Catatan Awal Pekan : Memermak Wisata Kelud, Bagaimana Seharusnya?

Kurniawan Muhammad • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 10:31 WIB

 

Catatan Awal Pekan
Catatan Awal Pekan

 Saya mengapresiasi Pemkab Kediri yang sejak tahun lalu dan berjalan hingga tahun ini mulai memermak kawasan wisata di Gunung Kelud. Di antaranya pengecoran jalan menuju puncak Kelud  sepanjang 243 meter dengan lebar 6 meter, pemasangan paving, hingga rencana pembangunan toilet terpadu serta kios food court di puncak. Ini adalah deretan intervensi fisik yang nyata.

Sebagai orang yang sudah beberapa kali mengunjungi Gunung Kelud, kawasan wisata itu menurut saya adalah gambaran sebuah paradoks yang anggun. Satu sisi, menunjukkan keliarannya, yang menyimpan potensi kehancuran raksasa. Namun, di sisi lain, kawasan itu memancarkan pesona alam yang tiada duanya. Kawahnya yang ikonik, adalah mahakarya alam yang selalu berhasil memikat siapa saja. Namun, sejujurnya, mengamati dinamika pariwisata di Kelud dari waktu ke waktu, seringkali menyisakan pertanyaan mendasar: “Mengapa destinasi sekelas dan seindah Kelud ini seolah berjalan di tempat, seakan berjalan tertatih merespona zaman?”.

Maka, saya harus mengapresiasi langkah Pemkab Kediri yang telah dan sedang memermak, alias merevitalisasi kawasan Kelud. Ini adalah sebuah keniscayaan yang mutlak. Sebab, kawasan Kelud dengan lanskap vulkaniknya yang dramatis, memang sudah lama membutuhkan sentuhan kenyamanan dasar bagi para pelancong. Aksesibilitas dan fasilitas sanitasi adalah syarat minimum sebuah destinasi agar layak disinggahi secara bermartabat.

Jika nanti proyek revitalisasi Kelud sudah selesai digarap. Beton pengecorannya sudah mengering. Pavingnya terpasang semua. Toilet dan  kios-kios food court sudah terbangun dan siap pakai. Pertanyaan selanjutnya: “Mau dibawa kemana jiwa dari pariwisata Kelud?”.

 Baca Juga: Catatan Awal Pekan: (Mimpi) Brantas Waterfront City

Pembangunan infrastruktur fisik di sebuah kawasan wisata, sesungguhnya hanyalah cangkang. Jika fokus pengembangan wisata Kelud hanya berhenti pada pembangunan infrastruktur fisik, maka akan berisiko menjadi “placelessness”. Istilah ini disebut oleh Edward Relph (geografer humanistik), yaitu sebuah kawasan yang kehilangan karakter unik, akibat penataan fisik yang generik dan seragam. Maaf, pemasangan paving, pembangunan food court, bisa ditemukan di tempat wisata mana pun. Tetapi, pengalaman otentik Kelud, tidak bisa diduplikasi jika dibangun dari dalam.

Di sinilah sesungguhnya pekerjaan rumah terbesarnya yang harus dipikirkan oleh Pemkab Kediri.  Yakni bagaimana memperkaya identitas Kelud dengan nilai-nilai khas dan nilai genuine-nya.

Salah satu anomali yang selama ini kasatmata, yang kita bisa saksikan saat mengunjungi kawasan Kelud, adalah kesan keterpisahan antara objek wisata Kelud dengan komoditas terbesarnya yang khas: Nanas Pasir Kelud (Nanas PK). Selama bertahun-tahun, potensi wisata alam kawah Kelud dan kemasyhuran Nanas PK berjalan di relnya masing-masing.

Wisatawan datang melihat kawah, lalu pulang. Sementara petani Nanas bertransaksi di pinggir jalan, atau mengirim hasil panen ke luar daerah, tanpa pernah benar-benar menyatu dalam satu ekosistem pengalaman berkunjung. Sayangnya, Nanas PK belum menjadi narasi utama yang menyambut dan memanjakan wisatawan di dalam kawasan wisata Kelud. 

Menurut saya, sudah saatnya Pemkab Kediri semakin menyeriusi untuk menyusun sebuah “roadmap holistic” pengembangan wisata Kelud yang tidak sekadar mengandalkan Dinas Pariwisata atau Dinas Pekerjaan Umum secara parsial. Simon Anholt, pakar “place branding” terkemuka dunia, melalui konsepnya “Competitive Identity” menegaskan, bahwa identitas sebuah kawasan hanya akan kuat jika ada keselarasan utuh antara pariwisata (tourism), komoditas atau produk lokal (brand exports), kebijakan (policy), serta masyarakat dan budayanya (people and culture).

