CONVICTIONS are more dangerous enemies of truth than lies. Kata-kata bijak dari filsuf Friedrich Nietzche itu demikian terkenalnya. Keyakinan adalah musuh kebenaran yang lebih berbahaya dari kebohongan. Pernyataan pria asal Jerman itu memang sangat relevan. Termasuk saat ini.
Orang-orang yang memiliki keyakinan tertentu, akan melakukan berbagai cara agar keyakinannya diterima oleh orang lain. Tidak heran, ada yang menyebarkan keyakinannya dengan berbagai cara. Pun, memengaruhi orang lain agar mengikuti atau membenarkan keyakinannya.
Tidak sedikit ‘propaganda’ itu diselipkan lewat film atau drama. Seperti di drama Korea When Phone Rings yang mendapat rating cukup tinggi awal 2025 lalu.
Baca Juga: Dari Matematika TK hingga Otoritarian Kampus
Alur cerita drama yang sarat konflik keluarga, konflik percintaan, dipadu dengan konflik politik memang membuat penonton selalu tertarik mengikuti alur ceritanya. Drama yang tayang dua kali dalam seminggu lewat kanal Netflix itu selalu ditunggu penggemarnya. Termasuk saya.
Sayang, jelang akhir drama, tiba-tiba saja ada adegan sensitif. Tiba-tiba saja yang tokoh pria pergi ke luar negeri. Dimana dia tiba-tiba terlibat perang antara Palestina dan Israel.
Yang lebih membuat kecewa, di drama itu digambarkan jika Israel yang justru diserang oleh Palestina. Padahal, fakta yang sebenarnya sebaliknya. Meski nama Palestina diganti menjadi Paltima dan Israel diganti dengan Izmael, hal tersebut tidak bisa sepenuhnya menyembunyikan maksud dari adegan di drama tersebut.
Baca Juga: Kenapa Kesehatan Mental Terkesan Mahal?
Kontan saja adegan tersebut memancing emosi penonton. Terutama penonton drama dari Indonesia yang memang mendukung perjuangan rakyat Palestina untuk terbebas dari belenggu Israel.
Aksi protes dilakukan warganet dengan membanjiri kolom komentar Instagram stasiun televisi yang menayangkan drama. Mereka juga memberi rating buruk pada tayangan drama tersebut.
Menayangkan adegan perang antara Paltima dan Izmael di drama When The Phone Rings bisa saja jadi upaya untuk memengaruhi keyakinan penonton akan konflik Israel dan Palestina. Adegan itu seolah membenarkan pernyataan Nietzche. Yakni, keyakinan adalah musuh dari kebenaran yang lebih berbahaya dari kebohongan.
Baca Juga: Ujian Politik si Kerongkongan Emas
Sebab, begitu seseorang meyakini sesuatu, mereka akan mengajak orang lain atau menginginkan orang lain meyakininya pula. Yang lebih jahat, orang-orang ini
akan menggunakan berbagai cara untuk melancarkan tujuannya. Sebab, mereka memang meyakini bahwa keyakinannya itu yang paling benar.
Selain drama Korea, sebenarnya banyak film-film barat yang selalu menyelipkan propaganda. Mereka menyebarkan keyakinannya akan sesuatu untuk berusaha memengaruhi penonton. Demikian pula yang sering terjadi di dalam lagu, buku, dan banyak karya seni lainnya.
Akan menjadi mengerikan jika keyakinan yang salah dan dilakukan secara berulang-ulang itu, nantinya akan dianggap sebagai hal yang benar. Tak ubahnya teknik propaganda firehose of falsehood.
Dalam dunia yang serbadigital seperti sekarang, kita memang harus benar-benar pintar memilah dan memilih. Mencerna berbagai informasi dan isu yang beredar secara luas dan cepat.
Salah satu cara agar tidak terpengaruh dalam propaganda-propaganda itu, kita harus terus dan terus belajar. Saya meyakini, orang yang berilmu akan mengamalkan ilmunya dengan benar. Bukan justru menyesatkan orang lain. Apalagi jika hal tersebut dilakukan dengan sengaja.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian