Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Agresi dan Kasih Sayang

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 24 Juli 2023 | 18:31 WIB

Catatan Awal Pekan
Catatan Awal Pekan

Perbuatan
yang dilakukan oleh Suprapto alias Totok, pria asal Desa Sambi, Kecamatan Ringinrejo, Kabupaten Kediri ini sungguh biadab. Bahkan, bisa jadi lebih biadab dari hewan. Bagaimana tidak. Dia tega membunuh putri kandungnya sendiri, Desy Lailatul Khoiriyah alias Ela, gadis 20 tahun. Tak cukup hanya itu. Dalam keadaan Ela tak sadarkan diri, Totok tega memperkosanya. Dan begitu Ela sudah tak bernyawa, Totok membuang jasad putrinya itu seperti membuang sampah, dibuang begitu saja di dekat Taman Totok Kerot, Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri.

Peristiwa sadis dan biadab itu terjadi awal Juli lalu (2023). Dan saat ini, Totok sudah diamankan di kantor polisi, setelah polisi berhasil membekuk pria 53 tahun itu dalam pelariannya di Tulungagung.

Pembunuhan adalah termasuk bentuk kejahatan tertua di dunia. Pembunuhan pertama kali di muka bumi ini dilakukan oleh Qobil terhadap Habil. Keduanya adalah putra dari Nabi Adam Alaihissalam (AS). Kisah pembunuhan ini diceritakan di dalam Alquran. Pemicunya adalah rasa iri dan dengki yang menguasai Qobil, sehingga dia sampai tega menghabisi nyawa saudara kandungnya sendiri. 

Dalam perspektif psikologi, tindakan membunuh erat kaitannya dengan kecenderungan agresi pada individu.  Dua profesor di bidang psikologi dari University of Texas di Austin, Amerika Serikat: Arnold H. Buss dan Mark Perry  pernah melakukan penelitian tentang sikap agresi pada individu. Kala itu mereka sangat terkenal dengan “Buss-Perry Aggression Questionnaire”. Pada penelitian yang dilakukan Buss-Perry itu, menunjukkan bahwa perilaku menyakiti orang lain secara fisik seperti yang terjadi pada kasus pembunuhan, menunjukkan adanya kecenderungan agresi yang tinggi.

Menurut Buss dan Perry, sikap agresi adalah kecenderungan perilaku yang berniat untuk menyakiti orang lain, baik secara fisik maupun psikologis untuk mengekspresikan perasaan negatif, sehingga dapat mencapai tujuan yang diinginkan. 

Dilihat dari bentuk perilaku yang ditampilkan, Buss dan Perry beranggapan bahwa sikap agresi dapat dibedakan menjadi empat jenis: Pertama, physical aggression. Yakni agresi yang dilakukan untuk melukai dan menyakiti seseorang secara fisik. Termasuk memukul, menyerang, melukai dan membunuh.

Kedua, verbal aggression. Agresi yang dilakukan dalam bentuk ucapan yang dapat menyakiti atau melukai orang lain. Misalnya, menghina, mengumpat, memaki, mengolok, dan membentak.  Ketiga, anger. Yakni, perasaan tidak senang yang dirasakan oleh seseorang akibat dari reaksi fisik atau pun cedera fisik yang dialami orang tersebut. Misalnya dapat terlihat dari ekspresi wajah marah, tidak membalas sapaan, dan sulit menahan amarah.

Keempat, hostility. Yakni sikap dan perasaan negatif terhadap orang lain yang muncul karena penilaian negatif dari diri sendiri, sebagai hasil dari proses kognitif. Misalnya, iri, memfitnah, dan sebagainya.

Nah, pembunuhan yang dilakukan oleh Totok, dapat dijelaskan dengan teori dari Buss dan Perry. Merujuk pada teori itu, Totok melakukan pembunuhan dilandasi dari adanya perilaku agresi yang tinggi pada dirinya. Yakni, dia berniat menyakiti orang lain, dalam hal ini anak kandungnya sendiri, untuk mengekspresikan perasaan negatifnya, demi mencapai tujuan yang diinginkan. Dari beberapa saksi yang diperiksa polisi, muncul keterangan, bahwa sebetulnya, Totok punya hasrat alias menyukai anak kandungnya itu. Ini lah yang lantas dia lampiaskan melalui tindakan agresinya tersebut. Dan tindakan yang dia lakukan termasuk kategori “physical aggression”, yakni pelampiasan tindakan agresi secara fisik.

Masih merujuk pada teorinya Buss-Perry, bahwa sebetulnya Totok juga korban dari tindakan agresi dari anaknya, Ela. Ini berdasarkan pengakuan Totok ketika diinterogasi polisi. Kepada polisi, Totok mengaku nekad membunuh Ela karena sakit hati. Totok sering disebut sebagai orang yang stress oleh Ela. Totok juga mengaku, putrinya itu juga sering membantah dan berani kepadanya. Tindakan Ela ini, jika merujuk pada teorinya Buss-Perry, termasuk agresi, yakni “verbal aggression”. Yakni tindakan agresi dalam bentuk ucapan yang dapat menyakiti atau melukai perasaan orang lain.

Dan ini yang sering terjadi. Pelaku pembunuhan menjadi kalap, karena dipicu oleh rasa sakit hati yang ditimbulkan oleh korbannya.

Terlepas dari hal itu, ketika manusia membunuh manusia yang lain, sesungguhnya ada yang hilang dalam dirinya: kasih sayang.

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT menciptakan 100 kasih sayang ketika menciptakan langit dan bumi. Satu rahmat (kasih sayang) daripada-Nya seluas langit dan bumi. Lalu Allah turunkan salah satu rahmat itu ke bumi. Dengan itu lah makhluk saling menyanggupi. Dengan itu, ibu mengasihi anaknya. Dengan itu, burung dan binatang buas meneguk air (dari tempat yang sama). Dan dengan itu, seluruh makhluk bisa hidup (berdampingan).”

Ketika seorang ayah bekerja keras, demi menafkahi isteri dan anak-anaknya, maka di dalam diri si ayah itu ada seperseratus rahmat (kasih sayang). Seper seratusrahmat itu diturunkan Allah ke bumi, dan dititipkan kepada diri si ayah itu. 

Dengan seperseratus rahmat itulah, seekor harimau yang buas, tidak akan pernah memangsa anak-anaknya. Bahkan, induk harimau dengan penuh kasih sayang menjilati tengkuk anaknya.

Berbeda dengan binatang, manusia tidak selalu berhasil memelihara fitrah kasih sayangnya. Seperseratus rahmat Allah dalam bentuk rasa kasih sayang yang dititipkan kepada hati nurani manusia sering ditelantarkan. Bahkan dilupakan. Dalam perjalanan hidup, manusia sering melupakan bisikan fitrah yang suci itu. Akibatnya, sering terjadi seorang ibu tega membunuh anaknya. Dan seorang ayah tega membunuh putri kandungnya. Seperti yang dilakukan Totok kepada Ela, anak kandungnya.

Resep yang paling jitu untuk tetap menjaga fitrah berupa seperseratus rahmat dari Allah SWT adalah dengan  menjaga dan meningkatkan kualitas iman dan taqwa. Agak terdengar klise memang. Tapi, ini adalah satu-satunya cara yang ampuh dan jitu. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#catatan #pembunuhan #kasih sayang #agresi