Melalui tulisan ini, saya mengusulkan tiga pilar yang harus saling mengunci untuk pengembangan kawasan Kelud di masa depan: Pertama, keindahan alam vulkanik. Panorama kawasan Kelud yang ikonik ini harus dijadikan sebagai komoditas visual utama yang dijaga kelestarian dan keamanannya. Kedua, hasil pertanian otentik. Dalam hal ini menjadikan Nanas PK bukan sekadar jualan buah potong di pinggir jalan. Melainkan harus menjadi bagian dari “agrotourism experience”. Misalnya dengan membuat tur kebun Nanas, wisata edukasi olahan turunan Nanas kelas atas, hingga mendesain arsitektur kios food court yang merepresentasikan identitas lokal. Ketiga, kearifan lokal dan budaya lereng Kelud. Masyarakat asli lereng Kelud memegang sistem nilai, tradisi, dan mitos lokal. Misalnya ritual sesaji Gunung Kelud. Budaya ini harus menjiwai pelayanan, tata ruang, hingga narasi naratif yang disampaikan kepada setiap pengunjung.

Ada kawasan wisata berbasis gunung berapi yang mirip lanskapnya dengan Kelud, yang telah sukses menjadi destinasi wisata. Yaitu kawasan Gunung Etna (Mount Etna) di Pulau Sisilia, Italia Selatan.

Etna adalah lanskap vulkanik aktif yang memiliki kesamaan dengan Kelud, yaitu sama-sama menyimpan potensi erupsi dahsyat, sama-sama memiliki kawah ikonik yang diserbu wisatawan, dan sama-sama dikelilingi oleh tanah lereng vulkanik yang subur.

Di lereng Etna, pemerintah daerah di sana bersama masyarakat setempat berhasil membangun ekosistem pariwisata terpadu yang menyatukan tiga elemen secara harmonis: Pertama, wisata alam vulkanik, dengan lanskap kawah. Di sana dibangun cable car (kereta gantung), ada jalur kendaraan 4x4, hingga dilengkapi dengan pos pengamatan kawah, dengan standar keamanan tinggi tanpa merusak estetika alam.

Kedua, pertanian khas lereng Gunung dengan karakter Terroir. Di sinilah letak kemiripannya dengan Nanas PK di Kelud. Tanah abu vulkanik Etna yang kaya mineral dimanfaatkan untuk menanam komoditas unik, yaitu: Pistachio di Bronte, dijuluki “Oro Verde” atau emas hijau. Juga ada Anggur Vulkanik Etna DOC. Pengelola di sana tidak membiarkan pertanian ini berjalan sendiri. Mereka membuat jaringan rute wisata bertajuk “Strada del Vino e dei Sapori dell’Etna” (Rute Anggur dan Cita Rasa Etna). Wisatawan yang selesai melihat kawah, akan secara otomatis diarahkan oleh paket tur untuk singgah ke kebun-kebun warga, memetik Pistachio dan menikmati hidangan olahan lokal di perkebunan (agrotourism).

Baca Juga: Catatan Awal Pekan : Sound Horeg, Sebaiknya Bagaimana? 

Ketiga, kebudayaan dan kearifan lokal. Masyarakat di kota-kota kecil di lereng Etna (seperti Nicolosi, Zafferana Etnea, dan Bronte), dilibatkan penuh. Budaya lokal dihidupkan melalui perayaan setiap tahun seperti “Festival Pistachio” (Sagra del Pistacchio) dan ritual spiritual warga lereng gunung saat menghadapi ancaman lahar. Arsitektur rumah dan kios di sana dibangun secara khas, yakni menggunakan batu basalt hitam vulkanik, memberikan identitas visual yang khas dan otentik.

Kawasan Kelud, menurut saya, sangat bisa dikembangkan lebih lanjut, seperti yang telah sukses dilakukan di kawasan Gunung Etna, Italia. Ketika keanggunan kawah Kelud, manisnya Nanas PK, dan kehangatan budaya masyarakat Lereng Kelud melebur menjadi satu ekosistem yang padu, saat itu lah Gunung Kelud tidak hanya molek secara fisik, tetapi juga memiliki roh yang menggugah dunia. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Editor : Mahfud
Sumber : Radar Kediri
Wisata Kelud kelud catatan awal pekan