Sabtu malam lalu (8/2) saya diundang dr Sadi Hariono dan istrinya, Ny Endang Susilowati. Mereka adalah founder sekaligus owner RS Prima Husada, salah satu rumah sakit di Kabupaten Malang yang terus bertumbuh dan berkembang, bahkan saat ini sudah membuka cabang di Kabupaten Pasuruan.
Malam itu, mereka punya gawe me-launching buku: “Biografi Sadi Hariono; Bisnis Rumah Sakit Seorang Dokter Umum”.
Setelah sekilas membaca buku tersebut, saya baru tahu, kalau dr Sadi dan Ny Endang sama-sama asli wong Kediri. Inilah salah satu kisah sukses wong Kediri di perantauan.
Dokter Sadi asli dari Desa Dukuh, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Pada saat Sadi lahir pada 1963, desanya saat itu tergolong desa tertinggal di Kecamatan Ngadiluwih.
Sadi berasal dari keluarga sangat sederhana. Bapak-ibunya petani di desanya. Ketika Sadi muda diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya pada 1982, pada saat itu dia adalah satu-satunya mahasiswa kedokteran asal dari Ngadiluwih.
Ny Endang asli dari Desa Kerkep, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri. Perempuan kelahiran 1963 itu merupakan anak pasangan guru.
Perjalanan hidup Endang di keluarganya diwarnai dengan keterbatasan ekonomi. Endang yang tergolong gadis pandai, terpaksa tidak bisa melanjutkan kuliah.
Dia hanya sempat kuliah setahun di D-1 keguruan. Dia sempat menjadi guru. Tetapi, pada akhirnya dia memutuskan untuk merantau ke Kota Malang, untuk bekerja.
Dan Endang pertama kali bekerja di salah satu showroom mobil di Kota Malang. Di Kota Malang inilah, Endang akhirnya bertemu dengan Sadi.
Merekapun berpacaran, hingga akhirnya menikah pada 3 Juni 1988.
Akad nikah berlangsung sangat sederhana di rumah mempelai perempuan di Kelurahan Jamsaren, Kota Kediri. Undangan yang hadir hanya 8 orang. Suguhannya kala itu hanya teh dan sate ayam.
Usai menikah, pasangan Sadi-Endang menjalani hidup baru di Malang. Mereka kemudian memutuskan untuk membeli rumah tipe 60 secara kredit di kawasan Desa Banjararum, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.
Kala itu, rumah tersebut masih di kelilingi sawah. Di tempat itulah, dr Sadi membuka praktik, memanfaatkan garasi rumah, dibantu sang istri.
Tidak mudah bagi dokter muda seperti Sadi untuk membuka praktik. Kala itu dia baru lulus dua tahun menjadi dokter, dan baru saja mengantongi izin praktik.
Apalagi rumahnya yang dijadikan tempat praktik berada di tengah sawah dengan kondisi jalan yang belum beraspal.
Sehingga kalau hujan kondisi jalanan becek dan berlumpur. Lantas, siapa yang mau datang ke tempat praktik dr Sadi?
Benar saja. Ketika awal-awal membuka praktik, pasien yang datang seharian hanya ada satu. Berikutnya dua pasien, dan bahkan pernah sama sekali tidak ada yang datang.
Maka, dr Sadi harus punya keunggulan di tempat praktiknya. Diputuskan saat itu, tempat praktik dr Sadi melayani pasien 24 jam. Artinya, jam berapa pun pasien datang, wajib dilayani.
Dokter Sadi tak segan-segan untuk menjadi pelayan bagi pasien-pasiennya, meski dia seorang dokter.
Lama-lama, tempat praktik dr Sadi yang buka 24 jam ini dikenal secara luas di kawasan sekitarnya.
Banyak di antara pasien dan keluarga pasien tidak mempersoalkan tempat praktik di tengah sawah dengan jalan yang becek dan rusak.
Bagi mereka, yang terpenting adalah pasien terlayani dengan baik, obat yang diberikan manjur, dan menyembuhkan.
Waktu praktik dr Sadi terbagi dua. Pada pagi, buka pukul 05.00 hingga pukul 07.00 WIB. Setelah itu, mulai pukul 08.00 bekerja di RS Panca Dharma di Pasuruan hingga pukul 13.00.
Di luar itu dia menjadi dokter perusahaan yang melayani konsultasi kesehatan bagi karyawan dua perusahaan swasta yang beroperasi di Pasuruan.
Praktik di perusahaan hanya dua kali seminggu selama dua jam, setelah selesai bertugas di RS Panca Dharma.
Dari praktik di perusahaan, dr Sadi kembali ke rumahnya dan membuka praktik lagi pada pukul 16.00 hingga pukul 21.00.
Malam hari, dia biasanya menjadi dokter jaga di RS Marsudi Waluyo yang letaknya sekitar 100 meter dari rumahnya. Praktis, dr Sadi bekerja hampir selama 24 jam.
Aktivitas ini dia jalani selama 15 tahun, dari 1990 hingga 2005.
Lambat laun, nama dr Sadi semakin dikenal luas. Pasien yang datang ke tempat praktiknya pun semakin banyak.
Demi bisa maksimal dalam melayani pasien, maka, dr Sadi dan istrinya memutuskan untuk mengubah tempat praktiknya menjadi balai pengobatan yang diberi nama Prima Husada.
Saat itu mereka membeli rumah yang lokasinya berada di depannya. Pembelian dilakukan secara kredit.
Maka, dengan modal yang sangat terbatas, Balai Pengobatan Prima Husada pun berdiri dengan 10 tempat tidur.
Kala itu, karena tidak mampu membeli mobil yang bagus untuk dijadikan ambulans, maka mereka membeli mobil bekas angkutan umum.
Singkat cerita, berkat ketelatenan, keseriusan, ketangguhan, keuletan, serta kreativitas dan inovasi dr Sadi dan istrinya, balai pengobatan itu pun terus berkembang.
Dari balai pengobatan, kemudian menjadi klinik rawat inap dengan 20 tempat tidur. Dua tahun berselang, klinik rawat inap itu berkembang, dari 20 tempat tidur menjadi 40 tempat tidur. Dan ini setara dengan rumah sakit tipe D atau tipe yang paling rendah.
Dan untuk memperluas klinik rawat inap tersebut, maka dr Sadi dan istrinya harus membeli lahan atau rumah lagi di sekitarnya.
Sejak membuka balai pengobatan, dr Sadi merasa dia dan istrinya selalu mendapatkan kemudahan setiap kali membeli lahan atau rumah untuk perluasan.
“Allah selalu membantu dan memberi kemudahan kepada kami,” kata dr Sadi.
Hingga akhirnya, berdirilah RS Prima Husada yang saat ini berkembang berada di dua tempat. Pertama, di Singosari, Kabupaten Malang, dan kedua di Sukorejo, Kabupaten Pasuruan dengan bangunan delapan lantai.
Apa rahasianya sehingga dalam kurun waktu 19 tahun (sejak 2005), yang semula berupa balai pengobatan, kemudian menjadi dua rumah sakit? Ny Endang mengatakan, “Kekuatan itu datang dari dalam rumah. Harmonisasi hubungan suami-istri menjadi energi utama dalam segala hal, termasuk bisnis. Sebagai istri, saya berusaha membantu suami dengan sekuat tenaga,”. Sebuah kisah inspiratif untuk kita semua. Semoga bermanfaat. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah