Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Dua Hikmah Isra Mikraj

Kurniawan Muhammad • Senin, 27 Januari 2025 | 14:36 WIB
Catatan Awal Pekan
Catatan Awal Pekan

Apa hikmah yang dapat diambil dari peristiwa luar biasa Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW yang pada 2025 jatuh hari ini?

Setidaknya ada dua hikmah: Pertama, peristiwa Isra Mikraj dapat menjadi media bagi kita untuk “mengkalibrasi” keimanan dan ketaqwaan kita sebagai seorang muslim. Keimanan dan ketaqwaan selalu berjalan beriringan.

Di dalam Alquran Surat Al Baqarah ayat 3, disebutkan tanda-tanda orang yang bertaqwa: …”(yaitu) orang-orang yang beriman pada yang gaib, menegakkan salat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka”.

Jelaslah di sini bahwa salah satu tanda seseorang itu bertakwa, adalah beriman atau percaya dengan hal-hal yang gaib. Yaitu hal-hal yang tidak bisa dilihat dengan panca indera, atau yang tidak bisa dijangkau dengan akal sehat maupun nalar manusia.

Nah, Isra Mikraj adalah peristiwa gaib, yang tidak bisa dijangkau dengan nalar atau akal manusia.

Bagaimana bisa, akal manusia menalar perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram (Makkah) ke Masjidil Aqsa (Palestina), yang jaraknya sekitar 1.500 kilometer, dan perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Aqsa ke Sidratul Muntaha (puncak langit ketujuh, jauh di luar angkasa), semua itu dilakukan dalam waktu semalam saja? Jika manusia hanya mengandalkan akalnya saja dalam beragama, pasti tidak akan percaya dengan peristiwa Isra Mikraj.

Atau, kalau pun percaya, mereka akan berpendapat bahwa Isra Mikraj itu peristiwa yang dijalani ruhnya Nabi Muhammad SAW saja, tanpa jasadnya. Jadi, layaknya orang yang sedang bermimpi. Pendapat seperti ini, hingga sekarang masih ada yang meyakininya.

Makanya, di sinilah pentingnya keimanan. Dan keimanan adalah pondasi kokoh dalam membangun ketaqwaan. Bagi kita umat Islam yang beriman dan bertakwa, Isra Mikraj adalah perjalanan nyata Nabi Muhammad SAW, ruhnya dan jasadnya, dan ini salah satu tanda bukti kebesaran Allah SWT.

Kekuasaan dan kebesaran Allah SWT, sangat jauh di atas akal manusia yang sangat terbatas. Sehingga, ada kalanya, sebuah fenomena diperlihatkan oleh Allah SWT kepada manusia, dan tidak selalu fenomena itu bisa dinalar oleh akal manusia.

Misalnya yang baru-baru ini terjadi di Los Angeles Amerika Serikat, yakni kebakaran hebat di negara adi daya itu. Dengan adanya kebakaran tersebut, eksistensi Amerika sebagai negara super power dengan teknologi canggihnya, dibikin tak berdaya oleh kobaran api yang menjalar sangat cepat.

Hingga membumihanguskan sedikitnya 15 ribu bangunan di empat distrik: Palisades, Eaton, Altadena, dan Malibu. Luasan yang terbakar di empat distrik itu sekitar 40.235 hektare, atau sama dengan 402,35 km persegi (hampir mendekati 2/3 wilayah DKI Jakarta).

Kerugian diperkirakan mencapai USD 250 miliar, atau setara dengan Rp 4.042 triliun. Jumlah tersebut masih bisa bertambah.

Hingga kini, penyebab dari kebakaran tersebut masih bersaput misteri. Nalar manusia masih belum bisa menjangkau penyebab dari musibah tersebut. Bagaimana bisa kebakaran terjadi ketika musim dingin, dan api sangat cepat menjalar begitu cepatnya?

Kita sebagai orang yang beriman dan bertakwa, menjadi semakin yakin, bahwa peristiwa yang terjadi di Amerika itu adalah fenomena yang sengaja didesain oleh Allah SWT untuk menunjukkan tanda-tanda kebesaran dan kekuasaanNya. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah SWT.

Betapa pun tidak masuk akalnya sebuah peristiwa, jika Allah SWT berkehendak, maka terjadilah peristiwa itu. Betapa pun maju dan canggihnya sebuah negara dalam menangkal setiap musibah, jika Allah SWT membuatnya tidak berdaya, maka tidak berdayalah mereka.

Jadi, momentum Isra Mikraj, marilah kita jadikan sebagai media untuk mengaudit kadar keimanan dan ketakwaan kita. Termasuk mengaudit, seberapa kita yakin dan beriman kepada hal-hal yang gaib, yang merupakan tanda-tanda kebesaran Allah SWT.

Hikmah kedua dari Isra Mikraj, marilah kita jadikan sebagai media untuk mengaudit kualitas dan kuantitas salat kita.

Dari sisi kualitas, seberapa kita kusyuk dan tumakninah dalam menjalankan salat? Bagaimana kita memposisikan salat kita? Hanya sebagai kewajiban saja? Atau, tidak sekadar kewajiban tapi juga kebutuhan? Dari sisi kuantitas, apakah kita sudah menjalankan dengan istikomah lima waktu saalat wajib setiap harinya? Apakah juga mengerjakan salat-salat sunah?
Isra Mikraj, tidak dapat dipisahkan dengan salat. Sebab, dalam peristiwa Isra Mikraj itulah, Rasulullah SAW menerima perintah salat, langsung dari Allah SWT.

Maqom dari perintah salat, jauh di atas perintah-perintah Allah yang lain. Perintah tentang zakat, perintah tentang puasa, dan perintah tentang haji, cukuplah Allah memberikan wahyu kepada Rasulullah SAW melalui malaikat Jibril.

Tapi, khusus perintah salat, Rasulullah SAW harus dipanggil menghadap langsung kepada Allah SWT ke Sidratul Muntaha melalui peristiwa Isra Mikraj.

Maka, betapa tingginya maqom salat itu? Dengan ketinggian maqom-nya salat, sudahkah kita mengapresiasinya secara layak? Mengapresiasi secara layak salat, tidak ada cara lain kecuali dengan cara melaksanakannya secara istikomah, kusyuk dan tumakninah.

Marilah kita jadikan salat, bukan hanya sebagai kewajiban. Tapi, kita jadikan salat sebagai media kita untuk berkomunikasi dan bermunajat secara intensif dan intim dengan Allah SWT. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah SWT berfirman: “Aku bagi salat menjadi dua bagian. Bagian pertama, adalah hakKu atas umatKu. Bagian kedua, adalah hak umatKu atas Aku.”

Artinya, terdapat dua dimensi dalam salat. Dimensi pertama, kita melaksanakan kewajiban (hak Allah SWT atas kita). Dimensi kedua, kita bisa berkomunikasi, bisa curhat, bisa minta pertolongan kepada Allah SWT melalui salat (hak kita atas Allah SWT).

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi muhasabah kita. Wallahu A’lam Bisshowab. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#Nabi Muhamad SAW #islam #Hikmah #isra mikraj