Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Interaksi tanpa Menegasi

adi nugroho • Minggu, 29 Desember 2019 | 20:45 WIB
interaksi-tanpa-menegasi
interaksi-tanpa-menegasi


 


 


   "...saya, walaupun tidak mufakati semua sistem Saudisme yang masih banyak feodal itu, toh kagum kepada pribadinya itu lelaki yang "towering above all Moslems of his time; an immense man, tremendous, vital, dominant. A giant thrown up out of the chaos and agony of the dessert, to rule, following the example of his Great teacher, Mohammad."


   Selagi menggoyangkan saya punya pena menerjemahkan biografi ini, ikutlah saya punya jiwa bergetar karena kagum kepada pribadinya orang yang digambarkan. What a man!"


***


   Natal tahun ini terasa lebih damai. Layar ponsel yang terkoneksi dengan berbagai media sosial (medsos) juga lebih bersih. Bening. Dari cacian dan makian akibat perbedaan cara pandang terhadap hukum mengucapkan selamat Natal atau hari raya umat agama lain.


   Yang berpendapat boleh, tak ragu lagi untuk mengucapkannya secara terbuka. Tanpa khawatir dicaci atau menyinggung perasaan yang berpendapat tak boleh. Sebaliknya, yang berpendapat tak boleh pun punya cara lain untuk mengungkapkan penghormatannya atas saudara, tetangga, atau teman yang sedang merayakan Natal tahun ini.


   Itu semua menunjukkan bahwa di tingkat bawah, masyarakat cenderung menghendaki harmoni. Keseimbangan. Keselarasan. Kedamaian. Bukan disharmoni dan kekacauan. Sebab, yang disebut terakhir memang jauh dari keindahan.


   Adalah naluri setiap manusia untuk menyukai keindahan. Namun, perlu disadari pula bahwa dalam kehidupan di dunia yang majemuk ini, keindahan tidak mungkin disusun dari keseragaman. Selain justru menyalahi sifat keindahan yang warna-warni, keseragaman berpotensi menegasikan sesuatu yang berbeda di luar diri dan kelompoknya. Padahal, perbedaan itu adalah niscaya dalam hidup ini. Sunnatullah.


   Bukankah Alquran (Al Hujurat: 13) menyebut bahwa Tuhan memang sengaja menciptakan manusia berbangsa dan bersuku-suku agar mereka saling mengenal dan berinteraksi? Bukan saling menegasi.


   Interaksi yang tanpa menegasikan itulah yang akan mendatangkan rahmat. Itu pula yang dicontohkan oleh Nabi dan para sahabat pada masa awal Islam. Mereka bisa hidup berdampingan secara damai dengan kelompok masyarakat yang berbeda keyakinan sekalipun.


   Dalam sejarah, ketegangan dan konflik terjadi, selalu ketika ada yang hendak menegasikan kelompok lain dalam interaksi mereka. Ini dipicu oleh perasaan superioritas satu atas yang lain. Di dalamnya adalah monopoli kebenaran. Bahwa kebenaran adalah milik diri dan kelompoknya. Di luar itu tidak.


   Padahal, keyakinan mirip dengan selera yang tidak bisa dipaksakan satu sama lain. Bukankah akan menjadi hal yang menggelikan jika ada orang yang menggampar kawannya hanya gara-gara tak mau mengakui bahwa soto Tamanan paling yahud rasanya --karena sang kawan memang lebih memfavoritkan soto Branggahan?


   Maka menjadi menarik untuk menyimak dua paragraf awal di atas. Itu adalah tulisan Bung Karno dalam suratnya kepada sahabatnya, A. Hassan, tokoh Persatuan Islam (Persis) di Bandung, ketika dalam pembuangannya di Ende, Nusa Tenggara Timur. Surat yang ditulis pada 12 Juni 1936.


   Surat yang menjelaskan tentang kekaguman seorang Sukarno kepada Muhammad Ibn Saud, pendiri Kerajaan Saudi Arabia (KSA). Partner Muhammad bin Abdul Wahab. Jika Ibn Saud adalah konseptor negara KSA, Muhammad bin Abdul Wahab adalah ideolognya.


   Sukarno, seorang nasionalis (yang agamis), pencetus marhaenisme, bisa berasyik masyuk dengan Ibnu Saud. Betapapun dia tidak sepakat pada sistem Saudisme-Wahabi yang disebutnya banyak yang masih feodal itu. Dia bahkan berinisiatif menerjemahkan buku tentang Ibnu Saud dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia agar lebih banyak orang bisa membacanya.


   So, ini bukan hanya tentang interaksi muslim-kristiani atau umat lain. Akan tetapi juga interaksi di internal umat masing-masing. Interaksi antar-individu. Sebagai umat. Sebagai bangsa.


   Dalam bingkai NKRI, interaksi harus dilakukan kepada siapapun tanpa membedakan. Tanpa menegasikan. Agar harmoni tetap terjaga dalam hidup ini. (penulis adalah wartawan JP Radar Kediri)

Editor : adi nugroho