Rasanya sesek sekali dada ini, ketika kembali mendengar ada peristiwa biadab yang terjadi di tempat yang mulia. Kali ini, dialami seorang santri laki-laki, berumur 14 tahun, bernama Bintang Balqis Maulana. Anak baru gede (ABG) asal Banyuwangi itu tewas pada 23 Februari lalu, setelah dianiaya empat temannya sesama santri di Pondok Pesantren Al Haniffiyah, Mojo, Kabupaten Kediri.
Lokasi penganiayaan di lingkungan Pondok Pesantren Al Haniffiyah, dan para pelakunya adalah para santri di pondok pesantren tersebut. Inilah yang betul-betul sangat memprihatinkan. Pondok pesantren, tempat yang mulia, tempat para murid menimba ilmu agama, tempat menggembleng akhlak para santrinya agar karimah, tapi, justru menjadi tempat “penganiayaan”.
Berbagai peristiwa lain yang terjadi sebelumnya, juga tak kalah bikin sesek dada. Yakni, berbagai peristiwa pelecehan seksual yang dialami para santriwati. Salah satunya yang sempat menghebohkan tanah air beberapa waktu lalu adalah terjadi di Pondok Pesantren Shiddiqiyyah di Ploso, Jombang. Sejumlah santriwati di pondok pesantren tersebut mengaku dilecehkan secara seksual oleh salah seorang anak dari kiai pengasuh pondok pesantren itu. Para santriwati itu pun melaporkan tindakan biadab tersebut ke polisi. Dan anak kiai berinisial Su itu akhirnya ditangkap polisi, diadili di pengadilan, dinyatakan bersalah, dan sudah divonis 7 tahun penjara.
Kasus kekerasan fisik maupun kekerasan seksual yang masih saja terjadi di pondok pesantren, seperti melengkapi sisi-sisi paradoks kehidupan di dunia ini. Saya termasuk yang setuju dengan pendapat, bahwa hidup adalah kumpulan dari paradoks. Makna dari paradoks adalah: sesuatu yang berlawanan, yang terjadi sekaligus.
Pondok pesantren adalah tempat mulia, tapi justeru di tempat mulia itu terjadi perbuatan yang biadab. Ini paradoks.
Santri adalah orang-orang yang menuntut ilmu di pondok pesantren. Harusnya, dididik dan diajari dengan baik oleh figur-figur yang berilmu di pesantren itu. Tapi, para santri dan santriwati malah mengalami peristiwa perundungan dan pelecehan, yang dilakukan oleh figur-figur berilmu tadi. Sekali lagi, ini juga paradoks.
Para ahli memiliki pendapat yang beragam tentang kehidupan di dunia yang serba paradoks. Beberapa ahli ada yang berpendapat, bahwa paradoks adalah bagian alami dari kehidupan, dan merupakan cara alam semesta mengajarkan kepada kita tentang kompleksitas dan ketidakpastian.
Tapi ada juga para ahli yang melihat kehidupan yang penuh paradoks ini sebagai sesuatu yang membingungkan dan sulit untuk dipahami. Mereka ini bisa jadi frustasi, oleh ketidaksesuaian antara apa yang seharusnya dan apa yang sebenarnya terjadi, yang dapat menciptakan ketegangan dan kebingungan.
Pemikiran ini lah yang lantas menginspirasi Albert Camus, seorang filsuf, yang kemudian berpendapat bahwa kehidupan di dunia adalah hal yang “absurd”. Menurut Camus, “absurditas” merujuk pada ketidakmampuan manusia untuk menemukan makna atau tujuan dalam kehidupan, meskipun kita terus mencari makna tersebut.
Camus menekankan pentingnya menerima “absurditas” sebagai bagian integral dari kehidupan manusia. Meskipun kehidupan mungkin “absurd”, kita masih memiliki kebebasan untuk menciptakan makna dan nilai-nilai sendiri dalam menghadapi kenyataan tersebut. Dengan menerima “absurditas”, kita diharapkan dapat menemukan kebebasan dan kebahagiaan dalam menghadapi ketidakpastian dunia.
Jadi, kekerasan fisik dan kekerasan seksual yang terjadi di tempat-tempat yang mulia dan dimuliakan itu, ibarat roda, bisa jadi akan terus menggelinding. Kali ini terjadi di “tempat mulia A”, B, C, kelak, mungkin akan terjadi di “tempat mulia D”, E, dan seterusnya. Ini bagian dari paradoks dan absurditas dalam algoritma kehidupan manusia.
Di sinilah sebetulnya negara harus benar-benar hadir. Negara jangan hanya hadir sebagai “pemadam kebakaran” saja (baru turun tangan setelah ada kejadian). Tapi, terpenting, dengan otoritas, kekuatan dan perangkat yang dipunyai, negara harus lebih intens lagi dalam melakukan pembinaan, kontrol dan pengawasan terhadap “tempat-tempat mulia” yang didalamnya terdapat bibit-bibit bangsa yang menjadi masa depan negeri ini.
Berbagai “kebiadaban” di tempat mulia yang masih terus terjadi, bisa jadi, ini adalah cara Tuhan mengingatkan kepada para pemimpin dan para pejabat di negeri ini. Bahwa pekerjaan rumah (PR) kalian masih banyak dan berat. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah