Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Museum Sri Aji Jayabaya

Kurniawan Muhammad • Senin, 12 Januari 2026 | 13:33 WIB

 

Catatan Awal Pekan
Catatan Awal Pekan

Saya harus mengapresiasi Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana, karena telah menginisiasi dan meresmikan (soft launching) Museum Sri Aji Jayabaya. Ini adalah langkah penting dan konkret. Karena di era sekarang, sejarah tidak boleh lagi hanya tinggal di ruang arsip. Tetapi sejarah harus hadir sebagai pengalaman publik. 

Dalam hal ini, museum bisa berfungsi sebagai “sekolah publik” dan ruang belajar yang otentik. Ada pelajaran yang sulit digantikan di ruang kelas. Yakni menyaksikan jejak manusia masa lampau secara langsung, melalui arca, fragmen, prasasti, dan artefak, sehingga membuat sejarah terasa nyata. Museum memfasilitas pembelajaran otentik (authentic learning). Di sini, para pengunjung tidak hanya menerima informasi, tetapi menafsirkan dan mengonstruksi makna.

Eilean Hooper-Greenhill, Profesor Emeritus Museum Studies, seorang tokoh paling berpengaruh dalam kajian museum dari University of Leicester, Inggris (salah satu pusat kajian museum terkemuka  di dunia) menjelaskan secara apik keterkaitan antara museum dengan dunia pendidikan dalam bukunya: “Museums and Education: Purpose, Pedagogy, Performance”.

Dalam buku tersebut, Hooper-Greenhill menegaskan, bahwa museum bukanlah “pelengkap rekreasi sekolah”. Melainkan ruang belajar publik yang ikut memikul tanggung jawab pendidikan warga (cultural citizenship). Maka, agenda pendidikan museum harus dikaitkan dengan isu akses, inklusi, dan pemerataan pengalaman belajar.

Ada tiga poros yang mengikat museum dengan dunia pendidikan: purpose, pedagogy, dan performance. Dengan kata lain, menurut Hooper-Greenhill, museum mengelola pendidikan melalui tiga poros tersebut.

Poros “purpose” (tujuan pendidikan). Dalam hal ini, museum perlu memperjelas untuk apa program dan layanan belajarnya. Apakah untuk pengetahuan, identitas, partisipasi budaya, kreativitas, hingga tujuan sosial yang lebih luas. Dorongan ini muncul karena “learning” menjadi prioritas kebijakan dan tuntutan publik.

Poros “pedagogy” (cara mengajar atau merancang pengalaman belajar). Hooper-Greenhill memandang belajar di museum sangat terkait dengan budaya sebagai proses pemaknaan (signification). Dalam hal ini, museum memproduksi makna yang dapat membentuk cara pandang dan bahkan identitas diri. Karena itu, pedagogi museum bukan sekadar “transfer informasi”, melainkan desain pengalaman makna melalui koleksi, pameran, interpretasi, dan interaksi.

 Baca Juga: Magnet Lirboyo

Poros “performance” (akuntabilitas atau kinerja pendidikan). Karena museum dituntut membuktikan dampaknya. Dalam hal ini, museum harus mampu  menyoroti problem: bagaimana kompleksitas belajar budaya yang “dalam” itu bisa diukur?

Belajar di museum itu “kultural”, sehingga butuh teori belajar yang cocok. Hooper-Greenhill menekankan perlunya mengkaitkan “learning” dengan “culture”. Dia menyebut, bahwa di museum itu dibutuhkan “cultural theory of learning” (teori belajar yang peka budaya). Sebab, museum adalah organisasi budaya yang bekerja melalui makna, simbol, dan representasi.

Maka dari itu, pembelajaran museum kuat untuk aspek yang sering sulit dicapai di kelas, yaitu: refleksi, pembentukan identitas, sense of belonging, dan literasi budaya. Sehingga peran museum menjadi relevan untuk pendidikan karakter, karena mampu membentuk cara melihat diri dan komunitas melalui narasi dan artefak.

Jika Mas Bup (sapaan akrab Bupati Kediri) mencanangkan slogan “Kediri Berbudaya”, maka hal ini sangat linier dengan keberadaan Museum Sri Aji Joyoboyo. Dalam hal ini, museum berfungsi sebagai “panggung nyata” bagi slogan tersebut. Museum menjaga memori sejarah dan kebudayaan agar tidak putus. Ini membuat slogan “Berbudaya” bukan slogan kosong, tetapi kerja agar merawat ingatan publik.

Dengan kata lain, jika “Kediri Berbudaya” adalah janji identitas, museum adalah buktinya. Karena  mengubah identitas, menjadi pengalaman yang bisa dikunjungi, dipelajari, dan dirasakan.

Wal akhir, kehadiran Museum Sri Aji Jayabaya di Kabupaten Kediri sejatinya menandai lebih dari sekadar bertambahnya sebuah bangunan publik. Ia adalah pernyataan kultural, bahwa sejarah, nilai, dan identitas lokal layak dihadirkan kembali ke ruang hidup masyarakat.

Sejalan dengan pemikiran Eilean Hooper-Greenhill, museum tidak lagi dipahami sebagai gudang artefak yang sunyi, melainkan sebagai ruang belajar publik, yaitu tempat makna diproduksi, diperdebatkan, dan diwariskan lintas generasi.

Dalam perspektif pendidikan karakter, museum bekerja melalui pengalaman. Yaitu mempertemukan pengunjung dengan jejak masa lalu, yang mengajarkan kejujuran intelektual, rasa hormat terhadap warisan budaya, serta tanggung jawab sosial. Nilai-nilai ini tidak diajarkan secara normatif, tetapi tumbuh dari proses melihat, memahami, dan merefleksikan sejarah. Di titik inilah museum menjadi mitra strategis dunia pendidikan, melengkapi sekolah dan keluarga dalam membentuk warga yang berkarakter dan berbudaya.

Keterkaitan museum dengan slogan “Kediri Berbudaya” pun menemukan maknanya yang paling konkret. Museum Sri Aji Jayabaya menjadikan slogan tersebut bukan sekadar identitas simbolik, melainkan pengalaman nyata, yaitu budaya yang bisa disentuh melalui narasi, dipahami melalui artefak, dan dihayati melalui ruang. Ketika museum mampu merawat ingatan kolektif sekaligus membuka dialog dengan realitas hari ini, maka “berbudaya” menjelma sebagai praktik hidup, bukan sekadar jargon pembangunan.

Akhirnya, tantangan ke depan bukan hanya menjaga keberlanjutan fisik museum, tetapi memastikan kualitas narasi, pedagogi, dan keterlibatan publiknya terus berkembang. Jika dikelola dengan visi pendidikan dan keberpihakan pada nilai-nilai budaya lokal, Museum Sri Aji Jayabaya berpotensi menjadi jantung pembelajaran kultural Kabupaten Kediri, sebuah ruang di mana masa lalu memberi makna pada masa kini, dan masa kini menyiapkan karakter untuk masa depan. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Editor : Shinta Nurma Ababil
#kabupaten kediri #kediri #museum #Museum Sri Aji Jayabaya #Museum Kediri