Kota Kediri merayakan hari jadinya yang ke-1.146. Tentu, ini bukan umur yang singkat. Sebagai sebuah kota yang memiliki sejarah panjang dan dinamis, pasti banyak tantangan di belakangnya. Dinamika yang tinggi ini perlu dihadapi dengan sikap adaptif yang sangat luwes.
Pendekatan konvensional yang cenderung kuno atau kaku tak lagi menjadi pilihan. Bahkan harus dibuang jauh-jauh.
Adaptasi adalah sebuah keharusan. Kemajuan zaman dan teknologi sangat mempengaruhi pola pikir serta gaya bersosialisasi masyarakat sekarang ini.
Semua harus serba cepat. Siapa cepat dia yang dapat. Siapa yang lambat dia yang terhambat. Ini seakan sudah menjadi rumus pasti dalam menjalani hidup di era sekarang.
Semua orang semakin terikat dengan teknologi. Tentu ada bagus dan buruknya. Tergantung dari sisi mana kita melihatnya.
Gaya dan cara hidup orang kota perlahan tapi pasti akan mengalami pergeseran. Begitu juga di Kota Kediri. Tantangan ekonomi juga menjadi salah satu faktornya.
Belum lagi dengan kondisi perekonomian nasional yang tengah mengalami fluktuasi. Naik dan turun dalam sekejap.
Kondisi geopolitik dunia juga menjadi penyebabnya. Mau tak mau, tatanan ekonomi juga mengalami perubahan.
Adaptasi. Itu sudah menjadi keharusan. Tidak ada pilihan lain. Apalagi generasi kekinian sangat tidak suka menunggu. Maunya cepat dan instan.
Ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah. Dalam konteks Kota Tahu, tentu peran sentral Vinanda Prameswati sangat sentral.
Wali Kota Kediri ini memiliki tanggung jawab yang sangat besar di pundaknya. Sebagai generasi muda, Vinanda diharapkan dapat membawa dampak besar. Gebrakan nyata untuk Kota Kediri.
Jika menilik jargon yang selalu digaungkan, sejatinya Vinanda memiliki konsep yang menjanjikan.
Seperti yang diketahui bersama, wali kota termuda ini mengusung konsep MAPAN. Ini adalah sebuah akronim dari maju, agamis, produktif, aman, dan ngangeni.
Visi tersebut tentu memiliki filosofi mendalam berdasarkan akar masalah yang ada di Kota Tahu.
Permasalahan pendidikan, ekonomi, dan kesehatan adalah yang paling krusial. Fundamental. Tiga masalah ini adalah tantangan nyata di luar persoalan kompleks lainnya.
Tentu, ketiga poin tersebut harus menjadi fokus utama pemerintah kota. Di dalam program yang ditawarkan Vinanda, ketiga masalah tersebut juga telah terakomodir.
Semuanya ditangkap oleh Vinanda. Yang kemudian disarikan atau diwujudkan ke dalam kebijakan-kebijakan strategis daerah.
Di usianya kini, permasalahan di Kota Tahu bertransformasi menjadi lebih kompleks lagi. Bagaimana pun, tantangan harus dihadapi. Namun begitu pasti ada peluang di baliknya.
Di hari jadi Kota Kediri ini, kita harus menyadari bahwa tantangan ke depan akan semakin besar. Semua harus dihadapi dengan perencanaan yang matang.
Kolaborasi dan kerja sama sudah mutlak harus dilakukan. Tidak lagi ada yang namanya pemain tunggal atau ingin menang sendiri. Kita harus bahu-membahu membangun kota tercinta ini.
Setiap elemen dan lapisan masyarakat perlu bersatu. Menjalankan setiap fungsi dan perannya masing-masing. Sesuai dengan porsi dan tanggung jawab yang diemban.
Kedewasaan dalam menghadapi masalah perlu dikedepankan. Jangan lagi ada ego sektoral atau kelompok. Tantangan pasti akan semakin besar. Tidak mungkin bisa dihadapi jika kita semua tidak bersatu.
Kota Kediri milik kita bersama. Bukan milik satu atau dua orang. Bukan pula kepunyaan satu atau dua kelompok. Ini adalah kota kita semua. Tempat kita mencari kehidupan dan penghidupan.
Jangan hanya mengambil dan mengambil. Kita juga harus memberikan yang terbaik sesuai kemampuan kita. Demi kemajuan bersama. Demi Kota Kediri yang lebih maju. (*)
Editor : Andhika Attar Anindita