Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Apa Gunanya Ujian Nasional?

adi nugroho • Senin, 23 Desember 2019 | 01:36 WIB
apa-gunanya-ujian-nasional
apa-gunanya-ujian-nasional

Pertanyaan di atas kembali menggelitik. Topik tentang ujian nasional (UN) memang selalu memunculkan pro dan kontra. Perdebatan terjadi lagi setelah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim berencana mengganti UN dengan asesmen kompetensi.


Ada yang menganggap penghapusan UN akan membuat siswa malas belajar. Mereka kehilangan penyemangat untuk belajar. Sebab, di akhir tidak ada sistem penilaian yang dianggap bisa mewakili kompetensi siswa.


Tidak sedikit yang mendukung penghapusan UN. Alasannya, UN tidak bisa jadi parameter keberhasilan belajar siswa. Apalagi, saat ini UN tidak jadi alat penentuan kelulusan anak. Melainkan, kelulusan ditentukan oleh sekolah.


Membaca beberapa artikel yang bertentangan, termasuk pendapat para ahli yang berada di sisi pro dan kontra, ingatan saya langsung melayang ke puluhan tahun silam. Saat saya masih berstatus pelajar. Tepatnya siswa sekolah dasar (SD).


Belajar di salah satu SD Inpres di lereng gunung Kelud di Blitar, saya belum bisa melupakan rasa grogi dan takut setiap kali jelang ujian. Bisa jadi, itulah yang disebut stres menghadapi ujian.


Setiap hendak ujian, yang saat itu sistemnya catur wulan (cawu), saya selalu sakit panas. Itu terjadi sejak kelas I sampai kelas VI. Peristiwa yang belakangan jadi rutinitas itu, akhirnya diantisipasi oleh orang tua. Jelang ujian mereka memberi vitamin.


Mereka mengira tubuh saya yang kurus dan sering mendadak pingsan itu karena kekurangan vitamin. Sehingga, mudah sakit saat jelang ujian. Vitamin yang berbentuk tablet dan cair pun langsung diberikan. Hasilnya? saya tetap saja panas sebelum ujian.


Orang tua saya lupa, bukan masalah kekurangan vitamin yang membuat rutin sakit panas jelang ujian. Tetapi, rasa grogi atau lebih tepatnya takut saat ujian. Belum lagi, sebelum ujian saya harus belajar ekstrakeras dengan didampingi kakak-kakak yang galaknya melebihi guru kelas.


Beranjak SMP dan SMA, kadar rasa grogi saya berkurang. Tidak sakit panas lagi. Melainkan berganti sakit radang tenggorokan dan sariawan. Saya yakin ini juga wujud stres jelang ujian yang mungkin tingkatnya lebih ringan.


          Sistem pendidikan di zaman orde baru, bahkan sampai sekarang belum banyak berubah. Menuntut siswa untuk lebih banyak menghafal. Belum hilang dari ingatan bagaimana harus menghafal butir-butir Pancasila. Nama-nama menteri kabinet pembangunan, dan hafalan-hafalan lain yang memenuhi kepala.


          Sampai sekarang pun siswa masih dituntut untuk banyak menghafal. Adapun daya nalar mereka masih belum dimaksimalkan. Siswa masih jarang diminta untuk memecahkan masalah lewat studi kasus. Otak mereka masih dipenuhi hafalan-hafalan yang mungkin tidak penting bagi masa depan mereka kelak.   


          Maka, begitu Mendikbud Nadiem Makarim berencana mengganti UN dengan asesmen kompetensi, saya termasuk yang langsung sepakat. Dari namanya, kompetensi siswa tidak lagi ditentukan oleh nilai beberapa mata pelajaran yang masuk UN. Melainkan, kompetensi siswa ditentukan lewat asesmen. Kajian yang lebih mendalam. Mempertimbangkan banyak aspek.


          Dengan sistem asesmen kompetensi yang mempertimbangkan portofolio siswa, kemampuan siswa, baik di bidang akademik maupun nonakademik akan bisa tergali maksimal. Di akhir masa pendidikan, sekolah tidak hanya memberi nilai. Melainkan juga bisa mengarahkan siswa untuk menempuh pendidikan di jenjang selanjutnya. 


          Poin ini yang menurut saya paling penting. Apalagi, tes masuk perguruan tinggi sekarang tidak lagi memakai UN. Melainkan menggunakan tes khusus yang diformulasikan tersendiri. Lalu, apa manfaat nilai UN tinggi? pertanyaan ini belakangan banyak terlontar dari para orang tua.


          Jika sekadar untuk memacu semangat belajar anak, bisa saja dipacu lewat cara lainnya. Tidak melulu dengan menjejali mereka dengan berbagai jenis les. Mencabut dunia mereka yang di tingkat SD seharusnya masih diisi dengan bermain.


          Bersosialisasi dengan teman sebaya. Serta, melakukan banyak aktivitas lain yang menggembirakan. Menumbuhkan semangat agar mereka menjalani hari-hari dengan ceria.


          Jika waktu anak-anak habis untuk mengikuti les demi mengejar nilai UN tinggi, apa jadinya mereka nanti? Toh nilai tinggi tidak menjamin anak akan sukses. Kesuksesan mereka lebih ditentukan dari bagaimana anak-anak bisa belajar berkomunikasi dengan baik.


Bagaimana mereka menyelesaikan masalah, dan sejauh mana kemampuan mereka berkreasi serta menjalin relasi. Berbagai sisi itu bisa lebih maksimal digali lewat asesmen kompetensi. Bukan UN yang mewakilkan kemampuan anak lewat nilai beberapa bidang studi. (Penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Nganjuk).


 


 


 

Editor : adi nugroho
#belajar #pendidikan #guru