Mendengar Boscu merintih kesakitan, Mbak Sri, istrinya tidak tega. Dia mengajak suaminya berobat ke dokter. "Ayo ke dokter iya," ajak Mbak Sri.
Namun, Boscu ini sangat takut dengan jarum suntik. Meski badannya besar dan ototnya kekar tetapi jika berurusan dengan jarum, nyaline langsung ciut. Karena itu, Boscu langsung menolak ajakan Mbak Sri berobat ke dokter. "Tidak mau," teriak Boscu.
Entah mengapa, Boscu lebih sreg berobat ke dukun. Karena itu, dia mendatangi dukun asal Caruban.
Setelah bertemu sang dukun, Boscu langsung dipegang tangannya. Mulut sang dukun komat-kamit membaca mantra. Tiba-tiba, sang dukun mengatakan jika ada dedemit di tangan kanan Boscu.
Untuk menghilangkan dedemit itu, Boscu harus ke rumah dedemit. Tempatnya di Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan.
Mendengar hal itu, Boscu percaya saja. Dia sama sekali tidak curiga. Seketika Boscu mau diajak sang dukun ke Sawahan. Mereka mengendarai sepeda motor Honda Beat milik Boscu.
Saat di perjalanan, sang dukun meminta Boscu berhenti. Dia menyuruh Boscu untuk salat di masjid yang berada di Kelurahan Kedondong, Kecamatan Bagor. Namun, sebelum salat, Boscu harus mandi keramas. Tanpa curiga, Boscu lagi-lagi menurut saja.
Dia mandi keramas.
Saat mandi itulah, Boscu tidak menyadari jika sang dukun mempunyai niat jahat. Handphone dan dompet Boscu diambil. Kemudian, sepeda motor Honda Beat Boscu dibawa kabur.
Saat Boscu selesai mandi, dia kaget. Sang dukun sudah menghilang. Sepeda motor, dompet dan handphone miliknya juga lenyap. "Woalah dukun gandungan," ujar Boscu menyesal.
Tak terima dengan perbuatan dukun gadungan, Boscu memilih menempuh jalur hukum. Dia melapor ke Polres Nganjuk. "Saya mau dia ditangkap dan dipenjara," pinta Boscu kepada polisi. Editor : Anwar Bahar Basalamah