SEPAK bola menjadi olahraga yang selalu menarik perhatian. Bahkan bagi orang yang tidak menggemarinya sekalipun. Entah itu mengenai pertandingannya ataupun orang-orang yang terlibat didalamnya. Bagi saya, sepak bola tak ubahnya seperti komoditas. Bila mampu diolah sedemikian rupa, akan ada keuntungan besar yang didapatkan.
Nah, salah satu keuntungan itu bisa didapat dari penjualan tiket pertandingan. Idealnya, keberadaan penggemar fanatik sepak bola, seharusnya tidak membuat pihak penyelenggara atau klub khawatir dalam hal penjualan tiket.
Yang namanya penggemar, mereka pasti akan memberikan dukungan sepenuhnya. Termasuk membeli tiket pertandingan untuk untuk mendukung langsung tim kesayangannya.
Kenyataannya, memiliki banyak penggemar fanatik saja belum cukup. Akhir-akhir ini, klub-klub BRI Liga 1 2024/2025 kompak mengeluhkan sepinya penonton di stadion. Tak terkecuali klub kebanggaan warga Kediri, Persik Kediri.
Yang terbaru, saya mendapatkan kabar penjualan tiket Persik Kediri melawan Dewa United FC, pada H-1 pertandingan belum mencapai 150 tiket! Sungguh miris.
Untungnya, tren sepinya penonton sepak bola ini sudah disadari oleh manajemen. Mereka sempat menggelar sarasehan dengan para penggemar. Pun dengan media. Tujuannya mencari penyebab dan solusi untuk meningkatkan kembali animo masyarakat untuk hadir kembali di stadion.
Salah satu keluhan yang disampaikan suporter waktu itu adalah tentang harga tiket. Harga yang dipatok saat ini dinilai tidak relevan. Terutama jika dibandingkan dengan fasilitas stadion.
Mereka juga menyoal upah minimun kota (UMK) yang rendah. Hal tersebut terkait daya beli suporter. Apalagi, saat ini kondisi ekonomi sedang sulit.
Faktor utama yang membuat suporter enggan ke stadion adalah Persik yang dinilai belum mampu memuaskan penggemar. Terutama di setiap laga kandang.
Bisa dibilang, sepinya penonton ini memang persoalan yang kompleks. Ada begitu banyak faktor yang memengaruhinya. Bukan dari sisi harga saja. Melainkan juga dihadapkan perkembangan teknologi.
Saat ini layanan streaming telah menjadi solusi bagi penggemar yang minim budget. Hanya butuh paket data agar penggemar tetap bisa menyaksikan tim kesayangannya.
Lalu, mereka bisa memberi apresiasi atau kritiknya melakui media sosial. Sangat praktis kan? Meski begitu, tetap ada pengalaman yang berbeda ketika menonton di layar kaca atau handphone, dibanding hadir langsung di stadion. Vibes stadion dan rasa deg-degan yang dirasakan saat melihat langsung tentu saja berbeda.
Karenanya, masih ada celah. Masih ada harapan agar penggemar mau menonton langsung di tribun. Syaratnya, penyelenggara atau klub harus menyusun strategi pemasaran yang tepat.
Philip Kolter, dikenal sebagai Bapak Pemasaran Modern, mengenalkan konsep 4P dalam pemasaran. Yaitu product, price, place, promotion. Yang pertama, produk yang ditawarkan memang harus menarik sekaligus berkualitas.
Persik Kediri sebagai suatu produk sebetulnya sudah layak. Pertama, sejarah panjang yang dimiliki klub sebetulnya sudah cukup menjual. Sayangnya, saat ini tim belum bisa menunjukkan kualitasnya.
Bisa dilihat dari performa tim yang belum konsisten di musim ini. Di sisi lain, Persik Kediri juga belum memiliki stadion yang diharapkan oleh para penggemar.
Kedua dari sisi harga. Dalam hal ini, penentuan harga menjadi sangat penting karena banyak yang harus diperhatikan. Mulai dari menganalisa biaya dan margin keuntungan secara matang. Tak kalah penting, penentuan harga perlu memerhatikan daya beli konsumen.
Jika melihat kembali keluhan penggemar Persik Kediri, mereka mengaku terbebani dengan harga tiket yang ditetapkan saat ini. Fakta ini menunjukkan secara nyata bahwa harga yang ditetapkan tidak sesuai dengan daya beli konsumen.
Apalagi, penggemar saat ini dihadapkan pada tawaran menonton pertandingan dengan biaya murah. Yakni menonton streaming. Karenanya, faktor ini juga perlu mendapat perhatian khusus manajemen. Selain itu, masih ada beberapa strategi harga yang bisa diterapkan untuk menarik konsumen.
Kemudian, pemasaran juga perlu memerhatikan place, atau tempat. Dalam hal ini, tempat merujuk pada saluran distribusi produk. Sebetulnya, metode dalam penjualan tiket tidak ada kendala besar. Yang mana, penjualan tiket tidak bergantung lagi dengan keberadaan loket fisik yang biasanya mengakibatkan antrean panjang yang kerap membuat tidak nyaman.
Strategi yang keempat yakni promosi juga sangat penting. Persik Kediri memang sudah melakukan berbagai upaya. Di antaranya menggandeng UMKM, influencer, hingga mengakrabkan diri dengan sekolah-sekolah.
Bisa dibilang, upaya-upaya tersebut sudah berjalan dengan bagus dan mendapat respons positif. Sayangnya, dampak terhadap kehadiran penonton di stadion belum nampak. Sehingga, perlu kegiatan promosi-promosi lainnya yang bisa memberikan dampak secara langsung.
Berkaca dari sana, manajemen klub masih harus bekerja keras untuk mengatasi sepinya penonton ini. Mereka harus bisa membuat strategi pemasaran yang tepat bila ingin stadion tetap hidup. Apapun itu, pengalaman menonton di tribun stadion selalu akan berbeda dengan menonton melalui layar kaca.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : rekian