Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

BI, Cabe, dan Inflasi

Kurniawan Muhammad • Senin, 3 Juni 2024 | 18:57 WIB
Catatan Awal Pekan
Catatan Awal Pekan

Pekan lalu saya diundang di acara yang diadakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kediri. Yakni, kick off  “Sekolah Peduli Inflasi” (SPI). Acara ini secara garis besar adalah mengajak siswa-siswi (kali ini khusus untuk tingkatan Sekolah Menengah Pertama dan yang sederajat di Kota Kediri) untuk peduli dengan berbagai parameter yang mempengaruhi inflasi di suatu daerah.

Salah satu parameter yang sangat mempengaruhi inflasi di suatu daerah adalah harga cabe. Maka, melalui kegiatan SPI itu, para murid di tingkatan SMP atau yang sederajat di Kota Kediri, diajak untuk peduli dengan cabe, dengan cara diajak menanam cabe mulai dari benih hingga panen. Dan itu harus ditanam di lingkungan sekolah masing-masing.

Selanjutnya, proses dalam menanam cabe hingga panen itu akan dinilai oleh tim juri yang sudah dibentuk oleh Kantor Perwakilan BI Kediri. Sekolah yang proses menanam cabenya hingga panennya paling baik, akan menjadi juara.

Kegiatan ini menurut saya sangat positif. Setidaknya ada dua alasan. Pertama, memberikan pendidikan kepada generasi Z (karena yang disasar adalah siswa-siswi SMP) tentang apa itu inflasi, mengapa inflasi harus dikendalikan, termasuk faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi laju inflasi di suatu daerah. Pasti, ketika kegiatan menanam cabe ini dilakukan di sekolah, dan dikaitkan dengan inflasi, di antara murid, guru, maupun wali murid, akan  ada yang bertanya-tanya: “Apa hubungannya antara cabe dan inflasi?”.

Sehingga, kelak akan dijelaskan melalui kegiatan SPI ini, bahwa inflasi adalah kenaikan umum dan berkelanjutan dalam harga barang dan jasa di suatu ekonomi selama periode waktu tertentu. Inflasi diukur dengan menggunakan indeks harga, seperti Indeks Harga Konsumen (IHK), yang mencerminkan perubahan rata-rata harga dari sekeranjang barang dan jasa yang sering dibeli oleh rumah tangga.

Mengapa inflasi harus dikendalikan? Sebab, jika inflasi di suatu daerah tinggi, setidaknya ada tiga bahaya yang bisa timbul. Bahaya pertama, menurunnya daya beli. Inflasi yang tinggi akan mengurangi daya beli uang. Artinya, jumlah uang yang sama akan membeli lebih sedikit barang dan jasa dibandingkan sebelumnya. Ini sangat berdampak pada rumah tangga berpendapatan tetap, seperti pensiunan, yang mungkin tidak melihat pendapatan mereka meningkat seiring dengan kenaikan harga. 

Bahaya kedua, ketidakpastian ekonomi. Inflasi tinggi menciptakan ketidakpastian di pasar, karena konsumen dan bisnis sulit memprediksi harga di masa depan. Hal ini dapat menghambat investasi dan perencanan bisnis jangka panjang.

Dan bahaya ketiga, kenaikan biaya hidup. Harga barang dan jasa yang terus meningkat dapat menyebabkan kenaikan biaya hidup, membuat masyarakat sulit memenuhi kebutuhan dasar mereka. Hal ini terutama memberatkan bagi kelompok berpenghasilan rendah yang lebih banyak menghabiskan pendapatan mereka untuk kebutuhan dasar. Dan jumlah kelompok ini di Indonesia masih cukup dominan.

Lantas, apa hubungannya inflasi dengan cabe? Faktor harga cabe akan sangat mempengaruhi inflasi di suatu daerah. Setidaknya ada tiga alasan: Pertama, cabe sebagai komoditas penting. Cabe adalah salah satu bahan pokok yang banyak digunakan dalam masakan sehari-hari, khususnya di negara-negara seperti Indonesia. Sehingga, permintaan terhadap cabe cenderung tinggi dan konsisten sepanjang tahun.

Sebagai komoditas penting, fluktuasi harga cabe dapat berdampak langsung pada biaya hidup masyarakat. Kedua, cabe dikonsumsi secara luas, oleh berbagai lapisan masyarakat.  Mulai dari rumah tangga hingga industri makanan. Maka, kenaikan harga cabe akan langsung dirasakan oleh banyak orang dan berbagai sektor.

Ketiga, cabe berpengaruh terhadap Indeks Harga Konsumen (IHK). Ini adalah salah satu ukuran inflasi yang sering digunakan, dan mencakup berbagai barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga. Bahan makanan, termasuk cabe, memiliki bobot signifikan dalam perhitungan IHK. Kenaikan harga cabe secara substansial dapat menyebabkan peningkatan IHK, yang mencerminkan inflasi.

Berbagai penjelasan di atas, cepat atau lambat akan bisa diserap oleh para murid, guru dan wali murid, seiring pelaksanaan SPI di SMP-SMP di Kota Kediri yang menurut rencana akan dilaksanakan selama tiga bulan (usia panen cabe). Sehingga diharapkan akan muncul kesadaran akan pentingnya menjaga kestabilan harga cabe, salah satunya dengan cara gerakan tanam cabe, dimulai dari lingkungan sekolah.

Alasan kedua mengapa kegiatan SPI  melalui kegiatan menanam cabe penting, karena ini termasuk menggalakkan program “urban farming”. Ada banyak manfaat dari program “urban farming” ini. Di antaranya: dapat meningkatkan ketahanan pangan, mengurangi jejak karbon, pemanfaatan lahan kosong, pendidikan lingkungan, peningkatan kesehatan dan gizi, serta pengurangan biaya makanan.

Jadi, kegiatan SPI yang diinisiasi oleh Kantor Perwakilan BI Kediri patut untuk diapresiasi. Semoga bisa dikembangkan ke jenjang sekolah di atasnya (SMA dan yang sederajat) dan bisa dilaksanakan di Kabupaten Kediri, maupun di Kabupaten Nganjuk. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#bi #bank Indonesia #inflasi #Cabe #kota kediri