Prof Dr KH Ali Maschan Moesa MSi
Ulama, cendekiawan, Rektor Uniska Kediri
Pertama, saya mengucapkan selamat HUT yang ke-21 Jawa Pos Radar Kediri. Semoga semakin jaya, berkah dan memberkahi komunitasnya. Kalau diukur dengan umur manusia, angka 21 adalah angka keramat disebabkan secara fisik adalah kuat-kuatnya seorang manusia. Hanya saja menurut para psikolog belum dewasa, karena dewasa itu umur 40 tahun, “Life begins at forty.” Kitab suci Alquran juga menyebutkan 40 tahun (asyuddahu arba’ina sanatan).
Surat kabar identik dengan berita atau news. Sehingga, betapa pentingnya berita, para filosof menyatakan, “Berita adalah draf kasar yang pertama dari sejarah (News is the first rough draft of history).” Padahal manusia tidak bisa lepas dari sejarah, dan setiap hari setiap orang pada dasarnya sedang menulis sejarah.
Di sinilah pentingnya berita Jawa Pos Radar Kediri yang harus selalu mencerahkan pembaca dengan beritanya. Alangkah indahnya jika Jawa Pos Radar Kediri seyogianya memiliki pembaca yang bertanggung jawab (A long with responsible newspaper, we must have responsible reader). Bisakah pers mencerahkan komunitasnya dengan “kata-kata” yang diberitakan?
Ketahuilah bahwa dunia kita adalah dunia kata-kata. Mencerdaskan kata maknanya memilih sebuah ekspresi yang menimbulkan welas-asih dan empati kapada sesama dan berusaha menjauhkannya dari segala reribet. Hal inilah yang pernah dikhotbahkan sosiolog Peter L. Berger dengan pernyataannya “imperalisme kesadaran”. Karena dengan kemampuan kata-lah manusia berbudaya adiluhung.
Bukankah manusia tidak selalu berada dalam konteks rational choice, tetapi ia –khususnya wong Jawa—lebih terbukti dengan “rasa” yang mengejawantah dengan simbol kata. Maka dengan kekuatan simbol inilah malaikat bersujud kepadaNya; sedangkan setan –dengan “akal terbatasnya”—terpental dari surga karena tidak berangkat dari rasa atau hati yang sumeleh –pasrah kepada Sing Murbehing Dumadi Sing Akarya Jagat Sing Ngecet Lombok.
Kembali kepada pers yang membuat khalayak tercerahkan (well informed). Maka, ia tidak hanya cenderung lebih tertarik kepada siapa yang berbicara (“who the singer”), tetapi akan lebih wisdom juga tidak menafikan apa yang sedang terjadi di masyarakat (“what is the song”) dengan segala implikasinya. Di sinilah Jawa Pos Radar Kediri tidak boleh hanya “kesengsem” pemberitaannya kepada second hand reality, dalam arti tidak suka menggali langsung ke lapangan secara multiple fact finding. Alangkah naifnya jika ada pembaca yang berseloroh bawa tidak membaca Jawa Pos Radar Kediri lebih tercerahkan (better informed) daripada membacanya.
Seorang antropolog Amerika, Edmund Carpenter, mengisahkan cerita menarik tentang pengaruh teknologi komunikasi-elektronika bagi masyarakat Papua. Ia datang ke Sio dan memperkenalkan teknologi komunikasi modern kepada mereka. Beberapa bulan kemudian ia kembali ke Sio dan menemukan beberapa hal yang sangat memprihatinkan. “Oh, betapa pedihnya pukulan hantu itu padaku,” katanya. Aku tidak mengenali tempat itu lagi. Beberapa rumah telah dibangun lain. Mereka berpakaian seperti orang Eropa dan perilaku mereka juga berubah. Walhasil, mereka sudah tercerabut secara brutal dari akar budaya kesukuannya, dan mereka sudah menjadi individu yang terasing dan lepas satu dengan lainnya. Teknologi sudah mengasingkan dan menghancurkan kebudayaan mereka.
Carpenter menangisi hilangnya budaya asli mereka karena serbuan teknologi informatika, padahal belum tergolong era 4.0. Orang Papua masih ada, tetapi budaya mereka sudah sirna. Yang terjadi bukan genocide atau pembunuhan suku bangsa, tetapi technetrocide (pembunuhan dengan teknologi elektronika).
Saat ini mayoritas bangsa Indonesia –kita khawatir—sudah sama dengan orang Sio di Papua. Dengan serbuan hoaks, post-truth, dan kecerdasan buatan dari impaknya era 4,0., menjadi bukan orang Indonesia lagi. Post truth adalah kebenaran emosional dari medsos, semacam WA, FB, Line, Youtube dan sebagainya.
Jadi hakikat post truth adalah “kebohongan” yang selalu diulang-ulang terus akhirnya dianggap sebuah “kebenaran”. Namun, itulah realitas dan realitas empirik. Dalam perspektif 4.0, inilah yang sekarang menjadi “kompetitor” surat kabar. Generasi milenial tinggal dua persen saja yang membaca surat kabar, sehingga banyak pers yang harus berjuang melakukan start up yang penuh dengan great risk. Namun, kita tetap khawatir terjadi kebablasan, dikarenakan sekarang orang Indonesia sudah berbentuk chimera monstery, yang memiliki tubuh manusia dan binatang sekaligus.
Era 4.0 pasti mengandung bias atau disruptive technology. Ia seperti wanita cantik tetapi sangat bodoh, kemudian dikawinkan dengan seorang lelaki yang sangat cerdas tetapi wajahnya jelek. Dan, apa yang terjadi? Lahirlah seorang anak yang bodoh seperti ibunya dan jelek seperti ayahnya. Maa Syaa Allah… Na’udzu bi Allah..!!!!!
Bagaimana respons Jawa Pos Radar Kediri? Mangga kita pikir bersama, bahwa kekhawatiran yang berlebihan justru tidak bijak. Naisbitt sudah meramalkan adanya global paradox. Artinya, setiap upaya menuju global maka bandulnya akan mencari keseimbangan kepada local wisdom. Dengan demikian, harapannya, pada saatnya nanti orang akan kembali ke media cetak karena diyakini lebih membuat manusia “waras” daripada menthelengi medsos terus-menerus.
Di sinilah penting ‘ruang dialog’ antara pers dan khalayaknya. Suatu ruang dialog yang saling menguntungkan dalam rangka menentukan agenda bersama. Tanpa hal ini, aspirasi publik menjadi ‘mubadzir’ dan ‘muspra’. Sementara isu-isu yang diliput pers akan melenceng dari persoalan substansial yang menjadi kepedulian khalayaknya. ‘Ala kulli hal, sekali lagi, media cetak harus beradaptasi dengan etika entrepreneurship yang harus siap dengan start up yang dibarengi dengan great initiative dan siap menghadapi risiko apa pun (great risk). Terutama start up adalah keberanian yang merupakan potensi dan kualitas yang paling penting.
Akhirnya, Wong Jawa itu harus memiliki tekad “kayugung susuhing angin”. Kayu adalah kehendak. Gung itu agung atau kuat. Susuhing angin adalah pusat pernapasan, yaitu “Gusti Pangeran” Sing Maha Kuasa, Purba Wasesa. Kembalilah kepada-Nya dengan simbol tekad Bratasena yang mencari air Tirta Pawitra. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung. “The show must go on”; “Go ahead”. Selamat HUT ke-21 Jawa Pos Radar Kediri. Mugi rahayu-wilujeng nir ing sambikala. Matur Sembah Nuwun.
Editor : adi nugroho