Inilah salah satu figur yang akan mencalonkan diri di Pilkada Kota Kediri, yang umurnya paling muda. Dia pernah viral di media sosial, karena dianggap tak punya visi-misi yang jelas. Dia juga dianggap belum punya pengalaman politik yang mumpuni untuk maju dalam pilkada. Dan, dia juga dianggap berani maju karena ada peran penting bapak-nya. Figur ini adalah Vinanda Prameswati.
Minggu lalu, kami berkesempatan ngobrol selama hampir dua jam dengan gadis 26 tahun itu. Dia dan timnya datang ke kantor kami. Tujuannya, mengajak berdiskusi tentang dinamika yang terjadi di Kota Kediri. Saya sempat bertanya tentang seberapa serius dia maju dalam Pilkada Kota Kediri. Dan dia pun menjawab “serius”. Bahkan “sangat serius”. Dia mengaku sudah “turun ke bawah”. Dia sudah datangi semua kelurahan yang ada di Kota Kediri. Berbagai kegiatan dengan berbagai kelompok masyarakat pun sudah dia dilakukan.
Hanya saja, dia saat ini masih menunggu kepastian dari partai politik terkait “tiket” yang akan digunakan maju pada Pilkada Kota Kediri. Memang, sejauh ini, sudah ada dua partai politik di Kota Kediri yang sudah menyebut nama Vinanda untuk dimajukan pada Pilkada Kota Kediri. Yakni Partai Demokrat dan Partai Golkar. Secara hitung-hitungan jumlah kursi, koalisi dua partai ini sudah cukup untuk mengusung Vinanda. Hingga kini, pihak Vinanda masih menunggu dukungan dua partai politik itu hingga benar-benar menjadi sebuah rekomendasi dari pusat.
Anggapan bahwa Vinanda tak punya visi-misi sebagai calon yang akan maju pilkada yang sempat viral itu, sama sekali tak tercermin ketika ngobrol langsung dengan dia. Saya sempat bertanya kepadanya tentang berbagai persoalan yang terjadi di Kota Kediri. Saya ingin tahu, seberapa dia punya perspektif tentang berbagai persoalan itu. Dia menjawabnya dengan cepat dan spontan. Dan, rata-rata jawabannya bukan klise. Malah ada beberapa jawabannya yang menurut saya, mencerminkan karakternya sebagai anak muda.
Ketika nama Vinanda sempat di-bully di sosial media karena dianggap tak punya visi sebagai calon kepala daerah, dia sama sekali tak menanggapinya. Meski dia punya akun resmi di sosial media. Vinanda lebih memilih diam. Dan ini menurut saya sudah sangat tepat. Karena, memang tak perlu ditanggapi. Sebab, itu adalah produk dari opini. Bukan fakta. Hanya gara-gara Vinanda ditanya wartawan soal visi-misinya, lalu tidak menjawab pertanyaan itu, kemudian dianggap Vinanda tak punya visi-misi. Ini jelas-jelas opini. Bukan fakta. Dalam dunia media, itulah yang disebut dengan “framing”. Dan Vinanda adalah korban dari “framing” yang diproduksi di media sosial.
Saya lantas teringat dengan Gibran Rakabuming Raka yang juga sempat di-bully oleh netizen. Gibran dianggap figur yang sama sekali tidak layak untuk dicalonkan menjadi wakil presiden. Gibran kalau berbicara agak gagap. Plonga-plongo. Dianggap tak punya kemampuan dan wawasan yang mumpuni. Gibran sempat viral gara-gara salah menyebut “Asam Folat” yang disebutnya dengan “Asam Sulfat”. Dan gara-gara ini, Gibran dijuluki si “Samsul” singkatan dari “Asam Sulfat”.
Gibran juga pernah terang-terangan diolok-olok oleh budayawan Butet Kartaredjasa sebagai figur yang tak punya kapasitas sebagai seorang pemimpin. Dalam sebuah video yang sempat viral, Butet kala itu sangat meremehkan Gibran, dan dia membandingkannya dengan Prof Dr Mahfud MD.
Gibran sama sekali tidak merespons dan menanggapi semua bully-an netizen di media sosial. Dia lebih fokus melakukan berbagai kegiatan yang menurut dia baik. Dia bahkan tak segan untuk menyebut namanya dengan “Samsul”.
Gibran juga dianggap minim dengan pengalaman. Dia juga dianggap hanya sekadar menjual nama bapaknya. Dan, di kalangan sebagian aktivis, Gibran juga dijuluki sebagai “anak haram konstitusi”.
Terhadap semua nyinyiran, bully-an, dan cemoohan di media sosial itu, oleh Gibran sama sekali tak ditanggapi. Dia lebih memilih mencuekinya. Dan ini sudah sangat tepat. Sebab, berbagai nyinyiran, bully-an, dan cemoohan di media sosial itu (sekali lagi) bukanlah fakta. Tapi, itu adalah opini. Dan opini itu merupakan hasil dari framing terhadap potongan fakta-fakta.
Bisa jadi, berbagai nyinyiran, bully-an dan cemoohan itu malah dijadikan lecutan, energi atau “vitamin” oleh Gibran untuk dia berusaha keras ingin membuktikan bahwa dia punya kemampuan, punya kapasitas dan punya kompetensi. Dan ini sukses ditunjukkan Gibran saat debat pada Pilpres lalu. Sehingga, terbukti, berbagai nyinyiran, bully-an dan cemoohan itu tak berpengaruh terhadap elektabilitasnya. Bahkan, saat dia di-bully dan dicemooh, malah dapat banyak simpati dari netizen lainnya.
Baca Juga: BI, Cabe, dan Inflasi
Jadi, ini pelajaran bagi siapa saja figur yang akan maju dalam pilkada, termasuk Vinanda, yang di media sosial di-bully, dicemooh dan dinyinyiri, nggak usah ditanggapi. Nggak usah direspons. Jika Anda di-bully karena tak menjawab pertanyaan wartawan dan dianggap bodoh, jika Anda di-bully karena nggak bisa ngomong lancar, atau jika Anda di-bully karena dianggap belum punya pengalaman atau tak punya kapasitas, cuekin saja. Sebab, semua itu hanya opini. Orang bebas beropini apa saja di media sosial. Orang bebas menganggap dan menilai apa saja di media sosial. Dianggap nggak bisa ngomong, dianggap plonga-plongo, dan dianggap tak punya pengalaman dan kapasitas, bukanlah sebuah kesalahan.
Bukan pula sebuah kejahatan. Jadikanlah bully-an, cemoohan dan nyinyiran itu sebagai sebuah energi positif untuk menempa diri dan meningkatkan kualitas dan kapasitas diri yang lebih baik. Gus Dur (Almarhum KH Abdurrahman Wahid) pernah berkata: “Kalau ada orang suka menjelekkan orang lain, suka membicarakan kelemahan orang lain, berarti dia masih belum sepenuhnya lulus menjadi manusia,”. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/kum_jp)
Editor : Anwar Bahar Basalamah