Saya punya langganan tahu di Kediri. Menurut saya, itu lah tahu paling enak dari semua tahu yang pernah saya cicipi. Saya pernah merasakan tahu dari Jombang (karena saya asli Jombang). Saya pernah mencicipi tahu dari Surabaya (karena 14 tahun bertugas di Surabaya). Saya juga pernah merasakan tahu dari Malang (karena 11 tahun bertugas di Malang). Dan, tahu dari Kediri, menurut saya yang paling enak.
Tahu dari Kediri yang menurut saya enak bukan tahu takwa yang warnanya kuning dan teksturnya bantat itu. Tapi ini tahu biasa yang warnanya putih itu. Jika diminta untuk mendeskripsikan ke-“enak”-an dari tahu Kediri itu adalah dari sisi rasa. Ada gurihnya. Dan rasanya itu awet meski disimpan berhari-hari di kulkas.
Langganan tahu saya itu tinggal di daerah Pagu, Kabupaten Kediri. Mereka adalah home industry. Angga, nama langganan tahu saya itu, adalah pemilik home industry tersebut. Umurnya sekitar 35 tahun. Dia yang bikin sendiri tahu, dia juga yang berkeliling menjual tahunya. Angga sudah punya banyak pelanggan. Jadi, ketika dia berkeliling itu, kebanyakan adalah mengantarkan tahu ke para pelanggannya. Dia hanya punya satu karyawan.
Ketika saya tanyakan soal rasa tahu-nya yang berbeda dari tahu-tahu lainnya, Angga mengakui bahwa dalam membuat tahu, dia mencampurkan bahan-bahan alami tertentu. Sehingga tahunya bisa punya rasa yang berbeda. Ketika saya tanyakan bahan-bahan alami itu apa, Angga menjawab diplomatis, “Sampeyan datang aja ke tempat saya. Nanti saya tunjukkan,” katanya.
Angga, adalah salah seorang pelaku UMKM yang membuat dan menjual tahu. Saya yakin, orang seperti Angga ini, di Kediri jumlahnya bisa mencapai ratusan. Mereka bekerja sendiri-sendiri. Bikin tahu sendiri-sendiri. Dengan rasa yang mungkin bisa berbeda-beda.
Kediri disebut sebagai kota tahu. Lebih khusus lagi di Kediri ada “tahu takwa” yang berwarna kuning itu. Jika ditelisik dari sudut pandang sejarah, keberadaan tahu takwa itu sangat terkait dengan kedatangan bangsa Tiongkok pada abad ke-13. Tahu dibawa masuk pertama kali ke Kediri oleh tentara Kubilai Khan di tahun 1292. Hal ini dijelaskan dalam buku “Dapur Naga di Indonesia”. Pada buku tersebut dijelaskan, bahwa makanan tahu dibawa oleh tentara Kubilai Khan ke Kediri melalui Jongbiru.
Disebutkan pada buku itu, tempat berlabuhnya jung-jung Mongol adalah di Sungai Brantas yang ada di Kediri. Jung-jung adalah kapal layar yang banyak terdapat di perairan Asia Tenggara sampai ke pantai timur Afrika. Jung-jung yang dipergunakan tentara Kubilai Khan ada yang mengangkut bahan makanan untuk tentara. Salah satunya membawa kacang kedelai untuk membuat tahu. “Di kota itu (Kediri) sampai hari ini masih disebut dengan Jong biru” seperti ditulis pada buku “Dapur Naga di Indonesia”. Jongbiru adalah nama sebuah desa yang berada di Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri. Diduga kuat tahu dari Tiongkok masuk pertama kali di Kediri melalui kawasan yang saat ini disebut sebagai Desa Jongbiru.
Tak diketahui pasti bagaimana transformasi tahu dari tentara Kubilai Khan kepada warga pribumi. Namun yang jelas, banyak warga setempat yang kemudian memiliki alat membuat tahu dari kayu dan batu.
Tahu berasal dari bahasa China, yakni dari kata “tauhu” yang diambil dari Bahasa Hokkian, artinya kedelai yang difermentasi. Tahu sudah diperkenalkan di Tiongkok sejak zaman Dinasti Han sekitar 2.200 tahun lalu. Penemunya pertama kali adalah Liu An, yang merupakan cucu dari Kaisar Han Gaozu, keluarga bangsawan dari pendiri Dinasti Han.
Olahan kedelai alias tahu itu kemudian menyebar ke berbagai negara, termasuk ke bumi nusantara. Lantas, bagaimana ceritanya di Kediri ada “tahu takwa?”
Satu versi menyebutkan, bahwa tahu takwa diambil dari suku Hokkian yang bermigrasi ke Kediri. Suku tersebut bernama “Kwa”. Ketika berada di Kediri, mereka melanjutkan tradisinya untuk membuat tahu. Karena terdapat kesamaan antara tekstur air di Tiongkok dengan di Kediri.
Lama-lama pembuatan tahu itu menyebar di kalangan pribumi. Terjadi asimilasi bahasa dan penyesuaian kata oleh orang Jawa yang kurang fasih dalam penyebutan “tahu kwa”. Sehingga sering mereka menyebutnya dengan “takwa” atau disebut dengan “tahu takwa”.
Pada tahun 1900-an, terjadi migrasi besar-besaran warga Tiongkok ke Indonesia. Ribuan warga Tiongkok datang dan bermukim di Indonesia, di antaranya Kediri. Di antara warga yang bermigrasi ke Kediri ini ada yang membuat pabrik tahu. Pendiri pabrik tahu pertama di Kediri adalah Bah Kacung, pada tahun 1901. Dan, pabrik Bah Kacung hingga kini masih memproduksi tahu yang menjadi ciri khasnya Kediri.
Walhasil, dari tahu, sebetulnya kita bisa menarasikannya menjadi sebuah kisah sejarah yang menarik untuk diceritakan, sebagai bahan story telling. Sehingga, bisa dijadikan sebagai pelengkap sebuah identitas bahwa Kediri adalah Kota Tahu. Selama ini, Kediri dikenal sebagai Kota Tahu, hanya karena di kota ini banyak terdapat penjual tahu, khususnya terkenal dengan tahu takwa-nya. Belum ada (setahu saya) dokumen yang secara khusus menulis tentang sejarah tahu di Kediri.
Akan lebih baik, jika ada kebijakan bersama dari pemerintah daerah di Kota Kediri dan Kabupaten Kediri untuk mengorkestrasi industry tahu, mulai dari para pengusaha, para pedagang dan penjual tahu, untuk membuat sebuah sentra tahu yang terpadu. Di sentra tahu itu, disediakan berbagai macam tahu, mulai dari yang berwarna putih hingga yang berwarna kuning. Juga disediakan berbagai macam olahan tahu.
Pokoknya, di sentra tahu itu semuanya serba tahu. Juga dilengkapi dengan narasi lengkap tentang perjalanan tahu dari Tiongkok ke Kediri. Dengan demikian, sebutan Kediri sebagai Kota Tahu menjadi berbeda dengan kota atau daerah lain. Kalau disebut “kota tahu” hanya karena di kota itu banyak yang berjualan tahu, lalu apa bedanya dengan daerah lain yang juga banyak terdapat penjual tahunya? Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Anwar Bahar Basalamah