Selama berbulan-bulan, anak Mbak Sri tampak enjoy saja dengan cincin emas yang melingkar di jarinya. Walaupun sebenarnya, dia juga tidak paham tentang cincin emas itu. Karena sang anak lebih fokus belajar berlari daripada pamer cincin emas ke teman sebayanya.
Petaka akhirnya muncul di malam hari. Jari anak Mbak Sri cekot-cekot. Akibatnya, sang anak tak bisa tidur. Rewel. Mbak Sri mencoba mencari tahu penyebab anaknya rewel. Beberapa kali ditanya, sang anak akhirnya mengeluhkan jari manisnya. Di sana, ada cincin melingkar. Ternyata jari manis anak cewek itu bengkak.
Mbak Sri mencoba melepas cincin emas. Usahanya tidak berhasil. Cincin sepertinya sulit lepas dari jari manis. Karena ukuran jari lebih besar dari cincin. Maklum, saat Mbak Sri membeli cincin, sang anak masih berumur setahun. Sehingga, jarinya masih kecil. Seiring bertambahnya usia, jari anak juga semakin besar. Akibatnya, jari menjadi bengkak karena cincin tak bisa lepas. “Aliran darahnya mungkin tidak lancar,” ujar Mbak Sri.
Semalaman, Mbak Sri tidak tidur. Karena anaknya rewel. Dia bingung mau dibawa berobat ke mana sang anak. Karena masalah cincin itu bukan penyakit. Beruntung, Mbak Sri akhirnya mengetahui jika ada Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kabupaten Nganjuk.
Keesokan harinya, sang anak dibawa ke damkarmat. Di sana, dia akhirnya ditolong. Cincin emas di jarinya dilepas. Anak kembali tersenyum. Mbak Sri juga mesam-mesem saat petugas memperingatkan agar anak untuk tidak memakai perhiasan. Karena keselamatan anak menjadi taruhannya. Banyak, orang jahat yang akan mengincar perhiasan yang dipakai anak. “Tidak pakai cincin emas lagi biar aman,” ujar Mbak Sri. Editor : Anwar Bahar Basalamah