Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Setelah Bandara Dhoho Beroperasi, Selanjutnya?

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 15 April 2024 | 23:11 WIB
Catatan Awal Pekan
Catatan Awal Pekan

AKHIRNYA Bandara Dhoho di Kediri benar-benar sudah beroperasi, meski belum dibuka secara resmi. Pada 5 April lalu, Citilink dengan rute Jakarta-Kediri adalah pesawat komersial pertama yang landing di Bandara Dhoho.

Suasana sambutan gegap gempita di bandara mewarnai first landing tersebut. Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana ikut menyambut para penumpang di pesawat itu, seraya mengalunginya dengan bunga ucapan selamat datang. Koran ini secara eksklusif (satu satunya perwakilan media massa) ikut dalam penerbangan tersebut.

Lantas, setelah ini bagaimana? Bagaimana dengan rute-rute yang lainnya? Sepertipernah diberitakan, Ditjen Perhubungan Udara telah mengeluarkan izin rute penerbangan untuk Batik Air dan Super Air Jet di Bandara Dhoho. Batik Air untuk rute KediriJakarta, Kediri-Bali, dan Kediri-Palembang. Sedangkan Super Air Jet mendapat persetujuan lima rute: Kediri - Banjarmasin, Kediri - Balikpapan, Kediri - Makassar, Kediri - Bali, dan Kediri - Palembang.

Meski izin untuk delapan rute itu sudah disetujui, tapi, sepertinya di tahap-tahap awal ini baru empat rute yang akan dioperasikan: Kediri - Banjarmasin, Kediri - Balikpapan, Kediri - Makassar, dan Kediri - Jakarta.

Berbagai rute bisa saja disetujui. Tapi, bagaimana dengan kelangsungan dari rute-rute yang sudah disetujui itu? Untuk rute Kediri - Jakarta saja yang dioperatori Citilink, hanya menyediakan jadwal penerbangan seminggu dua kali. Jadi, tidak bisa setiap hari. Bagaimana dengan rute-rute yang lain? Jika dicermati, rute “dari” dan “ke” Kediri adalah daerah Bali, Jakarta, Sumatera (Palembang), Kalimantan (Banjarmasin, Balikpapan) dan Sulawesi (Makassar).

Ketika sebuah maskapai memutuskan untuk memilih rute penerbangan ke daerah tertentu, pasti didahului dengan survei pasar. Disurvei potensi jumlah penumpangnya, dan disurvei potensi frekuensi penerbangannya.

Saya menduga, potensi penumpang yang akan mengambil rute ke Bandara Dhoho itu bersumber dari duacluster: pertama, mereka yang berasal dari wilayah Jatim bagian selatan (Kediri Raya, Nganjuk, Tulungagung, Blitar Raya, Trenggalek, Madiun Raya, Ponorogo, Pacitan), tapi sudah tinggal dan menjadi penduduk di daerah lain (Jakarta, Bali, Palembang, Banjarmasin, Balikpapan, Makassar).

Bagi mereka, jika ingin pulang kampung dengan pesawat terbang, lebih cepat rutenya
via Bandara Dhoho, dibandingkan via Bandara Juanda. Kedua, mereka yang punya urusan bisnis di wilayah Jatim bagian selatan. Di dalamnya termasuk mereka yang punya urusan bisnis dengan pabrik rokok Gudang Garam.

Nah, jika hanya mengandalkan dua kluster potensi penumpang ini saja, menurut
saya masih kurang kuat “arus”- nya dan kurang banyak frekuensinya. Harus ditambahkan cluster ketiga, yakni mereka yang ingin liburan atau berwisata ke wilayah Jatim bagian selatan. Masalahnya, sejauh ini, daya tarik wisata di wilayah Jatim bagian selatan masih kurang kuat. Jika rentang skala nilainya antara 5 - 9, maka nilai untuk daya tarik wisata di wilayah Jatim selatan menurut saya 7.

Sebuah nilai yang sangat standar. Belum istimewa. Jika dianalogikan, wilayah Jatim bagian selatan masih belum benar-benar menjadi “gula”. Sehingga tak cukup kuat menarik para “semut” untuk datang. Sementara, saat ini, sudah dibikin “jalan” (Bandara Dhoho) yang lebih mudah bagi “para semut” untuk datang. Masalahnya, betapa pun sudah dibikin, “jalan” (bandara) yang memudahkan, tapi kalau masih belum menjadi “gula” saya kira sulit untuk bisa mendatangkan banyak “semut”.

Maka, menurut saya, jalan tercepat untuk menjadikan Jatim bagian selatan agar benar-benar menjadi “gula”, para kepala daerah di wilayah tersebut harus berkolaborasi dan bersinergi untuk menjadikan kawasan Jatim selatan sebagai “gula”. Kabupaten Kediri, sebagai tuan rumah Bandara Dhoho, harus menjadi inisiator dalam upaya kolaborasi dan sinergi tersebut.

Saya membayangkan, ketika nanti para kepala daerahdi wilayah Jatim selatan itu berhasil membangun kolaborasi dan sinergi, salah satu hasilnya adalah bikin satu event atau momentum bersama menciptakan “bulan kunjungan ke Jatim selatan”. Di event itu, masing-masing daerah di Jatim selatan meng-create event kolosal, serta memoles objek-objek wisata yang ada di daerahnya. Termasuk di dalamnya, mempersiapkan berbagai sarana-prasarana,
dan infrastruktur pendukung.

Tak cukup hanya itu, harus juga dilibatkan para operator biro perjalanan atau travel wisata. Mereka harus digandeng. Misalnya, mereka diajak dan dilibatkan untuk bikin paket 5 hari keliling Jatim selatan. Bisa diawali dari Kediri. Para pelaku UMKM di masing-masing daerah juga digandeng.

Mereka harus diinventarisi potensi produknya masing-masing, dikurasi, lalu diberikan pembinaan agar produk mereka berkelas, berkesan dan bermanfaat. Hotel,guest house, home stay, losmen atau penginapan, juga toko, mall, jaringan outlet harus dilibatkan. Pendek kata, berbagai hal yang terkait langsung atau pun tidak langsung dengan dunia pariwisata, harus diorkestrasi dengan baik.

Dan yang menjadi dirigen-nya adalah kepala daerah. Masing-masing kepala daerah harus menjadi dirigen yang baik di daerahnya untuk mengorkestrasi berbagai potensi di daerahnya. Selanjutnya, para kepala daerah di Jatim selatan harus juga teorchestrasi dengan baik. Dua pilarnya adalah spirit kolaborasi dan sinergi. Bisa ditunjuk siapa yang menjadi dirijennya.

Dengan demikian, maka Jatim selatan akan mampu menciptakan “lagu” dan “irama” yang enak untuk didengar dan dinikmati, serta diperhitungkan di kancah nasional maupun internasional. Agar bisa berjalan lancar semua ini, maka kata kuncinya adalah “ego sektoral”.

Ini harus dipatahkan dan dihilangkan oleh para kepala daerah. Harus ditanggalkan kepentingan partai politik dan kepentingan golongan. Yang diutamakan adalah kepentingan bersama, demi kemajuan wilayah Jatim bagian selatan. Semoga harapan ini, dapat terwujud. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

 

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radarkediri #jawapos #catatan awal pekan