melakukannya. Tak begitu peduli dampaknya, yang dipikirkan rasa senangnya saja.

Berbicara balap liar ini merupakan salah satu bentuk balapan yang digelar tanpa izin dari pihak berwenang. Balap liar seringkali diikuti oleh beberapa kelompok pemilik kendaraan sepeda motor yang telah dimodifikasi.

Pelaksanaannya pun di waktu-waktu tertentu seperti dini hari atau saat lalu lintas dalam kondisi sepi. Mirisnya, meskipun balap liar ini sering memakan korban, tidak menjadikan mereka remaja sadar. Itu dibuktikan dengan masih banyaknya remaja yang nekat menggelar aksi kembali setelah kepergian temannya.

Artinya, mereka tak sungguh-sungguh dalam belajar dan memahami bahaya dari balap liar. Aksi geber mesin di jalanan dianggap sebagai wadah ekspresi dari energi yang besar dan meluap dalam dirinya.

Untuk diketahui, balap liar ini juga sedang marak di wilayah Kediri. Beberapa waktu lalu polisi juga telah mengamankan puluhan kendaraan sepeda motor dan ratusan remaja yang terlibat aksi balap liar di Kecamatan Pesantren, Kota Kediri.

Baca Juga: Ketika Bencana Menjadi Panggung Sandiwara

Mereka terjaring saat melakukan aksi di jalan persawahan sore hari. Ketika ditangkap pun hampir semua beralibi hanya menonton dan kebetulan sedang melintas. Padahal sudah jelas di depan mata bahwa mereka ini sedang kebut-kebutan.

Menurut keterangan warga, aksi balap liar ini sudah berlangsung beberapa minggu terakhir. Karena jalan yang digunakan adalah jalan alternatif yang dilewati warga, mereka sering mendapatkan peringatan atau teguran.

Sayangnya bukannya mengindahkan, mereka justru berlaku seolah tak peduli. Bahkan juga menantang warga untuk memanggilkan polisi saja.

Tak heran, mereka yang terganggu hanya bisa memendam dalam hati. Tak berani untuk membubarkannya karena jumlah massanya lebih banyak dan nekat.

Balap liar di lokasi ini tak ubahnya seperti 'panggung' bagi para pelaku. Mereka tidak sekadar menyalurkan hobi otomotif, tetapi juga mencari pengakuan dari komunitasnya.

Motor hasil modifikasi menjadi simbol status. Siapa yang punya motor tercepat, paling keren, dan bisa menang balapan, dia akan mendapat pengakuan dari teman-temannya.

Tidak berhenti sampai di situ saja, Selasa (9/12) lalu juga ada aksi balap liar yang berujung maut. Mereka melancarkan aksinya di Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri. Tepatnya di dekat Bandara Dhoho.

Akibatnya ada satu remaja yang meninggal dunia di lokasi kejadian. Sementara dua lainnya mengalami luka-luka dan harus mendapatkan perawatan intensif.

Baca Juga: Kontroversi Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional

Ketika sudah terjadi peristiwa seperti ini apakah masyarakat bersimpati? Tentu tidak. Mereka banyak yang berkomentar negatif.

Sebenarnya tidak semua pelaku datang untuk mencari gengsi. Beberapa remaja menjadikan balap liar sebagai pelarian dari tekanan hidup. Mulai dari masalah keluarga, ekonomi hingga asmara yang gagal terpaksa membuat mereka berada di lintasan terlarang ini.

Oleh karenanya, perlu peran berbagai pihak dalam mengatasinya, Para pelaku balap liar ini bukan semata-mata pembuat onar. Mereka adalah cerminan dari generasi muda yang sedang mencari jati diri, tempat bernaung, dan pengakuan.

Perlu kerja sama dari pemerintah, sekolah hingga komunitas lokal untuk membangun ruang aman bagi remaja. Edukasi keselamatan berkendara, konseling emosional, dan pembinaan komunitas menjadi kunci dalam menangani masalah ini secara holistik. Sebab jika ditangani dengan pendekatan represif semata, akar persoalan tidak akan pernah tersentuh.

Baca Juga: Konvoi Sepeda Motor Bikin Resah Warga

Jalanan bukanlah sirkuit dan setiap adu kecepatan tanpa aturan hanya menunggu waktu untuk membawa petaka. Balap liar memang menggoda dengan gemerlap gengsi dan sorotan teman-teman. Tetapi di balik itu semua ada luka, amarah, dan kehilangan arah.

Pada dasarnya yang mereka butuhkan bukan hanya teguran, tapi juga pelukan dari masyarakat yang berkenan untuk memahami kondisinya. 

Editor : Andhika Attar Anindita
#balap liar