Kota Kediri 2025-2030

Kurniawan Muhammad • Dipublikasikan Senin, 9 Desember 2024 | 16:51 WIB
Catatan Awal Pekan
Catatan Awal Pekan

Hampir bisa dipastikan, bahwa wali Kota Kediri yang akan dilantik tahun depan, 2025 – 2030, adalah Vinanda Prameswati. Dia akan didampingi oleh wakilnya, KH Qowimuddin Thoha (Gus Qowim).

Bisa jadi, Vinanda akan menjadi wali kota termuda di Indonesia. Saat dilantik nanti, umurnya baru 26 tahun.

Vinanda, figur yang sempat di-bully oleh netizen, karena dianggap tidak punya visi-misi ketika akan maju dalam kontestasi pilkada Kota Kediri.

Tapi, nyatanya, berkat visi-misinya yang berslogan MAPAN (Maju, Agamis, Produktif, Aman dan Ngangeni), Vinanda akhirnya lebih disukai oleh masyarakat Kota Kediri, ketimbang rivalnya, Ferry Silviana (Fey), isteri bekas Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar.

Vinanda, figur yang tidak pernah terpancing emosinya, dan tidak pernah terpengaruh dengan berbagai cibiran yang sempat diarahkan kepadanya, menunjukkan kestabilan emosinya.

Pembawaannya tetap tenang. Yang dia lakukan, hanyalah “terus berjalan” dengan rute yang dia yakini. Dan ini sangat penting sebagai modal dasar seorang pemimpin. 

Seorang pemimpin harus punya kestabilan emosi. Tidak boleh gampang baper (terbawa perasaan). Dan harus terus melangkah menapaki jalan yang sudah dipilih, meskipun dicibir atau dinyinyiri.

Ketika nanti sudah benar-benar dilantik sebagai Wali Kota Kediri, saatnya bagi Vinanda untuk membuktikan bahwa dia mampu melaksanakan kebijakan yang menjadi visi-misinya.

Vinanda juga harus bisa membuktikan, bahwa di bawah kepemimpinannya, Kota Kediri akan menjadi kota yang lebih baik. Dia juga harus membuktikan, bahwa masyarakat Kota Kediri tidak salah memilihnya.

Saya sempat ngobrol dengan Vinanda ketika dia berkunjung ke kantor saya beberapa waktu lalu.

Saat itu, dia mengatakan, jika Tuhan mentakdirkan dia menang dalam pilkada, maka salah satu program yang dia prioritaskan adalah memperbaiki Stadion Brawijaya, yang kondisinya saat ini memang sangat memprihatinkan.

Jika Vinanda punya perhatian khusus terhadap Stadion Brawijaya, itu karena dia adalah penyuka olah raga sepak bola. Dan kebetulan, dia saat ini adalah Ketua ASBWI (Asosasi Sepak Bola Wanita Indonesia) Kota Kediri.

Selain itu, keberadaan Stadion Brawijaya yang berada di pusat Kota Kediri, tapi dengan kondisi yang dibiarkan “apa adanya” seperti itu, inilah yang membuat Vinanda prihatin. Makanya, revitalisasi Stadion Brawijaya akan dia prioritaskan.

Bagaimana dengan Proyek Alun-Alun yang sekarang mangkrak? Ketika hal ini saya tanyakan ke Vinanda, proyek itu pun akan menjadi perhatiannya untuk juga diprioritaskan.

Sebab, diakui atau tidak, gara-gara proyek Alun-Alun yang mangkrak itu, wajah Kota Kediri menjadi terlihat “bopeng”.

Nah, sebagai bagian dari masyarakat Kota Kediri, kita sangat mengharapkan, dalam lima tahun ke depan (2025-2030) Kota Kediri akan punya Stadion Brawijaya yang lengkap, megah, dan keren.

Kita berharap, stadion itu menjadi multifungsi. Jadi, tak hanya digunakan untuk olahraga sepak bola saja.

Melainkan juga bisa digunakan untuk aktivitas olahraga yang lain, khususnya olahraga hobi atau olahraga entertainment.

Kita juga sangat mengharapkan, Alun-Alun Kota Kediri yang saat ini sedang berperkara secara hukum,  bisa segera diselesaikan kasusnya. Setelah itu, bisa segera dilanjutkan pembangunannya. 

Dari akronim MAPAN yang menjadi slogan kampanye Vinanda, Yakni Maju, Agamis, Produktif, Aman dan Ngangeni, saya tertarik dengan yang terakhir: Ngangeni.

Saya memahami slogan tersebut, Vinanda ingin dalam pemerintahannya menjadikan Kota Kediri sebagai kota yang ngangeni alias kota yang selalu dirindukan.

Sebuah kota, akan menjadi kota yang ngangeni atau kota yang selalu dirindukan, jika kota itu punya daya tarik yang kuat. Apakah itu budayanya, tempat-tempat ikoniknya, destinasi wisatanya, event-nya, ataupun kulinerannya.

Yang menjadi pertanyaan, seberapa kuat daya tarik Kota Kediri saat ini? Apa yang membuat orang selalu merindukan Kota Kediri? Menurut saya, jika kekuatan daya tarik itu dinilai  dalam skala 5 – 9, maka nilai untuk Kota Kediri secara over-all menurut saya adalah 7.

Artinya, biasa-biasa saja. Standar. Alias belum kelihatan istimewanya. Jika demikian, berarti belum cukup kuat memenuhi syarat untuk menjadi Kota yang ngangeni.

Maka, saya sangat berharap, Vinanda dalam pemerintahannya lima tahun ke depan, mampu mewujudkan salah satu slogannya tersebut, yakni menjadikan Kota Kediri sebagai kota yang ngangeni.

Melalui tulisan ini, saya mengusulkan, salah satu spot yang bisa dikembangkan sebagai sebuah ikon dari Kota Kediri sehingga menjadi Kota yang ngangeni, adalah spot di sekitar Gunung Klotok dan Goa Selomangleng.

Secara lanskap, spot tersebut sebetulnya cukup keren. Secara view juga sebetulnya cukup indah.  Tapi yang terlihat saat ini, terkesan agak kumuh.

Berarti, spot tersebut butuh dipermak lebih lanjut, agar terlihat lebih wow dan mengesankan.  Lalu, bikin event kolosal di sana, berbasis pada budaya dan kearifan lokal. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
vinanda gus qowim radar kediri wali kota kediri kota kediri 2025 2030 kota kediri mapan jawa pos catatan awal pekan kota kediri