Mungkin ini baru terjadi di Nepal. Para demonstran yang mayoritasnya adalah generasi muda (Gen Z), dan aksi itu juga dipimpin Gen Z, akhirnya memaksa Perdana Menteri negara itu, KP Sharma Oli, mengundurkan diri. Sebelumnya, kerusuhan terjadi di kota-kota besar dan menengah. Gedung parlemen di Kathmandu dibakar. Rumah sang Perdana Menteri juga dibakar dan dirusak. Juga kantor-kantor pemerintah.
Tak hanya itu. Di tengah kerusuhan dan aksi demonstrasi, Menteri Keuangan Bishnu Prasad Paudel, menjadi sasaran langsung kemarahan massa. Dalam sebuah tayangan video yang tersebar viral di media sosial (medsos), tampak Prasad berlari dikejar puluhan orang di jalanan ibu kota. Seorang pemuda menendangnya, hingga jatuh menabrak tembok, sebelum akhirnya si menteri bangkit dan kembali melarikan diri.
Nasib apes juga dialami Menteri Luar Negeri Nepal, Arzu Rana Deuba. Dia juga menjadi sasaran amuk massa. Wajahnya dipukul dan ditendang oleh massa yang menerobos masuk rumahnya. Perempuan 63 tahun itu ditendang dari belakang dan dipukul wajahnya oleh para demonstran yang marah dan kalap.
Sebelumnya di Indonesia juga dilanda rusuh dan aksi unjuk rasa yang meluas. Gedung DPRD dan Kantor Polisi di sejumlah daerah diserbu, dirusak, dibakar dan dijarah. Tapi, serusuh-rusuhnya di Indonesia, tak sampai ada insiden Menteri diserang langsung dan dipukuli.
Baik yang terjadi di Indonesia maupun di Nepal, sesungguhnya point-nya sama: semua itu bermula dari kekecewaan yang menjelma menjadi kemarahan membuncah.
Bagaimana bisa generasi muda, khususnya Gen Z di Nepal bisa sedahsyat itu perlawanannya?
Tragedi yang terjadi di Nepal, merupakan agregat dari kombinasi tiga faktor atau kondisi, yaitu: demografi, kekecewaan struktural dan kekuatan media digital.
Terkait dengan demografi, komposisi penduduk dari sisi umur di Nepal, sekitar 40 persen berusia antara 16-40 tahun. Mayoritasnya adalah Gen Z (lahir antara 1997 – 2010). Mereka saat ini rata-rata baru masuk ke dunia kerja dan ada juga yang masih berkuliah. Mereka inilah generasi terbesar dalam sejarah Nepal.
Selain itu, Nepal juga mengalami krisis pengangguran pemuda yang sangat parah. Setiap tahun, sekitar 500 ribu orang tergolong usia produktif alias memasuki dunia kerja. Tetapi, lapangan kerja yang tersedia hanya mampu menyerap sekitar 50 ribu orang. Ini artinya, 90 persen pemuda tidak dapat menemukan pekerjaan di dalam negeri.
Soal kekecewaan struktural, tidak bisa dilepaskan dari sisi historis Gen Z. Di Nepal, Gen Z adalah generasi yang tumbuh pasca-perang saudara (1996-2006). Mereka tidak memiliki ikatan emosional dengan partai-partai tradisional di Nepal yang menguasai pemerintahan. Ada tiga partai tradisional di Nepal yang dominan: Nepali Congress, CPN-UML, dan Maoist Center.
Baca Juga: Lapor Mbak Wali 112
Para Gen Z itu selama bertahun-tahun menyaksikan partai-partai politik itu gagal membangun negara, meski telah berkuasa bergantian selama 18 tahun sejak berakhirnya monarki (2006). Justru yang dirasakan adalah situasi yang tidak stabil, korupsi sistemik, dan nepotisme yang merajalela. Para Gen Z itu merasa masa depan mereka dikorbankan untuk kepentingan elite. Sehingga membuat Gen Z begitu muaknya dengan struktur kekuasaan.
Terkait dengan kekuatan media digital, Nepal memiliki tingkat penetrasi internet sekitar 80 persen. Platform seperti TikTok, Instagram, Facebook dan X (Twitter) adalah ruang utama Gen Z.
Nah, blunder terjadi ketika Pemerintah Nepal pada 4 September 2025 mengumumkan pemblokiran akses terhadap 26 platform di medsos populer, termasuk Facebook, Instagram, YouTube, X, dan LinkedIn. Alasannya, perusahaan-perusahaan digital global itu dianggap gagal memenuhi tenggat pendaftaran yang diatur dalam regulasi komunikasi dan teknologi informasi.
Langkah ini sebenarnya mengikuti keputusan kabinet dan perintah Mahkamah Agung yang sudah disahkan sejak 2023 yang mewajibkan perusahaan digital membangun kehadiran lokal dan menunjuk pejabat kepatuhan di tingkat lokal.
Kebijakan pemerintah ini pun menuai protes keras, yang pada akhirnya memicu aksi unjuk rasa hingga berbuntut pada kerusuhan. Pemblokiran inilah yang memicu kemarahan masyarakat, terutama Gen Z. Sebab, sebagian besar masyarakat Nepal bergantung pada medsos untuk pendidikan, bisnis, dan komunikasi. Dari total 30 juta penduduk, jutaan adalah pengguna aktif platform yang diblokir.
Baca Juga: Ketika Bandara Dhoho Jadi Embarkasi Haji
Bahwa Gen Z yang berada di garda terdepan pada aksi unjuk rasa itu, karena merekalah yang terimbas langsung dari dampak pemblokiran medsos tersebut. Seperti dijelaskan di awal, platform seperti TikTok, Instagram, Facebook, dan X adalah ruang utama Gen Z. Kondisi ini juga dikaitkan dengan kondisi kekuasaan yang dianggap korup dan tidak mampu menciptakan kemakmuran bagi masyarakat. Maka, meletuslah kerusuhan di Nepal itu. Perdana Menteri pun tumbang. Sejumlah menteri juga menyatakan mengundurkan diri.
Pelajaran apa yang bisa diambil dari kerusuhan di Nepal? Barangkali ini: jangan remehkan Gen Z, jangan abaikan Gen Z, dan jangan bikin marah Gen Z. Memang, prosentase Gen Z di Indonesia tak sebanyak di Nepal. Di Indonesia sekitar 27 persen. Tapi, ini yang perlu diperhatikan: Gen Z adalah digital native. Merekalah “penguasa” di dunia digital. Dan dari banyak kasus kerusuhan yang dipicu oleh isu-isu politik, termasuk yang terjadi di Indonesia dan Nepal, pemicu terbesarnya adalah berasal dari narasi, gambar dan video yang diproduksi serta disebarkan melalui media digital. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira