Ada yang berubah di gapura-gapura pintu masuk atau pintu perbatasan di Kota Kediri. Yaitu adanya tulisan: “Kediri Ngangeni”. Rupanya ini adalah tagline Kota Kediri yang diambil dari visi-misinya Walikota Vinanda Prameswati. Tagline ini menurut saya, punya kekuatan, sekaligus punya tantangan.
Setidaknya ada dua kekuatan dari tagline “ngangeni”: Pertama, menyentuh aspek emosional dan mudah diingat. Kata “ngangeni” cukup unik, ringan, dan memunculkan nuansa rindu. Tagline ini bukan sekadar menonjolkan fakta, misalnya wisata, industri atau budaya, melainkan punya maksud “kota yang membuat kangen”. Hal ini dapat menciptakan kedekatan emosional dengan publik.
Kedua, punya potensi diferensiasi. Ada banyak kota menggunakan tagline yang sifatnya generik. Misalnya kota industri, kota wisata, maka “ngangeni” bisa menjadi poin pembeda jika diposisikan dengan tepat. Terutama jika didukung pengalaman yang membuat orang merasa “ingin kembali”.
Namun, tagline “Kediri Ngangeni” juga punya tantangan. Jika tantangan ini tidak bisa diformulasikan dengan baik, maka akan menjadi kelemahan. Setidaknya ada empat tantangannya: Pertama, makna dari “ngangeni” relatif abstrak. Memang, kata “ngangeni” menyentuh aspek emosional. Tetapi terkesan kurang konkret. Apa saja yang membuat kota itu “ngangeni”? Tanpa adanya indikator atau pengalaman yang konkret, makna “ngangeni” bisa menjadi kosong.
Kedua, agar tagline “ngangeni” ini valid, maka kota harus benar-benar memberikan pengalaman yang membuat orang ingin kembali atau tinggal di Kota Kediri. Jika kenyataan sehari-hari (pelayanan publik, kebersihan, fasilitas, keamanan, transportasi) tidak mendukung, maka bisa jadi tagline “ngangeni” dianggap hanya gimmick.
Ketiga, agar warga Kota Kediri (meliputi pelaku bisnis, pariwisata, investasi) memahami dan menghidupkan tagline tersebut, diperlukan program-program yang jelas. Jika hanya dipasang di papan reklame atau di gapura, tetapi warga kota sehari-hari tidak merasakan nuansanya, maka tagline “ngangeni” akan kehilangan ruhnya.
Keempat, merek sebuah kota (city-branding) sering sulit diukur. Apa indikator dari “ngangeni”? Apakah dapat meningkatkan kunjungan ke Kota Kediri? Apakah dapat meningkatkan investasi? Tanpa indikator dan data, sulit untuk mengukur tingkat keberhasilannya.
Baca Juga: Motor Mbrebet, Pertalite, dan SPBU
Nah, melalui tulisan ini, saya ingin urun rembuk, apa saja yang harus dilakukan agar Kota Kediri benar-benar menjadi “Kota Ngangeni”. Saya mengusulkan tujuh proposal:
Pertama, mendefinisikan experience yang “ngangeni” (membuat rindu). Yakni mengidentifikasi unsur-unsur pengalaman khas yang bisa membuat orang merasa “ingin kembali” ke Kediri. Bisa dalam hal budaya, kuliner khas, keramahan masyarakat, lingkungan kota yang bersih dan aman, destinasi unik, atau festival atau event yang berkesan. Selanjutnya, susun indikatornya. Misalnya tingkat kepuasan wisatawan, frekuensi kunjungan ulang, dan durasi tinggal.
Kedua, memastikan infrastruktur dan pelayanan pendukung. Untuk brand “ngangeni” memiliki makna, kota harus terasa nyaman, menarik, dan memiliki kualitas hidup yang baik. Beberapa aspek penting di antaranya: kebersihan, keamanan, akses transportasi yang baik, dan fasilitas publik yang memadai dan mampu menciptakan impresi. Pelayanan publiknya juga harus responsif dan manusiawi, agar masyarakat merasa dihargai. Selanjutnya, mobilisasi partisipasi warga dan sektor swasta agar pengalaman kota bukan hanya berhenti di pusat kota atau objek wisata, tetapi terasa di seluruh lingkungan.
Ketiga, konsisten dan mengintegrasikan brand di seluruh kanal. Tagline “Kediri Ngangeni” harus dipakai secara konsisten dalam semua komunikasi kota, mulai dari situs web resmi, media sosial, kampanye pariwisata, brosur, signage, dan event. Selanjutnya mengintegrasikan antara branding kota dengan pemasaran pariwisata, budaya dan investasi. Misalnya bikin paket wisata yang bukan sekadar “datang” dan “lihat”, tetapi “rasakan”, “tinggal” dan “kembali”. Selain itu bisa juga berkolaborasi dengan pelaku bisnis lokal, misalnya kuliner khas, kerajinan, layanan homestay, dimana kesemuanya itu harus memberikan nilai “unik” dan “tak terlupakan”.
Keempat, segmentasi dan target audiens yang tepat. Maksudnya, jangan hanya mentarget wisatawan umum. Tetapi lebih segmented. Misalnya wisatawan muda, keluarga, alumni yang merantau, atau investor yang butuh kota untuk kantor cabang atau relokasi. Untuk setiap segmen didefinisikan bagaimana tagline “ngangeni” yang relevan. Misalnya, bagi para pelajar, “ngangeni” berarti kota yang nyaman untuk tinggal, belajar dan tetap ingin balik. Bagi pekerja migran, “ngangeni” berarti kota yang ramah, dan komunitasnya kuat. Bagi wisatawan, “ngangeni” berarti menciptakan pengalaman yang berbeda dari kota lainnya.
Baca Juga: XPose Uncensored, Paltering dan Framing
Kelima, ukur, evaluasi dan adaptasi. Tetapkan indikator keberhasilan. Misalnya melakukan survei dengan beberapa pertanyaan: “Apakah Anda ingin kembali ke Kota Kediri?”, “Apakah Anda merasa kota ini membuat Anda kangen?”.
Juga melakukan pendataan terhadap wisatawan atau pengunjung yang datang lagi, durasi tinggal, dan rating pengunjung. Melakukan analisa gap. Jika ada warga atau pengunjung yang merasa belum dibuat kangen, maka harus dicari tahu penyebabnya. Apakah karena fasilitas yang terbatas? Informasi yang sulit? Area kumuh? Atau karena kurang kemasan cerita budayanya? Jika hal ini sudah dilakukan, melakukan perbaikan secara kontinyu.
Keenam, cerita yang kuat dan autentik. Dalam hal ini, Kota Kediri perlu mengangkat cerita atau identitas yang khas. Misalnya bisa digali dari warisan budaya, sejarah kota, dan keunikan lokal. Selanjutnya, dijadikan bahan untuk membuat story telling disertai dengan visualisasi yang menarik.
Ketujuh, harus sesering mungkin bikin event. Minimal satu bulan satu event. Tapi, jangan sekadar bikin event. Event yang dibuat harus benar-benar dikurasi. Mulai dari konsepnya, sasarannya, hingga KPI-nya.
Wal akhir, tulisan ini bukan bermaksud menggurui. Tapi, sekadar urun rembuk dari masyarakat yang benar-benar ingin mempunyai Kota Kediri yang ngangeni. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Mahfud