Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Alun-Alun Kota Kediri dan Peran Leadership

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 20 November 2023 | 17:08 WIB
Catatan Awal Pekan
Catatan Awal Pekan

Alangkah apiknya, jika proyek Alun-Alun Kota Kediri bisa dituntaskan, sebelum masa jabatan Mas Abu (Abdullah Abu Bakar, mantan Wali Kota Kediri) berakhir. Saya sempat membayangkan, proyek Alun-Alun itu menjadi kado untuk warga Kota Kediri, di saat jabatan Mas Abu berakhir. Tapi, itu tidak terjadi. Hingga kini, proyek prestisius bernilai puluhan miliar itu, masih dalam proses pengerjaan. Jika melihat klausul kontraknya, proyek tersebut harus selesai pada bulan depan (Desember). 

Koran ini pernah memberitakan, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Kediri sempat berniat akan memutus kontrak rekanan penggarap proyek Alun-Alun Kota Kediri karena tak bisa memenuhi deadline yang ditetapkan alias dianggap mengalami keterlambatan realisasi fisik. (JPRK, 12/11/23) 

Ini sebenarnya, adalah wujud dari kurang bagusnya planning atau perencanaan. Sebetulnya, ada banyak instrumen yang membantu pekerjaan seorang kepala daerah. Dia punya anak buah, yang tugasnya membuat berbagai perencanaan pembangunan. Sekaligus memastikan, bahwa perencanaan yang dibuat, harus tepat sasaran, dan harus dikerjakan sesuai ketentuan. Kepala daerah juga punya lebih dari satu asisten. Belum lagi staf ahli. Belum lagi kepala dinas-kepala dinas yang lain, yang sifatnya teknis, dan itu semua dalam kendali kepala daerah.

Jadi, dengan berbagai instrumen pendukung itu, sebagai rakyat, rasanya kita sulit untuk menerima ketika ada proyek bernilai puluhan miliar rupiah, kurang sesuai dengan yang diharapkan. Apalagi, dalam perkembangannya, kinerja rekanan yang menggarap proyek itu dianggap kurang perform dan sempat akan diputus kontraknya. “Gimana dulu proses tendernya? Bagaimana dulu pihak Pemkot Kediri menyeleksi rekanan yang menggarap proyek Alun-Alun tersebut? Jangan-jangan track recordnya kurang diperhatikan?” ini deretan pertanyaan yang sangat wajar untuk dikemukakan. 

Jika menjadi Mas Abu (mantan Wali Kota Abdullah Abu Bakar), saya akan merasa kurang nyaman dengan problem terkait proyek Alun-Alun Kota Kediri itu. Proyek itu harusnya tidak ada masalah, dan menjadi kado terakhir yang indah di saat masa jabatannya berakhir. Tapi, proyek itu akhirnya menjadi PR (pekerjaan rumah) yang harus diselesaikan dan dituntaskan oleh Pj (penjabat) wali kota.   

 

Memang tidak mudah menjadi kepala daerah, apalagi di era seperti sekarang ini. Selain harus memenangi pilihan langsung oleh rakyat, juga harus bisa bersinergi secara efektif dengan kalangan legislatif. Apalagi, jika si kepala daerah bukan satu partai dengan Ketua DPRD-nya. Di DPRD, berkumpul para anggota legislatif dari berbagai partai politik. Mereka punya kebebasan untuk mengkritisi, mengawasi, bahkan mengecam kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh kepala daerah.  

Proyek Alun-Alun Kota Kediri, memang sempat menjadi polemik di kalangan legislatif. Yang disoal saat itu salah satunya adalah terkait dengan desain alun-alun. Ada yang menganggap, desain dari Alun-Alun Kota Kediri, kurang mencerminkan budaya dan kearifan lokal masyarakat Kota Kediri. 

Di sinilah pentingnya “leadership”. Leadership merupakan bagian penting dari manajemen, yang membantu mencapai tujuan. Dalam hal ini, yang dimaksud dengan tujuan adalah visi dan misi dari kepala daerah. Mengutip dari managementstudy.com, leadership memiliki enam peran: 

Pertama, memulai inisiasi. Pemimpin harus lah orang yang selalu menginisiasi perubahan. Menginisiasi berbagai kebijakan. Serta mampu mengomunikasikan berbagai inisiasinya itu kepada bawahannya, agar bisa dilaksanakan dengan baik. 

Kedua, memberikan bimbingan. Seorang pemimpin tidak hanya mengawasi. Tapi juga memainkan peran untuk membimbing bawahannya. Bimbingan di sini berarti menginstruksikan pada bawahan, bagaimana cara mereka harus melakukan pekerjaan mereka secara efektif dan efisien.

Ketiga, menciptakan kepercayaan. Sebuah kepemimpinan akan bisa berjalan efektif, jika sang pemimpin legitimate di mata anak buahnya. Syarat utama agar pemimpin legitimate di mata bawahannya, sang pemimpin harus mampu menciptakan kepercayaan. Anak buah harus percaya, bahwa pemimpinnya mampu menyelesaikan masalah. Anak buah harus percaya, bahwa pemimpinnya akan bisa melindungi dan mengayominya. Kepercayaan dari anak buah ini lah yang akan sangat mempengaruhi efektif tidaknya kepemimpinan.  

Keempat, membangun moral. Ini kaitannya dengan attitude (sikap dan perilaku). Attitude yang baik adalah cermin dari moral yang baik. Seorang pemimpin harus mampu membangun moral anak buahnya, agar memiliki moral yang baik. Upaya ini akan berhasil dengan baik, jika sang pemimpin mampu menunjukkan dan memberikan contoh tentang moral yang baik kepada anak buahnya. Dengan moral yang baik itu, diharapkan anak buah mampu tampil dengan kemampuan terbaik saat bekerja. 

Kelima, membangun lingkungan kerja. Lingkungan kerja yang efisien, membantu pertumbuhan yang sehat dan stabil. Oleh karena itu, hubungan antarmanusia harus diperhatikan oleh seorang pemimpin. Dia harus memiliki kontak pribadi dengan karyawan dan harus mendengarkan masalah mereka dan membantu menyelesaikannya. Dia harus memperlakukan karyawan secara manusiawi.  

Keenam, koordinasi. Ini dapat dicapai melalui rekonsiliasi kepentingan pribadi dengan tujuan organisasi. Sinkronisasi ini dapat dicapai melalui koordinasi yang tepat dan efektif yang seharusnya menjadi motif utama seorang pemimpin. Seorang pemimpin, harus jago dalam mengkoordinasikan apa saja yang buntu menjadi tidak buntu. Alias harus selalu punya jalan keluar terbaik.  

Keenam peran dari leadership itu, jika mampu dilakukan oleh seorang pemimpin, maka dia adalah pemimpin ideal. Hampir dipastikan, kepemimpinannya bakal efektif. Program-program kerja yang sudah direncanakan dan ditetapkan, bakal berjalan sesuai dengan target dan harapan. Kalau pun meleset, mungkin tingkat melesetnya tak lebih dari 10 persen. 

Nah, ketika proyek Alun-Alun Kota Kediri sempat bermasalah terkait dengan kinerja rekanan yang menggarapnya, pertanyaannya, apanya yang salah dengan peran leadership dari sang pemimpin? Monggo dijawab sendiri.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#rakyat #walikota kediri #alun alun kota kediri #proyek